Aku Adalah…

Vendra, lelaki itu tengah meringkuk kedinginan di depan sebuah ruko yang belum dihuni. Sekujur tubuhnya menggigil karena seluruh pakaiannya basah akibat hujan. Memang, malam itu hujan sudah berhenti. Akan tetapi Vendra enggan pulang. Vendra tidak tahu harus pulang ke mana? Ia hanya lelaki perantau yang berniat mengadu nasib di Jakarta, selain itu, ia juga tak punya teman ataupun sanak saudara di kota ini.

Vendra mengatupkan kedua kelopak matanya secara perlahan, ia merasakan ada sebuah kehangatan menyelimuti tubuhnya yang basah, seumpama dekapan seorang Ibu yang sangat ia rindukan di kampung halamannya. Vendra semakin menutup matanya rapat-rapat dan menekuk tubuhnya kuat-kuat.

“Kamu tidak pulang, Nak?”

Vendra masih belum membuka mata, ia hanya menggeleng lemas. Sangat menyedihkan memang, dengan fisiknya yang kurus kering ia harus kedinginan dan kebasahan.

“Hal seperti ini akan menjadi pelajaran bagimu, Anakku!”

“Ibu…” Vendra bergumam.

Perlahan, Vendra membuka mata dan melempar pandangan ke arah samping kanannya. Matanya menangkap sosok laki-laki berkisar 40 sampai 45 tahun, lelaki itu sedang menatapnya. Vendra terkejut ketika sorotan mata dari lelaki itu memancarkan semacam kilatan cahaya biru. Kalau saja ia tidak sedang dalam keadaan seperti itu, mungkin ia sudah lari terbirit-birit.

“Ba-pak…” Suara Vendra gemetar, “siapa?”

“Saya saudaramu, Nak!” jawab lelaki itu dengan suara yang berat.

“Tapi, di kota ini, saya tidak punya sanak saudara, Pak.” Vendra berusaha bangun dari posisi tidurnya dengan susah payah. “Saya sendirian.”

“Bukankah kita semua saudara, Nak?” balas lelaki itu.

“Maksud saya…” Vendra terhenti lalu menjatuhkan pandangan pada cincin bermata besar yang melingkar disetiap jari lelaki itu. “Saudara kandung ataupun keluarga, Pak!”

“Hahaha…” Lelaki itu tertawa kemudian terbatuk, lalu berkata lagi. “Anggap saja kita bersaudara, Nak! Bapak juga sendirian di kota yang megah seperti ini. Rasanya–kau tahu?”

Vendra tanpa kata. Vendra memalingkan pandangan ke tubuhnya sendiri, ia bingung dengan sebuah mantel tebal yang menempel di tubuhnya. Ia bertanya-tanya. Apakah ini milik lelaki yang ada di sebelahnya?

“Tak usah kau pikirkan tentang siapa pemilik mantel itu, Nak!” suara lelaki itu membuyarkan lamunan Vendra.

“Pasti punya Bapak, kan?” jawab Vendra sambil menggaruk kepala.

Vendra berusaha menyesuaikan suhu tubuhnya dengan udara malam yang begitu menusuk tulang hingga ke bagian sum-sumnya, di sisi lain, lelaki itu sedang menggosok salah satu cincin akik yang bermata hitam pekat dengan sebatang bambu yang di potong seukuran telapak tangan.

Vendra berpikir, untuk apa batu itu digosok-gosok dengan bambu? Tidakkah akan malah merusaknya? Lagi pula untuk apa? Tidak juga mengeluarkan Jin yang akan mengabulkan tiga permintaan dan membuat si pemilik jadi kaya raya.

“Anakku!” Laki-laki itu memutar kepalanya ke arah Vendra yang terkejut. “Mau kubacakan sesuatu tentang dirimu?”

“Semacam ramalan?”

“Ya…”

“Tapi, maaf, saya kurang begitu percaya pada ramalan, Pak.”

“Itu kan kata Ibumu?!”

“Bagaimana kau…?” Mata Vendra terbelalak, “sudahlah! Bacakan saja!”

“Baiklah,” katanya, “kemarikan tangan kirimu!” perintah lelaki itu.

Lelaki itu meraih tangan Vendra, mengusapkan telapak tangannya, lalu memejamkan matanya. Ia diam sebentar , kemudian rautya terlihat tidak nyaman, tergambar dari alis dan kerutan di dahinya yang berubah-ubah tak menentu, di balik kelopak matanya sepasang bola mata berputar-putar liar, mulutnya sesekali berdecak. Vendra yang menyaksikan hanya terdiam, bingung. Sesaat kemudian lelaki itu membuka matanya lalu tersenyum. Entah apa maksud dari senyumnya itu?

“Apa yang bapak lihat?” Tanya vendra penasaran. “Apa saya akan mati sebelum saya sukses, Pak?” suaranya pelan.

Lelaki itu membuang napas panjang kemudian tersenyum, “Itu bukan kuasa saya, Anakku.” Jawabnya seraya tersenyum. “Saya yakin kamu tidak ingin tahu, Nak.” Sambungnya.

“Saya ingin tahu, sungguh!” sahut Vendra dengan penuh semangat, “bagaimana dengan masa depan saya, Pak?”

“Kamu akan menjadi orang yang sukses, Nak.” Jawab lelaki itu singkat.

Mata Vendra berbinar seperti seekor serigala yang melihat santapan mewah. Sifatnya juga kini seperti serigala yang tak pernah puas, seolah mendapat umpan yang mudah, Vendra menjadi tidak puas bertanya.

“Lalu bagaimana dengan jodoh saya?” Vendra agak sedikit mendesak.

“Hmmm…” Lelaki itu menggumam, “Kau harus menghadapinya sendiri, Anakku!”  suaranya pelan.

Vendra tertunduk kemudian mulutnya terkunci, entah kenapa, iapun tidak mengerti.

“Jangan khawatir Anakku,” tangan lelaki itu menyentuh bahu Vendra yang tipis, “Kau akan mendapatkannya. Tenang saja.”

Mendengar pernyataan seperti itu wajah Vendra kembali cerah, senyumnya menyeringai kembali seperti serigala.

Ambil saja mantelku, kau lebih membutuhkan itu. Begitulah yang lelaki itu ucapkan kepada Vendra sebelum meninggalkannya sendirian. Sebenarnya masih ada segudang pertanyaan yang tersimpan di benak Vendra, namun apa daya, lelaki itu sudah terlebih dahulu meninggalkannya.

Di malam menjelang pagi itu Vendra mengistirahatkan tubuh dan pikirannya di permukaan lantai ruko yang dingin, hanya berselimut mantel pemberian seseorang yang menyebut dirinya sebagai peramal. Vendra memejamkan mata, di benaknya, ia gatungkan angan dan harapan setinggi mungkin untuk ia gapai esok hari, setelah bangun.

~oOo~

Pukul 07.30 WIB di kediaman Vendra, ia kedatangan seseorang. Wajahnya terlihat semakin pucat, ia bercermin sejenak lalu mengacak-acak rambutnya sendiri, ia terlihat stress. Kemudian ia berjalan menuju ruang makan, di meja makan sudah ada secangkir teh hangat dan sepiring sarapan. Di sebelahnya, sedang duduk Julaika, istri yang ia perjuangkan mati-matian. Satu tahun mereka membangun hubungan, kemudian menikah. Dari hasil pernikahannya yang hanya bertahan selama tiga tahun itu mereka di titipkan seorang anak perempuan yang sekarang berusia dua tahun tiga bulan dan hak asuh jatuh kepada Vendra.

“Tumben, pagi-pagi udah dateng?” tegur Vendra sambil menarik salah satu kursi, “nyiapin sarapan segala.”

“Aku ingin mengajaknya ke rumah Ibu.” Pandangan Julaika memanjang ke pintu kamar Arin.

“Oh…” jawab Vendra datar, “dia masih belum bangun, biarin, jangan dibangunin.”

“Iya aku tahu,” Julaika menarik bangku dan duduk menyamping, “Kamu masih mimpi buruk lagi?” Tanya Julaika.

“Masih.” Suara Vendra pelan, tangannya meraih sendok dan garpu yang berada di sebelah piring sarapannya.

“Masih mimpi yang sama?” Julaika meraih cangkir teh dan mendekatkannya kepada Vendra.

“Tidak, kali ini beda.” Pandangan Vendra jatuh ke bawah dan diam di situ, “di mimpi itu, peramal yang pernah aku temui tujuh tahun lalu datang kepadaku dan tiba-tiba saja berkata ‘apa yang telah kau lakukan kepada keluargaku, itulah yang akan kau terima terhadap keluargamu, aku adalah orang yang akan mengantarmu pada kematian!’, lalu peramal itu tertawa dan berlari-lari sambil mengepakkan kedua tangannya seperti burung. Kemudian peramal itu terjatuh…” Vendra mengambil nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya dengan perlahan.

“Vendra…” telapak tangan kanan Julaika menyentuh pipi Vendra yang terasa dingin, ia sangat khawatir dengan keadaan mantan suaminya ini. Ia takut Vendra jadi tidak waras karena mimpi-mimpi buruknya, padahal kenyataannya, mimpi hari ini adalah mimpi yang sama dengan mimpi kemarin, kemarin lusa, ataupun tiga tahun ke yang lalu, dan itu yang menjadi penyebab perceraian mereka.

Vendra melanjutkan ceritanya dengan gemetar, “setelah itu, dia, peramal yang memberiku mantel saat hujan tujuh tahun lalu itu berubah menjadi seekor burung gereja, ia berputar-putar di atas kepalaku, kemudian jatuh lagi. Saat aku mendekati dan hendak meraihnya burung itu berubah menyerupai segumpal bulu yang halus. Aku mengangkatnya. Kemudian bulu itu hancur dan terbang ke udara lalu melayang pergi terbawa angin. Setelah itu terdengar suara yang menggaung dari seluruh penjuru arah dan menggema di dalam kepalaku, aku tidak bisa melupakan suara-suara itu!” Vendra melempar sendok dan garpu yang ia pegang, lalu ia menutup telinga dengan kedua tangannya. Ia memejamkan mata serapat mungkin. Nafasnya tidak beraturan, wajahnya semakin pucat dan dari kepalanya mengucur keringat yang tidak sedikit. Vendra sangat ketakutan.

“Kamu hanya terlalu lelah…” Julaika mencoba melepaskan tangan Vendra dari telinga. “Istirahatlah sedikit!”

Vendra membeliakkan matanya, lalu memandang Julaika dengan nanar, “Dia akan mencabut nyawaku di depanmu dan anak kita!!” suara Vendra lantang.

Julaika terkejut, tenggorokannya seketika mengering, jantungnya terasa mencelos karena selama ia mendengar cerita mimpi-mimpi dari mantan suaminya itu, baru kali ini ada kata-kata seperti itu. Kali ini Julaika benar-benar merasa gusar.

~oOo~

Satu minggu berselang. Saat itu malam hari ketika bel rumah Vendra berbunyi. Vendra sedang mengerjakan sketsa sebuah gedung, pekerjaannya. Dengan malas, Vendra menyeret langkahnya untuk membuka pintu. Julaika sedang berdiri di sana. Dia tidak sendirian, Julaika bersama seorang laki-laki yang sudah agak tua. Julaika mempersilahkan lelaki tua itu masuk, padahal tuan rumahnya adalah Vendra.

Kedua orang itu berjalan melewati Vendra. Vendra menggeleng karena belum mengerti maksud kedatangan mereka. Vendra mengunci kembali pintunya. Terlihat di ruang tamu Julaika meninggalkan lelaki tua itu sendirian, Julaika hanya ke dapur untuk membuatkan minuman, kebetulan Ibu Yati yang biasa bantu-bantu sedang ambil cuti. Vendra melewati lelaki tua itu untuk menyusul Julaika. Lelaki tua itu bergeming. Hanya menatap ke satu arah, telapak tangannya.

“Siapa itu?” Tanya Vendra kepada Julaika.

Julaika terus mengaduk kopi.

“Hei!!!” Vendra memaksa, tangannya mencengkram lengan Julaika, “kenapa kamu bawa orang itu ke rumahku? Siapa dia?”

Julaika meringis kesakitan. “Dia penafsir mimpi.”

“Penafsir mimpi?” urat-urat di sekiar leher Vendra mulai menegang. Matanya mendelik nanar. “Untuk apa?!”

Julaika menjawab dengan nada sumbang, ia bahkan menekan dada Vendra dengan jari telunjuknya yang mungil. “Mimpi yang sejak dulu menghantuimu itu, aku rasa itu pertanda. Kamu sadar gak sih!” Julaika mengangkat gelas dan meletakkannya pada piring tatak.

“Pertanda apa?!” Vendra memaki.

“Kamu stress!” jawab Julaika merobohkan kesabaran Vendra. Dengan segera tangan Vendra menyambar dan menjatuhkan gelas yang sedang dipegang Julaika. Menciptakan melodi-melodi cadas dan menjadikan kesatuan nada yang tidak harmonis.

Lelaki tua itu masuk, menghampiri mereka seraya berkata, “Kau tidak mengenaliku, Anakku?” lalu ia menyeringai. Tampak begitu jelas garis-garis uzur di wajahnya. Ia berhenti dan berdiri di ambang pintu yang menghubungkan antara dapur dengan ruang tengah.

Vendra memutar pandangannya, memfokuskan pada wajah lelaki tua itu. Vendra menyipitkan matanya, sekarang ia mengenalinya. Ia adalah lelaki yang mengaku peramal, lelaki yang tujuh tahun silam pernah bertemu dengannya, lelaki yang sering muncul dan menghantui mimpinya. Bedanya, kali ini dia sudah lebih tua da keriput.

Lelaki tua itu masih tersenyum dan sedikit tertawa. Vendra merasakan kepalanya berputar, pusing sekali. Ia sedikit goyah dan bersandar pada tepi meja dapur. Sikunya menyenggol sebilah pisau yang sejurus kemudian ia todongkan ke wajah lelaki tua itu. Julaika terperanjat dan menjauh dengan kaki sedikit gemetar. Ia tidak tahu mengapa keadaan menjadi sekacau ini.

“Kenapa kau selalu menghantuiku, Orang tua!!!” bentak Vendra sambil menghunuskan pisau ke wajah lelaki tua itu.

“Kenapa kau tidak memperhatikan kehidupan di sekelilingmu, selain kehidupanmu yang sebentar lagi akan selesai?” jawab lelaki itu dengan datarnya.

“Apa maksudmu?!” Vendra meremas rambut di kepalanya, “Kau yang gila! Kau yang akan selesai, Orang tua! Kau sudah terlalu lama hidup! Kau pula penyebab hancurnya rumah tanggaku! ”

“Kau benar-benar tidak pernah sadar, Anakku.”

Dari arah samping Julaika memukul tangan Vendra yang memegang pisau dengan gagang sapu. Pisau itu terpental dan masuk ke kolong kulkas. Vendra mengerang kesakitan. Ia memutar pandangan nanar ke arah Julaika. Julaika merasa ngeri dengan tatapan mata Vendra, seperti kerasukan iblis. Ia mundur hingga badannya menyentuh sudut ruangan.

Vendra bergerak cepat dan mencengkram leher Julaika yang kurus. Cengkramannya semakin kuat hingga urat-urat tagannya tampak jelas. Julaika megap-megap kehabisan nafas. Vendra seperti tidak sadarkan diri. Bola matanya berputar ke atas, menyisakan warna putih. Begitu pula Julaika. Sesaat saja, tubuhnya melemas, Vendra melepaskan tangannya dari leher Julaika. Lalu tubuh Julaika terjuntai ke lantai. Mata Vendra terbelalak ketika ia mulai sadar. Mulutnya terbuka. Ia sekarang gemetar. Ia tak tahu apa yang baru saja merasukinya. Otot-otot kakinya mulai terasa tak berfungsi, seketika saja ia ikut terjatuh, seluruh tubuhnya kini sejajar dengan lantai dan juga Julaika yang telah tak bernyawa.

Vendra  masih memiliki sedikit tenaga untuk melirik lelaki tua itu. Matanya memutar ke seluruh dapur, ia tidak melihat lelaki itu. Ia menutup mata sesaat. Gelap. Samar-samar ia mendengar dengusan nafas di dekatnya. Ia membuka mata dan terkesiap karena wajah lelaki itu berada hanya lima senti di depan wajahnya. Lelaki itu menyeringai, matanya berkilat-kilat persis seperti kejadian tujuh tahun lalu.

Kemudian perlahan lelaki itu menjauh, gerakannya seperti melayang. Ia menjentikan jarinya dan terjadilah sesuatu yang aneh. Ia membuka mulut lebar-lebar, kemudian mulutnya mulai memancarkan cahaya dan tiba-tiba dari cahaya itu beterbangan burung-burung gereja. Jumlahnya ratusan. Burung-burung itu terbang melingkar mengitari langit-langit. Kemudian suara lelaki itu menggaung, “dirimulah yang menyebabkan semua ini terjadi, Anakku! Ya, dirimu sendiri! Dan kau akan melihat tentang indahnya kehilangan!”  kemudian tergelak suara tawa yang mencekam.

~oOo~

Dua belas tahun berselang setelah kematian Julaika. Kini Vendra dan Arin hidup tenang di sebuah desa di Jambi. Tidak ada lagi terror mimpi ataupun kejadian-kejadian aneh. Vendra telah mengubur masa lalunya bersama Julaika.

Sore ini Arin terlihat tidak bersemangat, ia duduk di anak tangga depan rumahnya dan menyandarkan bahunya pada tiang. Matanya memejam dan tangan sebelah kirinya menopang di dagu, ia tampak sedang memikirkan sesuatu. Lalu terdengar suara klakson mobil dari kejauhan. Itu adalah klakson dari mobil Ayahnya. Perlahan mobil itu memasuki pekarangan rumahnya.

“Loh? Kok anak papa ada di luar sih?” suara Vendra dengan nada sedikit cemas, “masuk yuk!”

Arin membuka matanya. “Papa…”

“Iya, Sayang?” jawab Vendra seraya duduk di sebelah Arin.

“Aku kangen Mama.”

“Hmmm…” Vendra bergumam.

“Pap…”

“Iya…”

“Aku bermimpi.”

“Bermimpi?”

“Iya…”

“Mimpi apa?”

Arin diam sejenak dan memaksa Vendra untuk memfokuskan perhatian kepadanya.

“Mama…”

“Mama?” Vendra merasa bingung sekaligus khawatir, “Mama datang ke mimpimu?”

“Iya, Mama datang.”

“Itu tandanya Mama lagi kangen sama kamu, Kak.”

“Tapi aku lihatnya tidak begitu,” Arin menggeser pandangannya ke Vendra, “Mama bahkan sering datang dengan wajah pucat dan selalu diikuti seekor burung gereja.”

Vendra tersentak, jantungnya berpacu sedikit lebih cepat, “seekor burung gereja?”

“Mama seperti berusaha memberitahuku sesuatu, tapi aku tidak dapat mendengar apa-apa. Aku hanya melihat burung gereja itu membelah diri menjadi banyak dan mengerubuti mama hingga mama tidak terlihat. Dan setiap aku ingin berlari mengusir gereja-gereja itu aku selalu terbangun.”

Vendra terdiam. Tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Tenggorokannya terasa kering. Ia juga seperti sulit bernafas.

“Tidak hanya itu.”

“Tidak hanya itu?” suara Vendra sedikit parau.

“Setiap aku melanjutkan tidur setelah mimpi itu, aku selalu melihat Papa berdiri di atas kepala Mama sambil menangis memandangi kedua tangan Papa.”

Suara Arin yang pelan terdengar seperti petir yang memekakan telinga Vendra. Vendra tidak tahu harus bersikap seperti apa atau harus menerangkan apa lagi. Ia berusaha untuk menahan diri untuk tidak gemetar. Keringat mulai membasai dahi dan telapak tangannya.

“Arin, sebentar.” Kata Vendra mengusap tangan Arin dengan gemetar, “Sudah mau malam, kita masuk ya. Nanti kita sambung di dalam.”

“Iya…”

“Kamu mau jus apel?”

“Boleh…”

Arin mengekor di belakang Vendra. Sementara wajah Vendra diselimuti kegusaran yang tak dapat terbendung lagi.

Vendra menyeret langkahnya ke dapur, sementara Arin memilih duduk di sofa ruang tamu. Arin merasakan pusing di kepalanya. Entah apa penyebabnya. Saat ini ia hanya ingin memejamkan kedua matanya. Tidak lama kemudian Arin sudah terlelap di atas sofa.

Di dapur Vendra sangat gelisah, ia tidak bisa berkonsentrasi untuk mengiris apel, sehingga tangannya ikut teriris. Segera ia bilas dan mengambil plester dari kotak P3K di atas kulkas. Kemudian ia mencuci muka dan memandang ke arah luar jendela. Ia kembali teringat dengan kejadian puluhan tahun lalu. Kejadian yang sudah sangat lama, kejadian yang tak hentinya membuat hatinya gemetar, kejadian yang tak mampu ia lupakan. Bahkan hingga saat ini ia masih terus dihantui mimpi-mimpi yang sama.

Buggh! terdengar suara kulkas yang ditabrak sesuatu. Vendra dengan cepat melihat ke arah belakangnya. Ternyata Arin yang menabrak. Matanya terpejam tapi mulutnya seperti mengucap kata-kata, sangat pelan, tidak terdengar. Arin diam di tempat. Vendra mendekatinya dengan rasa khawatir. Langkanya terhenti ketika Arin mulai membuka mata dengan air mata yang mengalir. Seketika suasana menjadi hening. Suara detik jarum jam seolah menggoyangkan segenap isi dapur.

Hampir selama dua menit mereka saling menatap. Tidak ada pergerakan apapun. Hingga pada akhirnya Arin berteriak dengan suara yang memekakan telinga. “KAU PEMBUNUH!!! KAU YANG MEMBUNUH MAMA!!!”

Arin menjerit dan terus meneriakkan kalimat yang sama. Vendra tidak tahan dan menutup kedua telinganya. Tapi suara Arin tak mampu dibendung. Tidak tahan dengan teriakan Arin, Vendra menutup mata dan entah secara sadar atau tidak tangan Vendra dengan cekatan menyambar pisau yang ia pakai untuk mengiris apel dan segera melemparkannya ke depan. Teriakan Arin sudah tidak terdengar lagi. Vendra masih belum membuka mata. Ia tahu jika ia membuka mata maka ia akan melihat Arin yang tergeletak bersimbah darah. Suasana semakin sunyi. Sesekali terdengar suara dengungan dari mesin kulkas.

Vendra membuka mata secara perlahan. Ia melihat ke depan, berharap Arin baik-baik saja. Ternyata tidak! Arin telah terkapar dengan tenggorokan yang mengeluarkan darah. Vendra berlari dan memeluk tubuh Arin. Ia menangis. Ia menyesal tidak mampu menahan rasa takutnya. Ketakutan yang menghantuinya selalu menghantuinya baik di dalam mimpi maupun pada kenyataan.

Ia masih tidak mengerti apa yang orang tua itu lakukan terhadap kehidupannya. Semenjak bertemu dengan orang itu perlahan kebahagiaannya lenyap. Ia berteriak. Ia memaki. Kemudian ia mengambil pisau yang tergeletak di lantai. Ia memejamkan mata dan melihat wajah Julaika dan juga Arin. Bayangan wajah merekapun kabur digantikan dengan wajah lelaki tua peramal nasib itu yang tersenyum puas. Vendra mengencangkan genggamannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia lalu menghujamkan pisau itu ke dadanya. Dan wajah lelaki tua itupun berubah menjadi sekawanan burung yang terbang berputar dan bersiul-siul kemudian hilang bersamaan dengan melayangnya nyawa Vendra, seorang anak rantau yang hanya sekedar ingin mengubah nasibnya.

~oOo~

Aku adalah burung yang kau mimpikan…

Aku adalah peramal yang kau jumpai…

Sebelumnya kita pernah bertemu, Nak. Sebelum kau datang dan sampai di kota ini. Saat kau masih menebang pohon-pohon di kampung untuk dijadikan kayu bakar yang kemudian kau jual. Tapi sepertinya kau tidak pernah menyadarinya.

Kau banyak menebang pohon. Di atas pohon-pohon yang kau tebangi terdapat sarang-sarang keluarga kami. Kau menebangi semuanya. Menghancurkan semuanya, semaumu!

Saat itu hanya tertinggal satu pohon, dan itu pohon tempat aku meletakkan sarang. Aku mencoba bersiul sekuat tenaga, memekik sekencang yang kumampu. Berputar-putar di sekelilingmu agar kau tidak menebang pohon itu, agar kau tidak menghancurkan sarangku itu, rumahku. Tapi kau tak mendengar. Kau tetap mengayunkan kapak ke batang pohon yang juga rumahku hingga ambruk.

Di sana, di sarangku, ada anak dan istriku. Anakku baru menetas dan istriku sayapnya sedang terluka. Mereka jatuh dan remuk bersama pohon yang kau tebang. Seharusnya kau lebih memperhatikan kehidupan di sekelilingmu, Nak. Ya, aku menyalahkanmu!

Aku menangis, aku memekik, aku bersiul, aku mengepakkan sayapku agar mereka kembali, anak dan istriku. Tapi sia-sia. Mereka telah mati. Aku terbang ke ujung desa menuju goa. Memohon kepada iblis. Meminta diberikan kekuatan untuk membalas dendam.

Aku menyimpan dendam kepadamu anak muda, aku mengingatmu, aku takkan melepaskanmu. Sesugguhnya aku hanya ingin bisa terbang bersama anak dan istriku.  Sekarang semuanya berubah, dan kau yang buat. Kemudian aku akan mengikutimu dan menghancurkan hidupmu. Lebih dari kau menghancurkan kebahagiaan keluarga kami.

Aku adalah hewan yang kau hancurkan habitatnya…

Aku adalah ayah yang kau renggut kebahagiaannya…

Aku adalah…

Aku adalah pengantar mautmu…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s