Terbakar Jingga

Cerita Gue

Ada dua alasan yang seharusnya membuat Felly membenci Yovie, yang pertama Yovie merokok, dan yang kedua Yovie tidak pernah melihatnya, maksudnya dalam arti lain, seperti tidak pernah memperhatikan keberadaannya. Tapi hanya cukup satu alasan yang membuat Felly tidak dapat membencinya, yaitu karena dia mencintainya.

“Kamu tahu kenapa aku menyukai rokok?” Yovie berkata sambil berjalan.

“Umm…” Felly menggumam, matanya lurus ke bawah memperhatikan konblok yang ia jejaki.

“Hey, Felly…” Yovie menyenggol lengan Felly dengan sikunya, “kamu dengar?”

“Hah,” Felly terkejut, lalu menoleh ke arahnya, dan ia baru menyadari kalau Yovie sedang merokok, “hey! Sejak kapan kamu mulai merokok?!”

“Sejak… entahlah, aku pun tidak ingat jelas.”

“Tidak baik untuk kesehatan, buang!” perintah Felly sambil berusaha mengambil rokok dari mulut Yovie. Namun Yovie mengelak dan menghisap rokok yang baranya sudah mendekati bibirnya, lalu menghebuskan asapnya dengan lembut ke udara malam yang sangat dingin. Felly merengut dan memasukkan tangannya ke saku celana.

“Merokok membuatku teringat seseorang.” Ujar Yovie sambil menjatuhkan puntung rokok dan menginjaknya dengan ujung sepatu.

“Siapa?”

Yovie membisu.

Iklan

Tugas Besar Dari Ibu

Cerita Gue

Roemah Kita – warung remang-remang – malam itu tidak terlalu ramai, bahkan cenderung sepi. Perempuan lain sudah mulai berbenah diri untuk segera tidur, namun tidak dengan Liana, ia duduk di kasur sambil memutar-mutar gincu merahnya dengan suntuk. Wajahnya masih cantik dilapisi bedak tipis dan sedikit blush on di pipi. Ia sedang menunggu seseorang, Bang Legok. Belakangan ini ia sering berhubungan dengan Bang Legok di dalam maupun di luar Roemah Kita.

Apel yang jatuh jauh hingga ke kebun mangga pun tidak akan pernah menjadi mangga. Seperti itulah Liana menemukan dirinya tak beda dari Ibunya dahulu. Sama-sama melacur dan sama-sama jatuh cinta. Liana jatuh cinta kepada Bang Legok, Sopir truk yang ia kenal ketika turut mengangkutnya pergi ke pasar pada suatu pagi.

Pencari Kebahagiaan

Cerita Gue, Fiksi

Tak ada yang
lebih lembut
dari tatapanmu,
bahkan
anginpun kalah.

Tak ada lain yang
lebih meneduhkan
dibanding satu
senyumanmu,
bahkan
mataharipun tak
sanggup melawan.

Kau kedua yang
aku yakini
setelah yang
pertama adalah
Tuhan.

Kepintaranmu
tertera pada
setiap denting
suara yang kau
lantun.

Seputih sayap
bidadari lakumu
indah tak
tercela.

Kau terpuji di
hatiku.
Tempat aku
menyimpan
segala hal
dengan baik.

Andai mampu
kutengok lebih
dalam pada
hatimu.

Sediakah
kuambil cinta
pertama untuk
kubuai dan
kucumbu?

Jika boleh?
Dengan segera
dan tanpa
seizinmu aku akan
berhenti mencari
kebahagiaan di
tempat lain.
Sebab.
Kau sudah lebih
dari segala.
_____________

August ’16, Tangerang

Lelaki yang Patah Hati

Cerita Gue

pijar rizky adhitya

Beberapa hari terakhir ini Iman terus memikirkan seorang wanita. Mengingat tentang apa yang mereka lakukan beberapa bulan lalu.Ketika itu, sang wanita datang kepadanya untuk memesan sebuah lukisan wajah, Iman bertanya tentang bagaimana wanita itu tahu kalau ia menjual jasa melukis wajah. Dan wanita itu bilang dengan bibir tersenyum, “dari teman sekelasmu sewaktu kuliah.”

Iman berpikir sejenak, siapa yang dimaksud dengan temanku sewaktu kuliah itu? Wanita itu melanjutkan, “Riani.” Ya, Iman mengingatnya sedikit, ia tak perlu mengingat terlalu banyak, ia takut kepalanya akan sakit kalau terlalu jauh berpikir, dan yang terpenting, saat itu ia tengah berhadapan dengan wanita cantik yang nantinya akan ia sebut dengan Nona Ranum.

Lihat pos aslinya 939 kata lagi

Lelaki yang Patah Hati

Cerita Gue

Beberapa hari terakhir ini Iman terus memikirkan seorang wanita. Mengingat tentang apa yang mereka lakukan beberapa bulan lalu.Ketika itu, sang wanita datang kepadanya untuk memesan sebuah lukisan wajah, Iman bertanya tentang bagaimana wanita itu tahu kalau ia menjual jasa melukis wajah. Dan wanita itu bilang dengan bibir tersenyum, “dari teman sekelasmu sewaktu kuliah.”

Iman berpikir sejenak, siapa yang dimaksud dengan temanku sewaktu kuliah itu? Wanita itu melanjutkan, “Riani.” Ya, Iman mengingatnya sedikit, ia tak perlu mengingat terlalu banyak, ia takut kepalanya akan sakit kalau terlalu jauh berpikir, dan yang terpenting, saat itu ia tengah berhadapan dengan wanita cantik yang nantinya akan ia sebut dengan Nona Ranum.