Penari Bulan

Cerita Gue, Uncategorized

Selesai shalat subuh berjamaah di Surau, Kyai Husein bersama dua orang jamaah remaja berjalan melintasi kebun bambu dan mendengar suara tangisan bayi. Mereka berhenti dan saling memandang satu sama lain seolah berkata, apa ada yang mendengar suara tangis bayi?

Jadi mereka berjalan ke arah pohon bambu yang tinggi dan cabangnya melengkung seperti joran pancing yang umpannya tengah digigit ikan besar. Mereka kesulitan mencari karena senter yang dibawa salah satu remaja kehabisan baterai, sementara langit belum terlalu terang. Namun mereka terus mencari hanya dengan mengandalkan cahaya matahari yang belum sepenuhnya muncul dan membuat pemandangan sekitar terlihat abu-abu.

Kyai Husein menunjuk ke salah satu pohon, dan mereka melihat sebuah kardus dengan bercak hitam yang sepertinya itu adalah darah tengah bergerak-gerak di antara batang-batang bambu yang malang-melintang. Ia meminta kedua remaja mengeluarkan kardus itu. Dengan segera Kyai Husein membuka kardus dan mendapati seorang bayi yang masih merah dengan balutan kain yang sudah terlepas berusaha bernapas dengan susah payah.

Kyai Husein tanpa ragu mengangkat bayi itu, diletakkannya di dada dengan kehangatan seorang ayah yang sedang menggendong anak pertamanya. Ia tidak memikirkan darah yang mengotori gamisnya yang putih bersih. Sejenak, ia perhatikan bayi itu bukanlah bayi yang masih merah, namun kulit bayi itu memanglah hitam dan dari sela-sela pangkal kakinya, ia tahu, bayi itu perempuan.

 

***

 

Pada usianya yang ke 64, Kyai Husein didera penyakit yang mulai menggerogoti bagian tubuh sebelah kanannya, mulai dari kaki, tangan, dan wajahnya tidak bisa lagi digerakkan. Tiga bulan sudah ketika seluruh warga desa gempar dengan penemuan seorang bayi perempuan yang dibuang di kebun bambu itu diangkat anak oleh Kyai Husein, dan kini setelah semuanya berjalan dengan damai, tiba saatnya Kyai Husein mengembuskan napas yang terakhir.

Beberapa orang bilang kalau bayi itu adalah hasil dari hubungan gelap para Jin dan membuangnya di sana, atau ia adalah bayi pembawa sial yang mengantarkan Malaikat pencabut nyawa untuk lebih buru-buru menjemput ajal Kyai Husein.

Tentu saja hal itu membuat para warga enggan membawa dan mengasuh bayi malang itu, sedangkan Kyai Husein tidak memiliki kerabat di desa itu, sebab ia hanya seorang guru ngaji yang sengaja datang seorang diri dan mengajarkan ajaran agama dengan segenap hati.

Namun tidak bagi Ratih, perempuan paruh baya yang dikenal di seluruh desa sebagai juru masak terbaik dan juga terkenal sebagai perawan tua, mengambil bayi perempuan itu untuk dijadikan anak semata wayangnya, walaupun ia tahu bayi perempuan itu tidak akan tumbuh menjadi gadis jelita yang digila-gilai para lelaki kelak, namun ia yakin bayi perempuan itu akan menjadi seorang tukang masak yang andal, seperti dirinya.

Jadi Ratih berjalan di barisan paling belakang iring-iringan yang mengangkat keranda Kyai Husein dengan menggendong bayi perempuan itu, sambil membaca Laaillahailallah dan dengan wajah bahagia ia menatap wajah bayi perempuan yang tertidur pulas di balutan kain yang ia buat menjadi sebuah gendongan.

Setelah menguburkan jenazah Kyai Husein, para warga pergi meninggalkan pemakaman. Sejak saat itu timbul banyak omongan-omongan miring tentang bayi perempuan yang diberi nama Zakiyah oleh Kyai Husein.

 

***

 

Zakiyah tumbuh menjadi anak yang dibenci, segala hujatan selalu ia dapatkan. Seringkali Ratih dibuat sedih saat Zakiyah pulang dengan berlari sambil menangis kemudian memeluk dirinya. Namun Ratih masih berusaha sabar menghadapi semua itu. Jadi saat itu, ia sendirilah yang mengajak bermain Zakiyah. Mengajarkannya baca-tulis, dan hal yang paling penting untuk masa depannya: memasak.

Pada usia 10 tahun, saat Zakiyah sedang sakit flu, beberapa warga datang ke rumah Ratih. Mereka mengadu kalau unggas-unggas mereka mati karena tertular penyakit anaknya itu, dan meminta pertanggung jawaban Ratih. Namun Ratih tidak memiliki apa-apa selain Zakiyah.

Semenjak ia mengangkat Zakiyah sebagai anaknya, pekerjaan tukang masak pun tidak lagi ia dapat. Sebab warga merasa jijik dengan keadaan anaknya, Zakiyah, yang seperti orang gila. Kulitnya hitam dan di lengan, paha, leher dan di beberapa bagian lainnya terdapat koreng yang masih belum kering, rambutnya keriting berwarna merah, matanya belo, tidak ada alis di wajahnya dan bau badannya tidak pernah hilang. Dan bagaimanapun itu mempengaruhi rezeki yang harusnya didapat Ratih.

“Bagaimana bisa anakmu tertular penyakit kulit anakku?”

“Penyakit anakmu itu tersebar melalui udara. Dan yang perlu kau tahui, anakmu itu adalah pembawa sial bagi kami!”

Dengan perasaan dan hati yang hancur, Ratih berlari keluar rumah meninggalkan Zakiyah yang sedang tertidur di kamar. Dirinya sudah tak mampu lagi menahan beban yang semakin hari semakin menumpuk dan menyiksa batinnya.

Ia terus berlari hingga ke tepi sungai Cisadane. Ia menahan langkahnya, mengambil banyak kerikil dan mengikatnya pada daster yang ia kenakan, lalu dengan air mata yang mengalir di pipi, ia melompat ke dalam air, tenggelam dengan tenang ke dasar sungai.

 

***

 

Saat ini, banyak yang meniru cara mereka bunuh diri, berkata Nasam kepada dirinya sendiri yang tengah menghadapi seonggok mayat lelaki tanpa identitas di tepi sungai Cisadane.

“Ini karena kedua perempuan pembawa sial yang gila itu, beberapa orang mengikuti cara mereka mati!” Kata Nasam kesal.

“Tapi, Zakiyah tidak terjun, Pak RT,” sela seorang lelaki berperawakan kurus dan pendek, “dia terbang ke bulan!”

“Apa kau sudah mulai gila juga, hah!” Kata Nasam menatap lelaki itu hingga membuat ia pergi dari tempat kejadian perkara.

Bagaimanapun, meski sudah begitu lama kematian Zakiyah berlalu, namun itu adalah kematian yang masih menjadi misteri. Beberapa orang yang melihatnya berlari dari lapangan tempatnya di kurung menuju jembatan berkata, kalau ia jatuh ke sungai, namun ada yang bilang kalau ia terbang ke bulan sambil menari-nari.

Nasam mengingat-ingat kematian Zakiyah, sebab sepuluh tahun lalu dirinyalah yang mengusulkan untuk merantai dan mengurung Zakiyah di lapangan tengah sawah.

Perempuan ini gila, perempuan ini pembawa sial, saya akan mengikat dan mengurungnya di lapangan, terngiang di telinga suaranya sendiri ketika menyeret Zakiyah dari dalam rumah menuju lapangan. Membuatnya mengingat kembali saat di mana ia membuat sebuah kesalahan.

Sebenarnya Zakiyah memang gila, selama sepuluh tahun ditinggalkan ibunya yang mati, ia terus menangis di dalam rumah. Kadang, kalau sedang tidak menangis ia akan berlari keliling desa, menakuti anak-anak warga dan membuat keributan. Mengucapkan kata-kata kotor, mencuri dagangan warga, menginjak-injak tanaman warga dan buang air di sana.

Dia tidak dapat mengurus dirinya sendiri, juga tidak ada yang mau mengurusinya. Pikirannya terganggu, akal sehatnya hilang karena harus hidup sendiri di antara orang-orang yang membenci dirinya. Dan di saat itu, munculah Nasam yang memutuskan untuk mengurung Zakiyah.

 

***

 

Setelah dikurungnya Zakiyah, keadaan tidak menjadi lebih baik. Justru desa tersebut semakin mencekam, setiap malam terdengar suara tangisan Zakiyah ke seluruh penjuru desa yang membuat bulu tengkuk berdiri. Kadang Zakiyah tertawa dengan keras hingga menyerupai tawa kuntilanak hingga membuat para anak-anak ketakutan. Kadang Zakiyah bernyanyi dengan pilu dan membuat hati orang-orang yang mendengarnya terasa seperti disayat belati.

Zakiyah selalu melakukan itu selama satu bulan lamanya, hingga pada saat awal bulan yang baru, ia berhenti melakukan itu semua. Nasam bersama puluhan warga mendatangi lapangan tempat Zakiyah di kurung. Saat itu bulan purnama terlihat tidak begitu terang, sebab awan kelabu seolah hanya berputar-putar menghalangi cahayanya.

“Zakiyah…” kata Nasam pelan.

Zakiyah tersenyum, meskipun tidak terlihat cantik namun Nasam merasa lega karena Zakiyah tidak lagi sedih. Lalu atas suatu gagasan yang entah dari mana datangnya, Nasam berniat untuk memandikan Zakiyah, “orang gila kalau dimandikan, nanti dia akan waras,” katanya kepada seorang warga yang ikut berjongkok di sebelahnya. Semua orang mengangguk, menyetujui usulan Nasam.

Lalu Nasam membawa Zakiyah ke rumahnya. Meminta kepada isterinya untuk memandikan Zakiyah, memberikannya pakaian yang bagus, menyisir rambut keriting merahnya, memoleskannya lotion yang harum, memakaikannya bedak dan juga gincu merah, menyemprotkan parfum yang membuatnya wangi, dan tak ada lagi bau-bau yang mengganggu pada dirinya.

“Zakiyah sudah waras,” kata isteri Nasam seraya tersenyum. “Ya, aku tahu itu,” Nasam mengangguk, “sudah kubilang, kan.”

Lalu Zakiyah berdiri dan berbalik, berjalan keluar seraya tersenyum kepada semua orang yang melihatnya. Orang-orang merasa bingung harus bersikap seperti apa, namun seorang pemuda kurus pendek mulai tersenyum dan membungkuk seolah memberi hormat kepada seorang Puteri.

Zakiyah tanpa mengenakan sandal terus berjalan menyusuri setapak berbatu, menuju lapangan tempat ia dikurung, orang-orang mengikutinya dari belakang seolah tahu alasan Zakiyah pergi ke sana hanya untuk melihat tempatnya dikurung selama ia menjadi perempuan gila.

Namun orang-orang mulai khawatir saat Zakiyah mulai menyanyikan lagu yang sempat membuat hati orang-orang yang mendengarnya merasa sedih dan tersyat-sayat pada tempo lalu, mereka takut kalau Zakiyah kembali gila.

Setelah mereka sampai di lapangan, Zakiyah mulai menari-nari di bawah bulan purnama seolah dia sangat senang atas kembalinya kewarasan jiwanya, ia lalu berputar-putar di atas rumput kering dan menyanyi satu tembang yang berbeda dari sebelumnya.

Di akhir tarian dan nyanyiannya, Zakiyah berkata lirih dan membuat semua orang bergidik ketakutan. Ia mengatakannya sambil menatap satu persatu mata orang-orang yang ada di sana, orang-orang yang pernah menghinanya, orang-orang yang mengatakakannya sebagai pembawa sial, orang-orang yang telah menganggapnya sebagai aib desa, orang-orang yang telah membuatnya gila dan orang-orang yang telah membuat ibu yang dicintainya mati.

“Kampung ini sudah kena sial jauh sebelum aku dilahirkan! Dan kalian akan mendapat banyak kesialan akibat perbuatan kalian sendiri! Kalian harus membayarnya!” Lalu Zakiyah berlari menuju jembatan sungai Cisadane tempat Ratih membuang nyawa dan ia pun melompat dengan merantangkan kedua tangannya seolah ia sedang terbang menuju bulan tempat para dewi-dewi penari bulan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s