Pelangi di Atap Rumah

Cerita Gue

Malam itu hujan turun bagai surai gaun yang begitu tipis. Ridwan berjongkok di bawah gubug memandang langit, mencium aroma basah, dan mendengar suara air hujan yang jatuh. Baginya suara air hujan layaknya suara nyanyian kepedihan, elegi penuh duka dan makna mendalam.

***

Ridwan keluar rumah dengan pelepah daun pisang yang ia gunakan sebagai penutup kepala menggantikan payung. Seorang tetangga bertanya dari teras rumahnya.

“Mau ke mana kau, Ridwan?”

“Ke atas bukit.”

“Untuk apa? Hujan-hujan begini?”

“Mencari pelangi.”

“Desa kita tidak punya pelangi, Ridwan!”

Banyak yang mengira dirinya menjadi gila setelah kehilangan kedua orang tuanya. Sebab setiap pagi ia akan pergi lalu berkata kepada tetangganya, “aku ingin mencari pelangi.” Dan pulang pada sore hari dengan tampang kusut, juga tanpa pelangi di sakunya.

Iklan

Terbakar Jingga

Cerita Gue

Ada dua alasan yang seharusnya membuat Felly membenci Yovie, yang pertama Yovie merokok, dan yang kedua Yovie tidak pernah melihatnya, maksudnya dalam arti lain, seperti tidak pernah memperhatikan keberadaannya. Tapi hanya cukup satu alasan yang membuat Felly tidak dapat membencinya, yaitu karena dia mencintainya.

“Kamu tahu kenapa aku menyukai rokok?” Yovie berkata sambil berjalan.

“Umm…” Felly menggumam, matanya lurus ke bawah memperhatikan konblok yang ia jejaki.

“Hey, Felly…” Yovie menyenggol lengan Felly dengan sikunya, “kamu dengar?”

“Hah,” Felly terkejut, lalu menoleh ke arahnya, dan ia baru menyadari kalau Yovie sedang merokok, “hey! Sejak kapan kamu mulai merokok?!”

“Sejak… entahlah, aku pun tidak ingat jelas.”

“Tidak baik untuk kesehatan, buang!” perintah Felly sambil berusaha mengambil rokok dari mulut Yovie. Namun Yovie mengelak dan menghisap rokok yang baranya sudah mendekati bibirnya, lalu menghebuskan asapnya dengan lembut ke udara malam yang sangat dingin. Felly merengut dan memasukkan tangannya ke saku celana.

“Merokok membuatku teringat seseorang.” Ujar Yovie sambil menjatuhkan puntung rokok dan menginjaknya dengan ujung sepatu.

“Siapa?”

Yovie membisu.

Tugas Besar Dari Ibu

Cerita Gue

Roemah Kita – warung remang-remang – malam itu tidak terlalu ramai, bahkan cenderung sepi. Perempuan lain sudah mulai berbenah diri untuk segera tidur, namun tidak dengan Liana, ia duduk di kasur sambil memutar-mutar gincu merahnya dengan suntuk. Wajahnya masih cantik dilapisi bedak tipis dan sedikit blush on di pipi. Ia sedang menunggu seseorang, Bang Legok. Belakangan ini ia sering berhubungan dengan Bang Legok di dalam maupun di luar Roemah Kita.

Apel yang jatuh jauh hingga ke kebun mangga pun tidak akan pernah menjadi mangga. Seperti itulah Liana menemukan dirinya tak beda dari Ibunya dahulu. Sama-sama melacur dan sama-sama jatuh cinta. Liana jatuh cinta kepada Bang Legok, Sopir truk yang ia kenal ketika turut mengangkutnya pergi ke pasar pada suatu pagi.

Lelaki yang Patah Hati

Cerita Gue

pijar rizky adhitya

Beberapa hari terakhir ini Iman terus memikirkan seorang wanita. Mengingat tentang apa yang mereka lakukan beberapa bulan lalu.Ketika itu, sang wanita datang kepadanya untuk memesan sebuah lukisan wajah, Iman bertanya tentang bagaimana wanita itu tahu kalau ia menjual jasa melukis wajah. Dan wanita itu bilang dengan bibir tersenyum, “dari teman sekelasmu sewaktu kuliah.”

Iman berpikir sejenak, siapa yang dimaksud dengan temanku sewaktu kuliah itu? Wanita itu melanjutkan, “Riani.” Ya, Iman mengingatnya sedikit, ia tak perlu mengingat terlalu banyak, ia takut kepalanya akan sakit kalau terlalu jauh berpikir, dan yang terpenting, saat itu ia tengah berhadapan dengan wanita cantik yang nantinya akan ia sebut dengan Nona Ranum.

Lihat pos aslinya 939 kata lagi

Tumbuh

Cerita Gue, Fiksi

Seperti biasa, aku bersama sebuah Pena berinisiatif mengambil selembar kertas gambar. Aku sedang ingin corat-coret, dan sang Pena sedang ingin menciptakan kenangan dengan tintanya.

sang Pena mulai menari-nari di atas kertas gambar, itu adalah tempat yang paling ia sukai, pun bagiku. Bersama kami menghasilkan sebuah coretan, yang bermula dengan mata, hidung, bibir, kemudian jadilah ia seorang gadis dengan kaki menyerupai akar pohon.

Sekejap, gadis itu berbicara kepadaku, “bagaimanapun kita ini manusia, selalu tumbuh dari hari ke hari.” begitulah ucap gadis berambut hijau yang mengenakan dres bergaris violet-hitam kepadaku.

Dengan sebuah ceret berwarna merah muda di sebelah tangannya ia menatapku dengan senyum, lalu berkata kemudian, “namun, tak cukup jika hanya tumbuh. Di setiap kita harus memiliki arti, arti bagi yang lain. Saling menjaga, agar dapat tumbuh, kemudian kita dapat hidup. bukan sekedar hidup belaka. Yakni kehidupan.”

***