Drama Sang Cicak

Cerita Gue

 Kamu, secantik kupu-kupu di tengah sekawanan belalang.

Kamu, semenggoda mawar di tengah sekumpulan melati.

Kamu, semenarik apa yang ingin kulihat.

Kemudian aku bertanya pada diri, “Apalah aku? Hanya sebatas pentul korek yang terselimuti api. Yang membakar diri hingga hangus, hingga hanya tersisa arang hitam yang rapuh kemudian dibersihkan angin.

Kamu, menari-nari bebas seperti ranting yang dibimbing angin,

namun kamu tidak dibimbing siapapun.

Kamu, wangi seperti bayi.

Kamu, seindah apa yang ingin kupandang.

Kemudian aku bercermin, lalu berkata dalam hati,

“Pantaskah hati ini mendamba Puteri yang cantik bagai Bidadari itu?

Pantaskah?

Wajah tidak rupawan dan menjijikan seperti ini mencintai wanita sepertinya?”

Kamu kuat!

Kamu perkasa!

Kamu dicintai!

Kamu pandai!

Kamu cantik!

Kamu menawan!

Kamu tajam!

Kamu belati!

Kamu, seperti yang kumau.

Aku lemah,

Aku kalah,

Aku dibenci,

Aku bodoh,

Aku jelek,

Aku tidak layak dipandang,

Aku tumpul,

Aku seperti ranting yang rapuh,

Aku, tidak seperti yang kaumau.

 

Kamu melangkah anggun menyusuri taman,

Kamu menciumi bunga-bunga yang, tentu saja kalah cantik darimu.

Bunga di sebelah bunga yang kau sentuh mendadak malu, kemudian layu.

Kamu tersenyum, kamu melangkah anggun.

Aku berdecak memanggil namamu.

Kamu diam.

Aku berdecak lebih keras, berharap kau sadar akan keberadaanku.

Tapi, kamu diam.

Aku merayap mendekatimu.

Kamu tetap diam.

Aku menyentuh ujung jarimu.

Kamu menoleh.

Terperanjat.

Histeris!

Kamu melemparku.

Menghempaskan seluruh ragaku ke lantai.

Dengan sepatumu yang terlihat begitu cemerlang,

Kamu menginjak-injak diriku.

Dengan telapak sepatu.

Kamu menginjakku.

Aku senang.

Sang Puteri bergidik, terlihat seperti jijik.

Di telapak sepatunya terdapat sisa-sisa dari bagian tubuh seekor cicak yang mati.

Sang Puteri pergi seraya mengumpat, kesal, jijik, sekaligus jadi satu.

Di lantai, terserak bagian tubuh Sang Cicak.

Tidak terlihat utuh.

Mati.

“Tak apalah mati di kaki orang sangat kukagumi,” pikir Sang Cicak.

“Jikapun suatu saat nanti aku mati, tidak ada hal yang lebih baik dari ini.” Pikirnya untuk yang kedua kali sebelum mati.

-pijar, May 19, 2015-

catatan: Lagi Mabok!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s