Penari Bulan

Cerita Gue, Uncategorized

Selesai shalat subuh berjamaah di Surau, Kyai Husein bersama dua orang jamaah remaja berjalan melintasi kebun bambu dan mendengar suara tangisan bayi. Mereka berhenti dan saling memandang satu sama lain seolah berkata, apa ada yang mendengar suara tangis bayi?

Jadi mereka berjalan ke arah pohon bambu yang tinggi dan cabangnya melengkung seperti joran pancing yang umpannya tengah digigit ikan besar. Mereka kesulitan mencari karena senter yang dibawa salah satu remaja kehabisan baterai, sementara langit belum terlalu terang. Namun mereka terus mencari hanya dengan mengandalkan cahaya matahari yang belum sepenuhnya muncul dan membuat pemandangan sekitar terlihat abu-abu.

Kyai Husein menunjuk ke salah satu pohon, dan mereka melihat sebuah kardus dengan bercak hitam yang sepertinya itu adalah darah tengah bergerak-gerak di antara batang-batang bambu yang malang-melintang. Ia meminta kedua remaja mengeluarkan kardus itu. Dengan segera Kyai Husein membuka kardus dan mendapati seorang bayi yang masih merah dengan balutan kain yang sudah terlepas berusaha bernapas dengan susah payah.

Kyai Husein tanpa ragu mengangkat bayi itu, diletakkannya di dada dengan kehangatan seorang ayah yang sedang menggendong anak pertamanya. Ia tidak memikirkan darah yang mengotori gamisnya yang putih bersih. Sejenak, ia perhatikan bayi itu bukanlah bayi yang masih merah, namun kulit bayi itu memanglah hitam dan dari sela-sela pangkal kakinya, ia tahu, bayi itu perempuan.

Iklan

Perempuan yang Sering Kita Bicarakan

Cerita Gue

Seseorang telah mencuri hatinya. Hati yang sangat ia lindungi selama ini. Malam itu aku sedang menyelesaikan sebuah projek video yang kugarap beberapa hari belakangan ini. Jujur saja, aku senang dia datang menemuiku.

Andro namanya, dan dia sedang jatuh cinta.

Berulang kali dia bicara tentang perempuan si pencuri hati itu, beberapa kali ia mengumpat, “sialan, aku jatuh cinta, padahal aku sudah susah payah agar tidak jatuh cinta padanya!”

Aku masih dengan komputerku, sesekali menanggapinya dengan tertawa kecil, menganggap lucu tingkah konyolnya itu.

“Cinta itu lucu, padahal ia dicuri, tapi malah direlakan begitu saja,” katanya lagi. Aku semakin merasa lucu karena dia begitu bodoh menanggapi cinta dengan begitu.