Tugas Besar Dari Ibu

Cerita Gue

Roemah Kita – warung remang-remang – malam itu tidak terlalu ramai, bahkan cenderung sepi. Perempuan lain sudah mulai berbenah diri untuk segera tidur, namun tidak dengan Liana, ia duduk di kasur sambil memutar-mutar gincu merahnya dengan suntuk. Wajahnya masih cantik dilapisi bedak tipis dan sedikit blush on di pipi. Ia sedang menunggu seseorang, Bang Legok. Belakangan ini ia sering berhubungan dengan Bang Legok di dalam maupun di luar Roemah Kita.

Apel yang jatuh jauh hingga ke kebun mangga pun tidak akan pernah menjadi mangga. Seperti itulah Liana menemukan dirinya tak beda dari Ibunya dahulu. Sama-sama melacur dan sama-sama jatuh cinta. Liana jatuh cinta kepada Bang Legok, Sopir truk yang ia kenal ketika turut mengangkutnya pergi ke pasar pada suatu pagi.

Dua tahun Liana tinggal di Jakarta. Dan ia terlena dengan segala yang ditawarkan kota kepadanya. Ia berpikir tak masalah jika harus menjalani hubungan dengan Bang Legok yang terpaut dua puluh satu tahun lebih tua darinya. Sebab ia merasakan sebuah kehangatan cinta yang baru pertama kali ia dapatkan dari seorang lelaki.

Di tengah kekhusyukkannya menunggu Bang Legok, tiba-tiba Liana menggigil, giginya saling bergemulutuk menahan dingin yang mejalarinya mulai dari kaki hingga ke pangkal paha. Ia teringat sebuah pesan dari mendiang Ibunya, pesan itu berupa permintaan atau lebih tepat disebut dengan tugas. Tugas besar, tugas mulia, kata Ibunya sehari sebelum ia meninggal. Sebuah kata-kata yang seolah berlari-lari di kepalanya, ‘Carilah Suhadi, dia Ayahmu. Ia seorang kuli panggul pasar di Jakarta bagian Barat!”

Liana tersadar karena mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru di lorong. Ia mencoba menebak-nebak suara langkah itu, Bang Legok, pasti Bang Legok, batinnya. Semakin dekat langkah itu maka ia pun semakin yakin. Air mukanya berubah ceria ketika melihat Bang Legok membuka kasar pintu kamar dan berdiri kelelahan di ambang pintu, satu tangannya mencengkeram pinggang dan tangan yang lain masih memegang gagang pintu. Napasnya tersengal.

“M-maaf aku telat,” Katanya berusaha mengatur napas.

“Jika aku yang telat, apa kau akan meminta maaf sambil ngos-ngosan seperti itu?” Liana menggoda, menganggap keterlambatan Bang Legok bukanlah sesuatu yang patut diperdebatkan.

Bang Legok menyeringai, kulit pipinya tampak berkerut, tak dapat membohongi berapa usianya, begitupun hembusan napasnya yang tersengal.

Mereka begitu dekat sehingga hanya dengan dua lompatan kecil saja sudah mampu membuat Bang Legok mendekap Liana. Bang Legok mendorong Liana dengan kasar ke tengah kasur, Liana menjerit kecil. Bang Legok semakin bergairah, nafsunya sudah di ubun-ubun. Liana menggelinjang ketika Bang Legok menciumi lehernya yang jenjang. Semakin tak terkendali setelah Bang Legok bergerak ke bawah. Liana selalu suka Bang Legok yang seperti ini. Membuatnya menyerah begitu cepat.

Liana memejam, namun ia merasa ada yang aneh ketika membuka mata di tengah-tengah kenikmatannya. Matanya berhalusinasi. Halusinasi yang teramat membingungkan atau lebih tepatnya menakutkan. Saat itu, ketika Bang Legok ingin memasukinya, secara tiba-tiba Liana melihat kemaluan Bang Legok menjelma menjadi seekor ular berkepala delapan. Liana memekik. Bang Legok terkejut bukan main, ada apa gerangan? pikirnya.

Ia mengangkat pandangan untuk melihat wajah Bang Legok, namun secara perlahan wajah Bang Legok berubah menyerupai ular bermata merah dengan mulut menganga yang siap menyemburkan bisanya ke wajah Liana.

Saat itu juga pandangannya menjadi gelap.

***

Sore di sebuah rumah kecil, jauh di pedalaman Sumedang. Seorang Gadis berumur lima belas tahun sedang mengiris bawang di dapur, sesekali matanya melirik Sang Ibu yang sedang duduk di teras depan. Pandangan Sang Ibu jauh entah kemana. Mungkin ke pegunungan, atau mungkin ke para petani di ladang, atau mungkin ke luar angkasa.

Gadis Belia itu tak pernah tahu. Sebab jika ia bertanya kepada Sang Ibu maka ia hanya akan mendapatkan jawaban yang sia-sia, “Jauh…” begitu Sang Ibu menjawab.

***

Sekitar pukul tiga pagi Gadis Belia terbangun dan ingin ke kamar kecil, dengan ruh yang belum sepenuhnya terkumpul, Gadis Belia histeris melihat Sang Ibu yang menggelantung tanpa nyawa. Dengan serta merta Gadis Belia itu terkulai ke lantai yang terbuat dari tanah liat kemudian pingsan.

***

Sehari sebelum Sang Ibu meninggal. Ketika subuh, Gadis Belia mendengar Sang Ibu menangis di tempat tidur. Ia membuka pintu dan melihat Sang Ibu mengigil, ia tak mengerti apa yang membuat Sang Ibu begitu tersedu-sedu. Lalu Sang Ibu mengatakan rahasia tentang sebuah kehidupan. Sedari itu Gadis Belia pun ikut menangis. Mereka menangis seperti sedang berlomba, mereka menangis hingga lelah seolah itu adalah sebuah kewajiban. Keesokan pagi,  si Gadis Belia menemukan Sang Ibu mati tergantung di kamar mandi.

Siang harinya pemakaman dilakukan, orang-orang desa membacakan doa-doa agar arwah Sang Ibu tenang. Gadis Belia bersimpuh di pusara Sang Ibu, menangis dan memeluk nisan.

Seorang perempuan berbisik kepada teman di sebelahnya, “apakah ini bencana? Aku tahu dia akan jadi arwah penasaran.” Teman si perempuan tidak menjawab, ia hanya membatin kalu saat ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal semacam itu.

Beberapa hari berikutnya Gadis Belia akan pergi meninggalkan Sumedang demi melaksanakan tugas yang diberikan Sang Ibu.

***

Wajahnya terasa dingin, seperti terkena gerimis di pagi hari. Bang Legok memercikkan sedikit air ke wajah Liana. Liana membuka mata dan melihat wajah Bang Legok yang seperti sedia kala. Berkumis, dagu yang kasar, mata yang sipit, bibir yang bulat dan rambut ikal yang baru saja dipangkas, benar Bang Legok, batinnya.

“Kau kenapa?” suara Bang Legok terdengar khawatir, “tiba-tiba saja pingsan, kau menakutiku! Kurang ajar!” katanya pelan seraya meletakkan gelas berisi air ke meja di samping kasur.

“Kau pun bisa takut? Sopir truk jagoan pun bisa takut melihat orang pingsan?” Goda Liana seraya bangkit untuk bersandar pada dipan kasur. Liana terdiam, memandang ke pangkal paha Bang Legok, “tadi, sepertinya, sewaktu aku pingsan, aku bermimpi anu-mu berubah menjadi ular kepala delapan, mengerikan sekali.”

Bang Legok tertawa terpingkal-pingkal hingga suaranya menembus ke bilik kamar sebelah, “mungkin karena terlalu perkasa sehingga kau sendiri seperti melihat delapan ekor yang seperti ini.” Kata Bang Legok yang masih belum bisa berhenti tertawa.

Liana kembali terdiam, mengingat satu pertanyaan yang sejak pertama kali tiba di Jakarta sangat ingin ia lontarkan kepada orang-orang Jakarta. Bodohnya, pertanyaan itu perlahan luntur sejalan dengan dirinya yang mulai mendapatkan kehangatan dan kasih sayang Bang Legok. Ia berusaha untuk mengingatnya, namun yang terjadi adalah pandangannya menjadi kabur, remang-remang, persis seperti tempat yang ia tinggali sekarang.

“Ada apa lagi?” Tanya Bang Legok.

“Tidak, cuma mengingat sesuatu,” Liana diam sejenak, “sebenarnya aku datang untuk melaksanakan tugas besar, tugas mulia.”

Sedikit menahan tertawa Bang Legok bertanya dengan nada yang dibuat seolah-olah serius, “tugas menjadi pelacur di kota besar? Ya, itu memang perbuatan mulia.”

“Lebih mulia dari pada sekedar memuaskan ular bermata satu milikmu itu,” suaranya datar, “lagi pula bagiku melacur adalah pilihan, bukan sebuah usur keterpaksaan.”

“Wah terhibur sekali aku mendengarnya,” kata Bang Legok seraya tersenyum, “boleh aku menidurimu sekarang? Ularku sudah tidak tahan.”

Tanpa banyak berpikir lagi Bang Legok segera meletakkan dirinya di atas Liana. Bang Legok bergerak seperti kesetanan, sementara Liana menerimanya dengan pasrah. Sesekali pikirannya berlari kepada perkataan Ibunya, “Suhadi kuli panggul, Ayahmu! Dia yang membuat kita seperti ini. Temui dia, dan buat dia membayar segalanya! Jangan sampai terlewat, ini permintaan terakhirku, lebih dari sekedar permintaan. Ini tugas besar! Tugas Mulia!”

***

Peluh kesenangan masih mengalir perlahan dan beberapa butir tertinggal di dahi mereka. Keduanya rebah sejajar dan saling menatap.

“Malam yang menyenangkan.” Ujar Bang Legok seraya tersenyum.

Liana tersenyum, kemudian berkata sesuatu kepada Bang Legok, “Aku ingin bertanya kepadamu selaku orang yang telah lama hidup di kota ini.”

“Apa?” jawab Bang Legok singkat.

“Pernah bertemu dengan lelaki bernama Suhadi? Ia seorang kuli panggul di pasar dekat sini.” Suara Liana bergetar-getar.

“Dia memiliki codet di dahinya.” Liana meneruskan.

Bang Legok diam sejenak, memejamkan kedua matanya. Lalu dengan membelai kepala Liana ia berkata dengan lembut, “Jelas saja pernah, mana mungkin aku tidak pernah bertemu aku.”

Seketika saja tubuh Liana terasa dingin, perutnya terasa mual, pikirannya seperti hilang. Ia berusaha mencerna perkataan Bang Legok yang baru saja ia dengar.

Perlahan, ia menggerakkan tangannya yang gemetar menyentuh pelipis Bang Legok dengan harapan ia tak menemukan codet atau apapun di situ. Namun, codet itu tak pernah pindah satu sentimeterpun dari tempatnya. Codetnya memang tidak begitu terlihat, sudah sedikit lebih halus dan lubangnya sedikit mengecil dari yang dulu diceritakan Ibunya.

Lalu pikirannya mengawang jauh ke pedalaman Sumedang, ke sebuah pusara tempat Ibunya tertidur untuk selamanya. Dalam hatinya Liana berdoa, semoga Sang Ibu tidak kecewa ketika mengetahui kenyataan ini di hari nanti ketika mereka semua berkumpul.

Ia juga berharap semoga Sang Ibu melihat dirinya sebagai Liana yang sedang melaksanakan tugas besar, tugas mulia, dan bukan sebagai seorang pelacur. Kini, sambil terpejam, Liana mengutuk diri dan merasa seluruh tubuhnya seperti kehilangan nyawa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s