Pencari Kebahagiaan

Cerita Gue, Fiksi

Tak ada yang
lebih lembut
dari tatapanmu,
bahkan
anginpun kalah.

Tak ada lain yang
lebih meneduhkan
dibanding satu
senyumanmu,
bahkan
mataharipun tak
sanggup melawan.

Kau kedua yang
aku yakini
setelah yang
pertama adalah
Tuhan.

Kepintaranmu
tertera pada
setiap denting
suara yang kau
lantun.

Seputih sayap
bidadari lakumu
indah tak
tercela.

Kau terpuji di
hatiku.
Tempat aku
menyimpan
segala hal
dengan baik.

Andai mampu
kutengok lebih
dalam pada
hatimu.

Sediakah
kuambil cinta
pertama untuk
kubuai dan
kucumbu?

Jika boleh?
Dengan segera
dan tanpa
seizinmu aku akan
berhenti mencari
kebahagiaan di
tempat lain.
Sebab.
Kau sudah lebih
dari segala.
_____________

August ’16, Tangerang

Iklan

Tumbuh

Cerita Gue, Fiksi

Seperti biasa, aku bersama sebuah Pena berinisiatif mengambil selembar kertas gambar. Aku sedang ingin corat-coret, dan sang Pena sedang ingin menciptakan kenangan dengan tintanya.

sang Pena mulai menari-nari di atas kertas gambar, itu adalah tempat yang paling ia sukai, pun bagiku. Bersama kami menghasilkan sebuah coretan, yang bermula dengan mata, hidung, bibir, kemudian jadilah ia seorang gadis dengan kaki menyerupai akar pohon.

Sekejap, gadis itu berbicara kepadaku, “bagaimanapun kita ini manusia, selalu tumbuh dari hari ke hari.” begitulah ucap gadis berambut hijau yang mengenakan dres bergaris violet-hitam kepadaku.

Dengan sebuah ceret berwarna merah muda di sebelah tangannya ia menatapku dengan senyum, lalu berkata kemudian, “namun, tak cukup jika hanya tumbuh. Di setiap kita harus memiliki arti, arti bagi yang lain. Saling menjaga, agar dapat tumbuh, kemudian kita dapat hidup. bukan sekedar hidup belaka. Yakni kehidupan.”

***

 

Cappucino Cinta

Cerita Gue, Fiksi

Di CafeNista.

Saya masuk dan berjalan menuju meja yang sebelumnya sudah saya pesan. Malam ini Cafe tidak terlalu ramai, lumayan lah untuk acara nge-date pertama saya dengan Disha. Ya, ini pertama kalinya saya dan Disha bertemu. Sebelumnya, Disha adalah teman curhat yang saya kenal di Yahoo Messenger.

Disha anaknya cantik, baik, perhatian dan yang bikin saya berani untuk mengajaknya bertemu adalah karena dia sudah bisa membuat saya Move On dari Riri.

“Piyo, kan?” tanya Disha.

Seketika saya kaget, karena dari tadi saya bengong dan pikiran saya berkeliaran ke mana-mana.

Untuk kedua kalinya saya kembali bengong karena alasan yang lain, “Gile! Ternyata Disha suaranya empuk banget!” batin saya.

Seharusnya Cinta Mampu Mengalahkan Jarak

Cerita Gue, Fiksi

1

Aku sering memainkan gitar dan bernyanyi di tempat ini, ruang dengan luas 4×6 meter persegi yang aku sulap menjadi panggung super megah hanya dalam hitungan detik. Dari sini, dari atas panggung, aku menyalami para gadis-gadis yang meneriakkan namaku. Tapi sekali lagi, semua itu hanya bisa aku lakukan di sini, di dalam kamarku. Sebenarnya, aku tidak bisa bermain gitar, suaraku juga tidak terlalu bagus, atau lebih tepatnya memang tidak bagus. Tidak jarang Ibuku sering protes ketika aku mulai bernyanyi.

Aku juga sangat menyukai Fotografi, hobi yang menurutku paling menguras energi, betapa tidak, karena dalam memotret aku harus bertaruh dengan momment ataupun komposisi yang ada. Aku lebih suka memotret landscape atau journal. Aku tidak suka memotret model setengah bugil yang mematung menuruti apa perintahku. Aku juga sangat mahir menggoreskan kuas di atas kanvas, melukis apapun yang terekam oleh memori otakku. Tapi aku lebih senang melukis wajah. Sebagian dinding kamarku penuh dengan lukisan wajah orang-orang dengan bermacam-macam ekspresi, mereka terabadikan disini. Disebagian sisi lainnya kutempelkan beberapa hasil fotoku yang menurutku, tentu tidak terlalu buruk.

Sesaat kemudian aku memandang Sang Dinding. Dan aku kaget setengah mati mendengar gema dinding yang menghasilkan suara semacam, berondongan pertanyaan.

“Lukisan sebanyak ini, mau diapakan?” tanya Sang Dinding yang membuat bulu tengkukku merinding.

“Tentu saja, untuk dinikmati!” dengan lantang aku bersuara.

“Siapa yang menikmati?” ia kembali bertanya.

“Aku!”

“Lalu?”

“Apa?!”

“Foto-foto itu?”

“Untuk diabadikan, tentu saja!” sahutku.

“Saya tersakiti dengan paku-paku ini!”

“Lalu mau bagaimana?”

“Lepaskan mereka, Tuan!” pinta Sang Dinding.

“Tidak! lalu apa gunamu?!” aku memaki dan memukul Dinding kamar, Arrghh! Sakit, batinku. Lagipula bagaimana bisa kau tersakiti? Kau begitu tebal, kau begitu dingin, kau begitu tinggi dan kokoh. Mustahil bisa menembus dan melukaimu.