BALADA SI PEMUDAH JATUH CINTA

Uncategorized

Setelah perjalan cinta gue yang begitu hina dan penuh penolakan di mana-mana, akhirnya gue dapat menyimpulkan semua kisah yang telah terjadi.

Kesimpulan dari semua kisah cinta gue yang selalu tersuckitty (tersakiti):

1. Cewek itu gak bisa kosong, maksudnya selalu ada seseorang di belakang kita yang sedang PDKT-in dia, artinya gak cuma kita yang deketin dia. Gue anggap cowok-cowok udah ngerti.

2. Sebaiknya jangan menyukai cewek populer kecuali kita juga populer, ya kali cewek cakep mao sama cowok culun kayak elo. Iya elo! Gak nyadar.

3. Jangan terpancing kalimat “kita jalani dulu ya,” karena siapapun dia, cowok atau cewek kalau sudah bilang begitu pasti bakal belok. Awalnya lo jalan berdua, tapi pas sampe pertigaan (baca postingannya yaaa)

pijar rizky adhitya

Cinta. Semua orang pasti pernah jatuh cinta, pernah patah cinta dan pernah nangisin cinta. Ini bukan soal seberapa cengengnya kita nangisin cinta! Tapi ini tentang gue yang hampir setiap bulan jatuh cinta dan setiap bulan itulah gue ditolak cewek yang gue taksir.

Gue sebagai cowok yang gampang jatuh cinta sejatinya masih ingat ketika ditolak empat cewek di tiga bulan terakhir.

Lihat pos aslinya 711 kata lagi

Iklan

Penari Bulan

Cerita Gue, Uncategorized

Selesai shalat subuh berjamaah di Surau, Kyai Husein bersama dua orang jamaah remaja berjalan melintasi kebun bambu dan mendengar suara tangisan bayi. Mereka berhenti dan saling memandang satu sama lain seolah berkata, apa ada yang mendengar suara tangis bayi?

Jadi mereka berjalan ke arah pohon bambu yang tinggi dan cabangnya melengkung seperti joran pancing yang umpannya tengah digigit ikan besar. Mereka kesulitan mencari karena senter yang dibawa salah satu remaja kehabisan baterai, sementara langit belum terlalu terang. Namun mereka terus mencari hanya dengan mengandalkan cahaya matahari yang belum sepenuhnya muncul dan membuat pemandangan sekitar terlihat abu-abu.

Kyai Husein menunjuk ke salah satu pohon, dan mereka melihat sebuah kardus dengan bercak hitam yang sepertinya itu adalah darah tengah bergerak-gerak di antara batang-batang bambu yang malang-melintang. Ia meminta kedua remaja mengeluarkan kardus itu. Dengan segera Kyai Husein membuka kardus dan mendapati seorang bayi yang masih merah dengan balutan kain yang sudah terlepas berusaha bernapas dengan susah payah.

Kyai Husein tanpa ragu mengangkat bayi itu, diletakkannya di dada dengan kehangatan seorang ayah yang sedang menggendong anak pertamanya. Ia tidak memikirkan darah yang mengotori gamisnya yang putih bersih. Sejenak, ia perhatikan bayi itu bukanlah bayi yang masih merah, namun kulit bayi itu memanglah hitam dan dari sela-sela pangkal kakinya, ia tahu, bayi itu perempuan.