Lelaki yang Patah Hati

Beberapa hari terakhir ini Iman terus memikirkan seorang wanita. Mengingat tentang apa yang mereka lakukan beberapa bulan lalu.Ketika itu, sang wanita datang kepadanya untuk memesan sebuah lukisan wajah, Iman bertanya tentang bagaimana wanita itu tahu kalau ia menjual jasa melukis wajah. Dan wanita itu bilang dengan bibir tersenyum, “dari teman sekelasmu sewaktu kuliah.”

Iman berpikir sejenak, siapa yang dimaksud dengan temanku sewaktu kuliah itu? Wanita itu melanjutkan, “Riani.” Ya, Iman mengingatnya sedikit, ia tak perlu mengingat terlalu banyak, ia takut kepalanya akan sakit kalau terlalu jauh berpikir, dan yang terpenting, saat itu ia tengah berhadapan dengan wanita cantik yang nantinya akan ia sebut dengan Nona Ranum.

***

Karena Nona Ranum itu cantik, kemudian Iman menyukainya. Ranum memintanya untuk melukis karikatur seorang pria, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa sedikit keberatan, sebab orang yang ia lukis mungkin saja kekasihnya. Namun demi nama professionalisme ia tetap meng-iyakan tawaran Nona Ranum.

***

Empat jam Nona Ranum setia di sebelanya, menunggu dengan sabar hasil dari lukisan yang ia buat. Selama menunggu, Nona Ranum tidak banyak bertanya, hanya tertawa kecil ketika melihat Iman repot membersihkan cat dengan lengan baju yang muncrat ke wajahnya.

Demi melihat Nona Ranum tersenyum, dan mendengar suara tawanya yang merdu, sekejap saja membuat Iman tak sadar kalau ia sedang terpukau memandang wanita yang duduk dengan senyuman terindah di dunia.

“Kenapa bengong, sih?” kata Nona Ranum.

Iman tergeragap dan menjatuhkan kuasnya, “maaf, Nona.”

“Hahaha… Aneh, terasa seperti seorang Puteri Kerajaan.”

“Hah? Apanya?”

“Pemilihan katamu, memanggilku Nona.”

“Omong-omong, ini siapanya, Nona?”

Ranum tidak menjawab, ia hanya tersenyum, senyuman yang penuh arti, namun bodohnya, Iman tidak dapat mengartikan senyuman yang menawan itu. Dan seperti itulah pertemuannya dengan Nona Ranum, lalu berikutnya Nona Ranum meminta Iman untuk memanggilnya dengan, Ranum saja.

***

Seingatnya, tidak ada yang lebih cantik dari Ranum, walaupun melati sedang mewangi, kupu-kupu sedang beterbangan, dan mawar-mawar sedang merekah, tidak ada yang lebih menawan dari diri wanita yang ia puja, meskipun senja tengah merona, ataupun Presiden sedang berpidato, Iman tidak akan memalingkan wajah selain kepadanya.

***

Iman duduk di sebelahnya, di tukang jajanan di gang Kota Tua, menikmati semangkuk bakso yang sulit untuk ditelan, mendengarkan nyanyian dari para pengamen – mereka makan karena tempat itu saran dari Iman, dan belakangan Iman akan menyesal – yang setiap sepuluh menit bergantian memintai mereka uang, dan membahas tentang bagaimana perasaan bangunan-bangunan yang dahulu merupakan tempat bersejarah yang saat ini hanya jadi tempat nongkrong anak-anak yang menurutnya, menyebalkan.

“Bagaimana perasaannya ya, Num?” Iman berkata dengan pandangan lurus ke depan.

“Siapa?”

“Bangunan-bangunan itu.”

“Itu kan hanya bagunan.”

“Tapi…”

“Pasti sudah ada petugas yang merawatnya, kamu aneh deh.

Lalu Ranum tertawa, dan sekali lagi Iman tersihir oleh pesonanya. Entah bagaimana ia dapat tersihir seperti itu. Yang ia rasakan saat ini adalah, tak peduli sedang apa mereka sekarang, atau, sedang dalam keadaan apapun mereka sekarang, yang jelas, ia sudah mencintai wanita itu, Ranum.

***

Setelah mereka menghabiskan waktu di Kota Tua bersama-sama. Mereka jadi semakin sering bertemu, puncaknya adalah ketika Iman menyatakan cintanya. Ia tahu saat itu adalah waktu yang tidak tepat, sebab mereka tidak sedang dalam pertemuan terbaik, saat itu mereka sedang berdebat tentang bagaimana bisa seorang kekasih menghianati kekasihnya sendiri, dan Iman tidak mengerti, sebab ia memang benar-benar tidak mengerti.

Lalu, di saat terakhir, Ranum berkata maaf: tanpa senyum, tanpa jawaban, kemudian pergi.

Sejak saat itu, Iman tidak dapat lagi bertemu dengan Ranum. Beberapa kali Iman mencoba menghubunginya lewat ponsel, namun hanya dengungan yang menggetarkan jantung dan di akhiri dengan mesin penjawab otomatis yang menjawabnya dengan dingin.

***

Bertahun-tahun Iman menjalani hari seolah ia tidak pernah merasakan indahnya sebuah cinta dan kasih sayang. Ia melukis dengan buruk, beberapa klien-nya bilang kalau mereka tidak akan kembali lagi setelah meminta dilukis. Entah apa yang harus ia lakukan setelah bertahun-tahun Ranum pergi dan ia masih tidak bisa melupakannya sedikit pun.

Iman merasa ia tengah berada dalam sebuah kutukan cinta, cinta yang hadir hanya untuk menghancurkan hatinya. Hingga ketika ia ingin menghapus segala memori tentang Ranum, ia teringat Riani, temannya, teman Ranum juga.

“Siapa?” suara Riani di ujung telepon menyapa dengan lembut.

“Iman,” kata Iman semangat, “Riani, masih ingat?”

“Iya, masih, Ada apa, Man?”

Lalu ia berhasil mendapatkan alamat rumah Ranum, dan ia berharap bahwa Riani tidak memberi alamat yang salah.

***

Iman menyesal telah mendatanginya yang tengah dalam keadaan perut membuncit, mengandung segumpal daging yang entah akan tumbuh menjadi bayi perempuan atau laki-laki. Ia menyesal pernah mencintai wanita itu selama bertahun-tahun.

Iman menyesal jika harus berbicara dengannya, dan anak-anaknya: anaknya yang pertama dan kedua yang pada kenyataannya mereka adalah anak-anak yang lucu, manis dan cantik-cantik.

“Apa kabar?” Ranum berbasa-basi.

Iman belum menjawab, apa menurutmu aku akan baik-baik saja ketika melihatmu dengan perut yang buncit dan di kelilingi dua anak? Aku hancur, lebih dari itu. Aku musnah, pikirnya.

“Iman…” katanya lagi.

“Ah, ya? Aku? Baik, maksudku, aku terkejut melihatmu tampak cantik dan sehat dengan bayi di dalam perutmu.”

Ranum terlihat malu, entahlah, Iman sendiri tidak mengerti apakah Ranum sedang malu atau marah karena mengartikan jawabannya sebagai doa, atau sebuah sindiran. Yang jelas itu adalah jawaban dari lelaki yang patah hati.

Ranum memperkenalkan anak-anaknya kepada Iman. Risma, lima tahun, untuk anaknya yang pertama. Terihat sangat cantik, lebih cantik dari Ranum. Yang kedua, Sari, empat tahun, dia sangat lincah, tidak seperti Ranum yang lemah lembut.

Iman melihat lukisan yang pernah ia buat, terpajang di dinding ruang tamu. Ia sempat bernostalgia dan ingin menangis mengingat apa yang pernah ia lalui bersama Ranum beberapa tahun belakangan. Dan mungkin ia sudah memeluk Ranum jika saja ia tidak ingat kalau Ranum adalah isteri orang.

***

Ini penyesalannya yang terakhir setelah bertemu dengan Ranum. Dan yang lebih membuatnya lebih menyesal adalah, ia lah yang melukis wajah suami Ranum dengan semangat dan tersenyum bertahun-tahun lalu, saat pertama mereka bertemu, saat pertama ia jatuh cinta kepadanya.

Di tengah perjalan pulang, ia mengumpat kepada seluruh langit beserta isinya. Mengutuk segala macam dewa yang mengagungkan cinta suci. Menendang kaleng dan botol-botol minuman di pinggir jalan. Mengeluarkan isi bak sampah dan memakannya jika ada yang bisa dimakan. Meneriaki siapa saja yang berjalan bergandengan tangan.

Lalu orang-orang mulai meneriakinya “orang gila”, dan anak-anak di jalanan pun ikut menyorakinya hal yang sama, sambil bertepuk tangan. Tapi sepertinya ia tidak khawatir, karena itu tidak masuk ke dalam kepalanya. Ia hanya tahu saat itu ia sedang patah hati.

Iklan