Terbakar Jingga

Cerita Gue

Ada dua alasan yang seharusnya membuat Felly membenci Yovie, yang pertama Yovie merokok, dan yang kedua Yovie tidak pernah melihatnya, maksudnya dalam arti lain, seperti tidak pernah memperhatikan keberadaannya. Tapi hanya cukup satu alasan yang membuat Felly tidak dapat membencinya, yaitu karena dia mencintainya.

“Kamu tahu kenapa aku menyukai rokok?” Yovie berkata sambil berjalan.

“Umm…” Felly menggumam, matanya lurus ke bawah memperhatikan konblok yang ia jejaki.

“Hey, Felly…” Yovie menyenggol lengan Felly dengan sikunya, “kamu dengar?”

“Hah,” Felly terkejut, lalu menoleh ke arahnya, dan ia baru menyadari kalau Yovie sedang merokok, “hey! Sejak kapan kamu mulai merokok?!”

“Sejak… entahlah, aku pun tidak ingat jelas.”

“Tidak baik untuk kesehatan, buang!” perintah Felly sambil berusaha mengambil rokok dari mulut Yovie. Namun Yovie mengelak dan menghisap rokok yang baranya sudah mendekati bibirnya, lalu menghebuskan asapnya dengan lembut ke udara malam yang sangat dingin. Felly merengut dan memasukkan tangannya ke saku celana.

“Merokok membuatku teringat seseorang.” Ujar Yovie sambil menjatuhkan puntung rokok dan menginjaknya dengan ujung sepatu.

“Siapa?”

Yovie membisu.

Tidak terasa rumah Felly sudah berada 10 meter di depan mereka. Felly tengadah ke langit, sepertinya semesta sedang tidak berpihak kepada mereka. Guntur menggelegar dari balik awan hitam yang menggelayut. Mereka berjalan sedikit lebih cepat. Seketika hujan pun turun dengan derasnya, Felly dan Yovie berlari secepat mungkin, Felly terpeleset dan hampir terjatuh, beruntung tangan Yovie berhasil meraihnya.

***

Mereka sampai di teras depan rumah. Felly bersyukur karena pakaiannya tidak terlalu basah. Yovie langsung duduk di bangku kayu dan menyulutkan sebatang rokok yang baru dia ambil dari kotaknya. Felly duduk di bangku sebelahnya.

“Lanjutkan yang tadi.” Kata Felly antusias.

“Apa?” Yovie mengangkat bahunya seolah tidak tahu apa-apa.

“Siapa orang yang kamu ingat itu, Yov?”

Yovie menghisap rokok, mendongak ke atas, kemudian mengembuskan asapnya dengan pelan, pandangannya jauh menatap langit yang hitam.

“Audy…” kata Yovie datar.

“Audy lagi?” Felly diam sebentar, “Hey, kamu selalu menyebut nama itu saat sedang bersamaku, tapi kamu tidak pernah menceritakan siapa dia sebenarnya. Kamu selalu mengatakan bahwa dia adalah orang yang paling kamu cintai. Selama tiga tahun kita berteman kamu tidak pernah lupa menyebut nama itu di hadapanku. Aku merasa cemburu dan aku rasa tidak adil jika aku tidak tahu apa-apa tentangnya?!”

“Sebaiknya kamu ambilkan aku minum.” Kata Yovie.

Tanpa menjawab Felly membuka kunci pintu dan masuk ke dalam rumah kemudian langsung menuju ke dapur. Di atas penanak nasi terdapat secarik kertas yang bertuliskan ‘kami keluar sebentar, jangan lupa kunci pintu, kami membawa kunci cadangan.’ Felly keluar dengan membawa dua gelas kopi dan meletakkannya di atas meja. Yovie langsung menyesap kopi itu dengan perlahan. Felly duduk dan termangu.

“Kamu tidak minum?”

“Gampang lah.” Lalu Felly berdiri dan berjalan ke ujung teras. Yovie melangkah mendekatinya, lalu memberikan kopi. Felly meminumnya dengan nikmat. Yovie mengambil gelas itu dan meletakkannya kembali di meja. Felly menjulurkan tangannya ke air hujan yang mengucur dari genting. Dia diam di sana untuk beberapa saat. Yove berjalan kembali dan berdiri di sebelah Felly, lalu melakukan hal yang sama seperti Felly.

“Kamu mau dengar?” tanya Yovie tanpa menoleh.

“Sebaiknya aku tahu.” Balas Felly pelan.

Yovie menarik dan mengeringkan tangannya dengan kaus berwarna jingga gelap yang dikenakannya. Di tangan yang lain, di antara telunjuk dan jari tengahnya terjepit sebatang rokok yang ia nyalakan tadi. Perlahan ia bawa rokok itu mendekati bibir, ia hisap, dan… fhhuuuhhh… mengepul asap putih lurus 30 senti di depan wajahnya.

“Kamu lihat ini?” Yovie menunjuk ujung rokoknya.

“Iya, terlihat jelas.”

“Apa yang kamu lihat?”

“Bara dan asap.” Jawab Felly enteng.

“Bukan, selain itu?!”

“Tidak ada.” Felly terlihat bingung.

“Perhatikan dengan benar, Fel!”

Felly memusatkan konsentrasi ke ujung rokok itu. Ia hanya melihat apa yang tadi dilihatnya. Asap, bara, dan jari Yovie yang gemetar. Selain itu, ia tidak melihat apa-apa lagi.

“Tidak ada, ih!”

“Aku bercanda, Fel. Memang tidak ada apa-apa selain apa yang kamu lihat barusan.” Yovie sedikit tertawa.

Felly memukul bahu Yovie pelan, “memangnya kamu pikir kamu itu lucu? Jadi pelawak saja kalau begitu!”

“Hey, sensitif sekali sih! Oke… baiklah, aku akan mulai menceritakan apa penyebab aku menyukai rokok. Pertama-tama, ini memang rokok biasa, kamu lihat merknya? Marlboro. Tapi menjadi tidak biasa ketika rokok ini menyala. Kamu tahu, aku seperti sedikit mendapat penglihatan masa lalu.”

“Wah, hebat sekali? Benar begitu?”

“Tentu saja tidak, itu hanya istilahku saja,” Yovie terkekeh, “Jadi, rokok ini kadang-kadang membuatku mengingat adegan lima tahun lalu saat sedang bersama Audy, waktu itu, kami membuat rumah pohon di pekarangan rumahnya.” Yovie menyentil pelan dan menjatuhkan abu yang sudah memanjang pada ujung rokoknya.

“Setiap sore, di atas rumah pohon itu kami menikmati senja yang berpendar mengelilingi langit. Aku ingat. Kami sering konser di situ, aku memetik gitar, memainkan musik-musik yang santai, sesuai suasana waktu itu. Audy yang menyanyi. Suaranya merdu bukan main. Kadang aku pun masih sering mendengar suara Audy jika sedang sendirian.” Sambungnya.

“Loh, sudah tidak pernah bertemu lagi ya?”

“Ya.” Yovie menerawang jauh ke kegelapan lagit, “kurasa tidak akan pernah.”

“Maksudmu?” Felly mengangkat salah satu alis dan mengerutkan dahinya.

“Dia sama sepertimu. Tidak menyukai rokok. Itulah kenapa aku suka bepergian bersamamu dan bercerita kepadamu,” Yovie menggaruk ujung hidungnya dengan jari kelingking.”

“Lalu kenapa kamu masih merokok?”

“Bukannya sudah aku jelaskan tadi? Aku takut jika aku berhenti merokok lalu tiba-tiba ingatan tentang Audy yang hanya sedikit itu hilang.” Yovie menoleh ke arah Felly, lalu memutarnya kembali ke posisi semula, “Kamu tahu, aku tidak dapat mengingat apa-apa tentang Audy selain memori itu. Tentang rumah pohon kami. Kadang hanya teringat sebagian, misalnya hanya sampai kami naik ke atas rumah pohon itu lalu bernyanyi. Adegan sebelumnya aku tidak ingat, hanya bagian itu saja yang melekat jelas. Lalu hampir setiap aku menghisap rokok berkelebat sedikit demi sedikit cerita sebelum dan sesudahnya, seolah melengkapinya.”

Yovie menghisap rokoknya lagi, kali ini ia menghembuskannya dengan sedikit tenaga, Felly masih belum memahami tentang apa yang baru saja ia dengar. Tetapi Felly masih penasaran tentang Audy, jadi ia menanyakanya lagi.

“Sekarang di mana Audy?”

Yovie diam, masih tersisa kepulan asap di atas wajahnya. “Ah!!! Aku baru teringat sesuatu yang baru, Fel.”

“Bagaimana?” Felly berusaha menyakinkan diri, karena mungkin saja pendengarannya sedang tidak baik.

Yovie memejamkan mata lalu mulai mengucapkan kalimat-kalimat yang hanya sepotong-sepotong. Sore hari yang merah, matahari tenggelam, pohon itu hangus, rating terbakar, bau daging gosong, senja, jerit, rokokku, asap hitam. Itu yang diucapkannya. Lalu Yovie membuka matanya dan berkata pelan.

“Kamu mau tahu bagaimana Audy mati?” Yovie menatap Felly dengan nanar.

“M-mati? Maksud kamu?” suara Felly terdengar parau.

“Iya, Audy sudah mati.” Suara Yovie sedikit gemetar, “baru saja aku teringat bagaimana caranya mati. Saat terakhir rokok ini kuhisap dan kupejamkan mata, kelebatan-kelebatan sebelumnya seketika menjadi jelas. Dan aku mengingat semuanya. Semuanya.”

“Apa kamu merasa sedih? Jika iya aku benar-benar menyesal telah menanyakan hal ini.”

“Tidak perlu menyesal. Lagi pula ada yang aneh dengan kematiannya,” Yovie membuang jauh rokok dari tangannya.

“Maksudmu bagaimana? Aku benar-benar bingung.”

“Aku sudah ingat semua, jadi aku akan ceritakan kebenarannya. Hari itu, sejak pagi aku dan Audy sibuk membangun rumah pohon di pekarangan rumahnya. Tidak seperti biasanya, hari itu Audy tidak terlihat ceria. Aku pikir dia sedang sakit, ketika kutanyakan apakah dia sakit, Audy hanya menjawab, ‘anginnya kencang ya.’.”

“Jawaban yang aneh menurutku.”

“Dia memang tidak bisa ditebak.”

“Lalu bagaimana?” Felly bertanya dengan hati-hati.

“Lalu setelah selesai, kami pun bernyanyi, bercerita hingga sore. Seperti biasa aku yang banyak bicara, dan Audy hanya menanggapinya dengan kata-kata ‘Ya?’,’Oh ya?’, ‘Benarkah? Bagus kalau begitu’, atau dia hanya tersenyum saja.” Yovie berhenti bicara sebentar, menarik napas panjang, kemudian melanjutkan, “kami duduk bersebelahan di atas sana. Aku merapatkan bahuku dan kurangkul bahunya yang mungil. Perlahan ia merebahkan kepalanya di pundakku. Kutatap matanya yang sedang menikmati senja. Terpantul bulatan matahari di matanya yang kecokelatan, ia mengedipkan matanya dengan anggun. Matahari masih ada di sana. Teduh sekali, aku sangat nyaman dengannya saat itu. Angin pun berlalu lintas di telinga kami. Kudekatkan wajahku padanya, kukecup keningnya dan kukatakan bahwa aku mencintainya. Lalu, setelah itu…”

Pendengaran Felly terganggu oleh suara-suara seperti ranting-ranting terbakar. Perlahan suara Yovie menjauh. Sekejap, Felly tidak lagi mendengar suara Yovie. Pandangannya pun terasa kabur dan kepalanya pening, berputar-putar. Lalu badannya terasa lebih berat dari biasanya, seperti ada tangan yang menggelayut pada pundaknya. Felly pun jatuh ke lantai. Dia pingsan, mungkin karena terlalu banyak mendengar cerita Yovie atau memang Felly sedang tidak sehat.

***

Di alam bawah sadarnya Felly jatuh ke sebuah lorong gelap yang di ujung lorongnya terpendar setitik warna jingga. Ya, hanya setitik saja. Felly berjalan ke sana selangkah demi selangkah. Namun titik jingga itu tak kunjung mendekat, jadi ia berlari. Derap kakinya terdengar keras seperti suara ledakkan kembang api di malam tahun baru. Felly berhenti dan berjongkok menutup telinga, Felly memejamkan matanya. Ketika ia membuka mata, titik jingga itu telah berubah menjadi sedaun pintu warna jingga dengan gagang hitam.

Felly menghampiri dan membukanya dengan perlahan, perlahan… bahkan perlahan sekali. Pintu terbuka sedikit dan tercium bau asap dari dalamnya, kemudian matanya silau terkena cahaya merah, Felly menutup mata sesaat. Setelah membuka mata, ia telah berdiri di sebuah ladang yang tandus. Lorong gelap telah berganti menjadi ladang tandus yang luas. Felly memutar badannya melihat ke seluruh arah. Di kejauhan ia melihat sebuah pohon besar dengan rumah pohon bertengger di atasnya. Felly teringat Yovie dan Audy.

***

Napasnya tersenggal setelah berlari cukup jauh, Felly menunduk memegang lutut. Rumput mati berwarna kecokelatan setinggi mata kaki menghiasi kaki-kakinya yang ramping. Felly masih mengatur napas. Kemudian ia mendengar suara petikan gitar dan nyanyian seorang perempuan. Dari kejauhan terlihat dua manusia duduk bersebelahan di rumah pohon itu, salah satunya berambut panjang. Felly menyimpulkan bahwa itu adalah seorang perempuan.

Beberapa saat kemudian si perempuan berambut panjang itu merebahkan bahunya pada si lelaki yang mengenakan kaus berwarna jingga gelap. Felly tidak bisa mengenali itu siapa karena ia melihat dari jarak yang begitu jauh.

Felly melihat mereka bermesraan kemudian berciuman, si lelaki berusaha membuka pakaian si perempuan, mulai dari kemeja hingga celana  jinsnya. Felly merasa aneh dengan dirinya yang tiba-tiba berpikir kalau itu adalah Yovie dan Audy. Ia juga merasa aneh ketika secara otomatis kakinya melangkah dan berlari menghampiri kedua orang itu. Namun, baru beberapa langkah berlari, ia pun terjatuh, di kakinya melilit tali tambang yang entah dari mana asalnya. Untuk beberapa saat Felly berusaha melepaskan tali itu.

Lalu terdengar jeritan histeris seorang perempuan. Felly mendengarnya dari arah rumah pohon itu. Ketika ia mengangkat kepala, pohon itu tidak berbentuk seperti pohon yang sebelumnya ia lihat. Pohon itu telah diselimuti asap hitam yang membumbung tinggi dan dijilati oleh api dengan ganas.

Felly melihat perempuan itu berguling-guling memegangi kepalanya di dalam rumah pohon, di bawahnya laki-laki yang mengenakan kaus jingga gelap itu berdiri menenteng dirigen minyak dan sebuah pemantik api, di bibirnya terselip sebatang rokok. Felly teringat Yovie dan Audy lagi.

Felly merasa pilu, dan tiba-tiba saja kepalanya terasa berat. Matanya lurus ke arah langit yang merah gelap berkat paduan senja dan panasnya api. Tanpa ia sadari air matanya mulai mengalir. Apakah Audy mati dibakar Yovie? Bukankah Yovie sangat mencintainya? Batinnya. Felly menutup mata. Dan ketika ia tersadar, ia telah terbaring di sofa ruang tamu rumahnya. Felly tidak melihat siapapun, Ayah, Ibu, Adiknya belum kembali, sepertinya.

Ruangan gelap, hanya bayangannya saja yang redup-terang terlihat di dinding. Sebatang lilin berdiri rapuh di atas meja di hadapannya. Apa yang terjadi? Bukankah tadi aku sedang berdiri di luar? Di mana Yovie? Batinnya.

Felly berjalan ke arah pintu depan, terkunci. Lalu ia berjalan ke arah dapur, kamar mandi, kamar Ayah dan Ibu, kamar Adiknya, tapi tidak ada siapapun. Akhirnya ia mengambil segelas air putih dan membawanya naik ke dalam kamar di lantai dua. Felly meneguk habis tanpa sisa. Ia melihat ke arah langit dari balik jendela kamar. Rupanya hujan sudah berhenti dan bulan muncul dengan malu-malu.

Felly duduk di kursi meja belajar, berdiam dan memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Ia memejamkan matanya. Lalu ia mencium bau asap seperti tadi. Hanya halusinasi seperti tadi, pikirnya. Felly tetap tidak membuka mata. Lalu ia merasakan napasnya mulai sesak dan kakinya mulai terasa panas. Ia membuka mata dan kamarnya sudah dipenuhi asap. Ia melihat ke lantai bawah, semuanya sudah dilalap api, lalu ia berlari ke arah jendela, berusaha membuka kaca jendela. Tapi sial, jendela kamarnya terpasang tralis besi. Ia tidak bisa keluar.

***

Di luar rumah sudah banyak warga yang menonton, beberapa dari mereka berusaha memadamkan api dengan menyiramkan air secara estafet menggunakan ember-ember kecil. Felly putus asa karena hingga saat ini petugas pemadam kebakaran belum juga tiba. Matanya semakin terasa pedih akibat asap yang semakin menebal, lalu ia menggeser pandangannya ke tempat warga-warga yang sedang berdiri. Di sana ia melihat Ayah, Ibu dan Adiknya yang sedang berteriak dan berusaha meronta, namun di jaga warga yang khawatir kalau mereka akan mencelakakan diri mereka sendiri. Felly mencoba berteriak, namun yang terasa dadanya menjadi semakin panas. Felly hanya bisa menangis dan semakin putus asa.

Felly memejamkan mata, kamu tahu mengapa aku menyukai rokok? Tiba-tiba terngiang kata-kata itu di dalam kepalanya. Di mana Yovie? Bukankah dia tadi bersamaku? Batinnya. Lalu kata-kata itu berulang-ulang dan menggema di kepalanya.

Paru-paru Felly mungkin sudah terbakar, asap sudah memenuhi seluruh rongga dadanya. terdengar lagi suara Yovie di kepalanya, “Kau tahu mengapa aku menyukai rokok? Itu karena aku suka membakar sesuatu. Pada saat-saat tertentu aku melakukannya pada rokok ini, namun pada saat khusus aku melakukan ke hal yang lebih besar. Seperti pada Audy. Aku mencintainya jadi aku membakarnya. Aku tidak mau dia dimiliki oleh siapapun, jadi aku membakarnya. Bila aku mencintai seseorang, maka cintaku akan sangat besar. Sekarang kamu, Felly, aku memiliki perasaan yang sama terhadapmu, apa kamu mencintaiku? Aku rasa, ya. Terbukti dari ciuman kita tiga tahun lalu bukan? Masih ingat? Tentu, karena kadang kita melakukannya saat kesempatan itu ada, hahaha. Oh ya, bagaimana rasanya kopi campur obat tidur itu? Pasti rasanya aneh. Jadi, tidak perlu dijelaskan lagi kenapa aku melakukan ini. Aku hanya mencintaimu…” Lalu suara itu menghilang bagai buih.

Felly ambruk di lantai yang mendidih, tubuhnya lemas, mulutnya terbuka, nafasnya terhenti dan matanya kosong. Api dengan cepat melalap rumah serta isinya. Setengah jam kemudian pemadam kebakaran datang dan berhasil memadamkan api. Namun tidak ada yang tersisa. Sekalipun Felly yang hangus juga cintanya yang lenyap bersama asap dan abu yang tertiup angin hingga ke langit.

-2015

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s