Perempuan Penanti

Cerita Gue

Aku masih belum familiar dengan kebiasaan Nenek, karena semenjak dilahirkan aku dibawa Ayah untuk tinggal di kota bersama keluarganya di sana. Sementara Ibu, hidup bersama Nenek di sebuah desa terpencil selama hidupnya. Sekarang usiaku sudah 25 tahun, dan aku baru saja kembali ke desa yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kota Jakarta karena suatu hal, ‘ingin menyendiri’. Desa Pondoh, desa terpencil yang jarak dari rumah ke rumahnya berkisar satu ladang. Keberadaan kota dan desa ini di pisahkan oleh Situ yang panjang dan lebar yang berpengaruh langsung sebagai sumber kehidupan warga desa tersebut, warga setempat menyebutnya Situ Cipondoh.

Angin semakin kencang, sementara langit mulai memerah dan matahari sudah tak kuat lagi bertengger pada langit yang tinggi. Rumah Nenek berdiri hanya beberapa meter saja dari tepi Situ Cipondoh. Kulihat Nenek masih berada di teras depan rumah, sedang duduk di atas bale bambu, mungkin buatan tangan suaminya pada puluhan tahun silam. Di pangkuannya ada tongkat kayu yang di permukaannya terdapat ukiran yang nampak antik.

Tiga jam sudah Nenek bergeming, tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya, sesekali dia hanya bergerak untuk menyesap kopi pahit yang dibuatkan ibu pada contang yang bermotif mawar, sesekali tubuh Nenek terhuyung dan tertidur pada posisi duduk, aku sempat ingin membangunkannya dan memapahnya ke dalam kamar untuk tidur, namun ibu melarangku. Ibu bilang kalau Nenek sudah selesai, maka ia akan memanggilnya, biasanya setelah matahari benar-benar sudah tak terlihat.

Kudekati dia dan duduk di sebelahnya, kupikir dia tertidur, ternyata tidak. Di bola matanya yang cokelat terpantul cahaya matahari senja yang perlahan mulai redup, kemudian matanya mulai berkaca-kaca.

“Nek, masuk, yuk!” ajakku.

“…”

“Nek!” aku berdiri seraya memegang tongkat dan tangannya yang dingin, lebih dingin dari sebuah kesendirian yang mungkin sudah lama ia rasakan. Kemudian Nenek merespon dengan menatap wajahku.

“Anak, siapa?” bibirnya bergetar.

“Cucumu, Nek.” Jawabku, “ayo masuk.”

“Cucu tampan sekali, pastilah banyak gadis yang tergila-gila pada Cucu,” tangannya mengelus lembut pipiku, meski bagiku tangannya tidak terasa begitu lembut, “duduk sebentar!” katanya lagi.

“Cucu, siapa namanya?”

“Saya?” suaraku pelan, “apa Nenek benar tidak ingat?”

“Nenek tidak ingat, Cu. Nenek hanya mengingat sedikit hal saja. Nenek tidak mau mencampuri kenangan Nenek dengan hal-hal baru yang jelas sudah tidak berguna untuk Nenek, Cu.” Langit sudah gelap, matanya terlihat sedang menerawang jauh ke seberang situ, di sana terlihat bintang-bintang yang warna-warni yang tak lain adalah lampu-lampu gedung yang tingginya hampir sepadan dengan langit. “Cu, mau dengar sebuah kisah?” sambungnya.

“Apakah kisah tentang prajurit pada masa penjajahan, Nek?”

“Lebih dalam dari sekedar penjajahan, Cu,” ia memutar kepala ke arahku.”Kisah kasih yang tidak pernah tersampaikan.”

“Seperti kisah cinta kebanyakan, Nek?”

“Sepertinya,” tangannya meraih contang berisi kopi pahit yang sudah dingin, ia meyesap sedikit demi sedikit, “tapi ini adalah kisah yang membawa perubahan pada desa yang terpencil ini.”

“Oh, ya?!” kataku, “ceritakanlah padaku, Nek!”

“Dengar, 570 tahun lalu, di seberang sana, di seberang situ yang sedang kita pandang ini, saat bangunan-bangunan kokoh itu belum berdiri, ada seorang perempuan yang terpesona pada angin hanya karena setiap malam angin tersebut membawa suara merdu seorang pemuda yang entah dari mana datangnya.” Pandangannya jatuh pada tongkat kayu miliknya, kemudian mengelusnya perlahan. “Setiap malam, di balkon rumahnya ia selalu menunggu angin itu!” kau tahu apa yang dilakukan perempuan itu, Cu?”

“Lalu sang perempuan terjun dari balkon dan mati mengenaskan?” tukasku.

“Perempuan itu tak sebodoh dirimu, Cucuku!” Matanya melirik kepadaku, kemudian menatapku tajam, “Kau tahu? Di kepalanya sudah penuh dengan harapan-harapan yang diciptakan oleh senandung yang ia dengar, sehingga ia memikirkan siapa dan seperti apa sosok si pelantun senandung yang ia dengar. Maka, bersama dengan beberapa ajudannya ia mencari ke seluruh penjuru desa.”

“Siapa nama perempuan itu, Nek?” tanyaku penasaran.

“Pratiwi.” jawabnya.

“Hoo…” aku menggaruk-garuk dagu, “lalu pemuda itu?”

“Biarlah aku bercerita dahulu, Cucuku!” sahutnya sambil terbatuk. Lalu aku mengangguk. “Ia berhasil bertemu dengan pemuda yang belakangan ia ketahui bernama Hadi, saat itu Hadi sedang bernyanyi di tengah ladang milik Ayah Pratiwi. Ia memperhatikan dengan detil wajah Hadi, ia amat gembira karena wajah Hadi sesuai dengan harapan dan imajinasinya. Sejak saat itu, Prariwi mulai rajin mencuri-curi waktu untuk pergi ke ladang, menemui Hadi, sang pujaan hatinya. Maka terjadilah suatu ikatan yang pada waktu itu mereka sebut dengan cinta.” Ia diam sebentar.

“Menurutku itu kisah yang bahagia, Nek!”

“Tidak, sampai mereka berdua bertemu dengan Ayahanda Pratiwi dan terlibat dalam suatu perbincangan serius, Cu!” Suaranya sedikit bergetar. “Malapetaka yang membuat mereka berdua harus berpisah. Adalah sang Ayah! Sang Ayah yang berkuasa dan memiliki segalanya itu tidak setuju dengan keadaan Hadi yang yatim piatu dan hanya menyandang gelar sebagai tukang jaga ladang, terlebih ladang itu adalah miliknya sendiri!” ia terbatuk dan nada suaranya terdengar sedikit emosional. Aku dapat melihat raut kebencian tergambar pada wajah Nenek yang tadi begitu teduh.

“Lalu apa yang terjadi kemudian, Nek?”

“Ayahanda menendang dan mengusir Hadi dari kediamannya.”

“Sungguhkah?”

“Zaman dahulu, jodoh di tangan orang tua, Cucuku.” Matanya melirik contang yang hanya tinggal berisi ampas kopi saja, “tolong bantu Nenek berdiri, Cu!”

“Ingin ke mana? Ceritanya belum selesai!”

Matanya melirik ke arahku, “Kita duduk di bawah pohon di tepi situ!

Aku bangun dan memapahnya berjalan hingga kami duduk di bawah pohon yang besar, cahaya bulan jatuh di permukaan situ Cipondoh. Suara jagkrik menjadi musik latar yang alami untuk mengiringi obrolan kami. Pikiranku berputar seperti kunang-kunang di tepi danau, mencoba meresap cerita Nenekku ini, ada satu kata yang mengganjal bagiku, ‘jodoh di tangan orang tua’, jodoh itu di tangan Tuhan, Nek. Tapi biarlah, toh itu hanya Nenekku saja yang bilang.

“Apa yang kau pikirkan, Cu?”

“Akh, tidak! Bukan apa-apa.”

“Sudahlah, mau kulanjutkan ceritanya?” ia melirikku lagi, “sampai mana tadi?”

“Hadi ditendang dan diusir oleh Ayahnya Pratiwi.”

“Oh, ya…” ia menerawang ke atas, kemudian menutup matanya dengan pelan, “Sejak saat itu, senyumnya berubah menjadi amarah, tangisnya menjadi petaka, pratiwi tak lagi sama, pratiwi tak lagi seceria bunga-bunga ranum yang tumbuh di halaman rumahnya, Pratiwi tak lagi selincah ilalang-ilalang yang menari tertiup angin di ladang milik ayahnya. Pratiwi berubah murung dan mengurung diri di dalam kamar selama berminggu-minggu.”

“Apakah berikutnya dia akan mati?”

“Tidak!”

“Lalu apakah Hadi memperjuangkannya?”

Ia membelalakkan matanya, “Sayang seribu sayang, Cu, disaat Ayahandanya mengalah demi kelangsungan keturunannya, pemuda itu, Hadi Mulyo telah mengawini gadis desa yang nasibnya tak jauh beda, sama-sama melarat. Itu membuat hati Pratiwi hancur! Cinta tak pernah berpihak kepada Pratiwi.”

“Setelah dia tahu begitu, apa yang terjadi dengan Pratiwi? Pastilah sagat pedih.”

“Pastilah!” Ia menatapku, lalu membuang pandangannya jauh-jauh ke seberang situ, “Pratiwi mengamuk dan berlari ke dalam hutan, ia terus berlari hingga kakinya lelah dan berdarah karena tertancap akar dan duri-duri, ia berhenti pada sebuah bukit. Ia melihat ke belakang dan memutar badan, desanya, ia telah jauh meninggalkan desanya!” tangannya yang gemetar mengusap peluh di dahinya yang berkerut. Padahal angin di tepi situ lumayan kencang. Anehnya, aku juga ikut berkeringat.

“Ke mana dia pergi, Nek?!” tanyaku antusias.

“Ke sebuah desa di balik hutan!”

“Lalu?” Tanyaku.

“Lalu ia berteriak sekuat tenaga hingga terjadilah gempa dan longsor yang amat dahsyat, menghancurkan pondok-pondok kecil di bawahnya sehingga menciptakan sebuah jurang pemisah antara dirinya dan desa tempat tinggalnya, iapun mengutuk dirinya sendiri. Ia tidak akan mati sebelum menemukan cinta sejatinya.”

Kulihat ada nada kebencian dalam setiap ucapan Nenekku ini, pipinya sudah basah bersimbah air mata, tanpa kusadari. “Di desa tersebut, apakah dia menemukan cinta sejatinya, Nek?”

“Sayangnya, Hadi adalah cinta sejatinya, Cu!” Suaranya mulai terdengar parau, “Dan Hadi telah mati terkubur bersamaan dengan puing dan harapan yang telah mati. Saat itu, Pratiwi menangis tanpa henti di tepi jurang, bertahun-tahun bahkan hingga ratusan tahun, Pratiwi tak hentinya menangis. Dan, dari air matanya yang bercampur dengan hujan, maka terciptalah situ ini, Cu! Hasil dari deraian air mata sebuah kasih yang tak pernah sampai.”

“Kalau begitu, pastilah Pratiwi masih hidup? Kau bilang ia tidak akan mati sebelum menemukan cinta sejatinya!” suaraku agak sedikit gemetar.

Nenek bergeming seperti batu tua yang tergerus gelombang ketidak pastian, seketika dia jadi bisu dan tuli. Tapi baru saja aku dan dia bercakap-cakap. Masa iya dia sejak tadi tak mendengarku? Tidak mungkin, kan?

“Nek, apakah Pratiwi masih hidup?!” kutanya sekali lagi.

“…”

“Nek?!”

“Pratiwi… Tepat berada di sampingmu, Cucuku!”

“KAU!!! PRATIWI!!!”

~oOo~

Di tepi sungai itu, bersamaan dengan riak air dan dedaunan mati, juga semilir angin yang berputar-putar di leher, Pratiwi masih menunggu cinta sejatinya yang gugur dan tenggelam di dasar Situ Cipondoh. Apakah Pratiwi pernah menikah? Tentu, Pernah! Satu kali. Itupun setelah ratusan tahun yang ia lewati dengan tangisan. Namun, Pratiwi masih terjebak dalam kutukannya. Ia tahu kalau cinta sejati itu tidak pernah ada. Entah sampai kapan Pratiwi akan hidup sebagai perempuan penanti. Mungkin hingga ribuan tahun. Atau mungkin, selamanya. Kasih Pratiwi tak pernah sampai. Pratiwi tak akan mati!

 

* Situ: Danau. * Bale/Balai: Bangku panjang yang terbuat dari bambu. * Contang: Cawan atau gelas.

(Cerita ini diikut sertakan dalam Projek Menulis #KasihTakSampai yang diadakan oleh nulisbuku.com)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s