Tegur Sapa

Cerita Gue

“Dari beberapa lelaki yang menidurimu, mengapa kau memilih aku sebagai ayah anak ini?”

“Entahlah, aku hanya merasa bahwa kaulah yang berhak atas tanggung jawab ini.”

Mereka berdua terdiam, Rudi Kempot dan Mariyam. Sepanjang petang mereka membicarakan perkara siapa ayah dari calon anak yang dikandung Mariyam. Calon anak yang bahkan tidak memiliki masa depan.

“Anak celaka!” Rudi Kempot mengumpat.

“Prasangka seorang ibu tidak pernah keliru, Kang.” Mariyam mengelus-elus perutnya yang belum terlihat buncit.

Iklan

Pelangi di Atap Rumah

Cerita Gue

Malam itu hujan turun bagai surai gaun yang begitu tipis. Ridwan berjongkok di bawah gubug memandang langit, mencium aroma basah, dan mendengar suara air hujan yang jatuh. Baginya suara air hujan layaknya suara nyanyian kepedihan, elegi penuh duka dan makna mendalam.

***

Ridwan keluar rumah dengan pelepah daun pisang yang ia gunakan sebagai penutup kepala menggantikan payung. Seorang tetangga bertanya dari teras rumahnya.

“Mau ke mana kau, Ridwan?”

“Ke atas bukit.”

“Untuk apa? Hujan-hujan begini?”

“Mencari pelangi.”

“Desa kita tidak punya pelangi, Ridwan!”

Banyak yang mengira dirinya menjadi gila setelah kehilangan kedua orang tuanya. Sebab setiap pagi ia akan pergi lalu berkata kepada tetangganya, “aku ingin mencari pelangi.” Dan pulang pada sore hari dengan tampang kusut, juga tanpa pelangi di sakunya.