Untuk Aprilia

Cerita Gue

“Jangan sampai tengah, nanti hanyut!” suaramu memekik dari bibir pantai yang kala itu langit sedang dilukis Tuhan dengan warna jingga. Kamu mencoba memperingatiku, namun aku sama sekali tidak mendengarmu, lebih tepatnya tidak memperdulikan peringatanmu. Aku terus saja berjalan, tidak, tidak benar-benar berjalan tapi setengah berenang menuju senja matahari, entah apa yang aku tuju saat itu, aku terlalu terpesona akan senja dan aku meninggalkamu jauh di belakang dengan wajah yang cemas.

“Kamu jangan cemas!” sahutku dari tengah-tengah air dengan tubuh yang terombang-ambing dan terguncang ombak yang menggulung ganas, “Aku bisa berenang!”.

Aku terus berenang, dan terus berenang sampai aku lelah dan tersapu ombak hingga kembali ke bibir pantai. Aku tersenyum puas, aku berdiri dan berjalan ke tempat kita meletakan barang-barang bawaan, aku tidak melihatmu di sana. Setelah sampai, aku mengambil sebotol air mineral lalu menenggaknya hingga tandas. Mataku mancari-cari di mana dirimu, namun kulihat ada satu pemadangan yang tidak biasa di depanku. Orang-orang ramai berkumpul dan meneriaki seseorang. Seorang perempuan yang terbawa gelombang hingga ke tengah laut.

 

~oOo~

 

“Adik, jangan menangis terus, kita beli ice cream yuk!” katamu kepada adik laki-lakiku yang saat itu berumur empat tahun yang sedang rewel minta dibelikan segala macam mainan dan uangku hanya cukup untuk membeli satu mainan saja.

“Terimakasih,” kataku, “tapi tidak usah, dia memang selalu begini kalau sedang menginginkan sesuatu, tidak usah dibaikin.”

Kulihat, adikku berhenti menangis. Dia, adikku, sedang memandangi wajahmu yang saat itu akupun belum melihat wajahmu. Aku lihat dia mengusap air matanya, lalu bibirnya mengembangkan senyum.

Akhirnya aku mengangkat pandangan ke arahmu. Dan kulihat wajahmu. Persis seperti perempuan yang pernah kukenal pada sepuluh tahun lalu, pada saat usiaku, usiamu juga masih dua belas tahun, atau lebih tepatnya lagi pada saat kita duduk di dalam sebuah kelas yang sama. Kamu, seorang perempuan yang pada saat itu membuatku mengubah cara pandang terhadap teman perempuan, maksudku, lebih dari sekedar teman perempuan. Saat di mana untuk pertama kalinya aku merasa malu untuk sekedar meminjam penghapus, pensil atau meminta selembar kertas dari seorang teman perempuan. Saat di mana aku mulai memperhatikan secara detail tentang seorang teman perempuan, tentang seseorang yang kusebut lebih dari sekedar teman biasa, kamu, Aprilia Gumilang, perempuan manis bermata sipit, berbibir merah mungil, berkulit putih dan selalu mengikat rambutnya dengan karet jepang warna-warni.

“Adikmu sudah tidak menangis lagi,” katamu, “sudah kubilang, kan, semua orang suka ice cream.

“Tidak juga, aku tidak begitu suka,” kataku, “kalau habis makan ice cream sakit gigiku bisa langsung kambuh.”

“Ohh, jadi itu sebabnya kamu tidak suka,” kamu mengarahkan tanganmu yang sedang memegang ice cream ke mulutku, “karena takut sakit?!”

Aku membersihkan ice cream yang menempel pada bibirku dengan punggung tangan, “Sudahlah, aku memang tidak suka.”

“Hehehe…” kamu tertawa lalu menjilati ice cream cokelat yang mulai meleleh.

Aku, kamu dan adikku duduk di sebuah kursi panjang yang terdapat di depan supermarket tempat kita bertemu. Langit mulai sendu, sepertinya akan turun hujan, benar saja, beberapa saat kemudian air-air jatuh ke bumi dan membasahi segala yang ia tiban.

Kulihat, adikku sudah menghabiskan ice cream-nya, kemudian mulutnya terbuka lebar seperti anak singa yang sedang menguap. Dia duduk di antara aku dan kamu. Lalu kucoba untuk merebahkan kepalanya pada pahaku, namun dia, adikku ini menolak, dia lebih memilih untuk tidur di pangkuanmu, April. Dasar! Pemilih sekali adikku ini. Sudahlah, yang penting dia tertidur.

Hujan semakin deras, untungnya kita tidak kehujanan. Aku mulai bertanya-tanya tentang masa lalu. Tidak, bukan sebuah kisah yang menyedihkan. Kita hanya membahas saat-saat kelulusan Sekolah Dasar dulu. Itu saja. Sepanjang obrolan kita yang ringan namun, bagiku, sangat penuh makna itu aku sempat menangkap senyuman yang sejak dulu aku sukai, senyuman yang tidak pernah aku lupa hingga saat ini, saat bertemu denganmu, lagi.

“Jadi sepuluh tahun ini kamu ke mana saja?” tanyamu.

“Itu, pertanyaan yang akan kulayangkan padamu!” Kataku.

“Haha, aku sudah menduga kamu akan bertanya begitu, Bagas.”

“Tidak adil!”

“Apanya?”

“Itu, kamu selalu berhasil membuatku tidak berdaya.”

“Hahaha.” Kamu tertawa.

“Jadi, selama ini kamu ke mana?” tanyaku.

“Lho? Masih ditanya?”

“Iya,” aku mengernyitkan dahi dan menatap wajahmu, “wajib dijawab!”

“Okey,” kamu memutar wajah ke arahku, “aku, pulang, ke Medan.”

Aku menjatuhkan pandangan, menatap air-air yang menggenang pada saluran yang tersumbat daun-daun kering, “Kenapa tidak pamit?”

“Pada siapa?” tanyamu.

“Padaku, April.” Aku menatap matamu.

“Sudahlah, tidak penting lagi.” Lalu kamu membuang pandangan ke arah jalan raya yang sepi. “Kamu tahu, aku hanya beberapa tahun di sana. Aku pergipun bukan karena ingin. Bahkan aku tidak merasa betah tinggal di sana.”

“Lalu kenapa tidak kembali saja?”

“Apa yang bisa dilakukan anak perempuan yang pada saat itu berumur dua belas tahun, Bagas?” suaramu agak tinggi, namun tidak membangunkan adikku yang tertidur pulas.

“Maaf,” aku menggaruk-garuk lutut, “aku hanya merasa kehilanganmu, bahkan sampai saat ini.”

“Akupun.” Katamu.

“Maksudmu?”

“Kamu lupa?” kamu menatapku lagi, kita sekarang saling tatap, “saat itu, saat teman-teman, terutama Via, Hani dan Sari menjodoh-jodohkan kita?”

“Aku tidak mungkin lupa.”

“Apa kamu belum mengerti?”

“Saat itu, mungkin aku belum mengerti,” aku menatap matamu semakin dalam, “namun saat ini, aku lebih dari sekedar mengerti.”

Hujan berangsut reda, adikku sudah sadar dari mimpi indahnya tidur di pangkuan bidadari. Aku menghidupkan mesin motorku dan menawarkanmu untuk sekalian kuantar pulang (saat itu aku belum tahu kalau kamu tinggal di mana). “Aku membawa mobil!” jawabmu dari dalam mobil, “lagipula tempat kita tinggal tidak seberapa jauh.” Katamu sambil menutup jendela mobil. Kitapun berpisah pada langit sore yang berwarna jingga, lebih jingga dari biasanya dan ada lengkungan pelangi yang terlukis dengan sempurna. Saat ini, aku bertemu Aprilia, perempuan dari masa lalu, dan sepertinya akan menjadi masa depan.

 

~oOo~

 

Aku membuka mata dan cahaya putih terasa panas menyambar kedua mataku, rupanya kamu, sedang membuka gorden kamar yang berhadapan langsung dengan matahari dan pantai. Lalu kamu membuka jendelanya, dan kamarpun seketika terasa sangat dingin. Aku menarik selimut hingga sebatas leher, aku dapat melihatmu membentangkan tangan dan membiarkan angin membelai rambut dan baju tidurmu yang tipis. Aku melihatmu yang nampak seperti siluet saja.

Empat tahun setelah pertemuanku, kamu dan adikku yang sekarang sudah besar itu membuat kita berada di sini. Di sebuah penginapan sederhana di dekat Pantai Biru untuk merayakan honeymoon. Dua hari sudah kita berada di sini dan kamu sangat senang.

Setiap sore hari kamu selalu berjalan di bibir pantai untuk bermain air, atau sekedar jalan-jalan saja. Kamu berteriak memanggil namaku dan aku akan dengan segera berlari menghampirimu. Kamu mengambil sebatang ranting yang terdampar terbawa oleh ombak, kamu mengukirkan beberapa huruf, huruf pertama yang kamu ukir adalah hufur “A”, kemudian “P”, kemudian “R”, kemudian “I”, kemudian “L”. Lalu di bawahnya kamu ukir namaku kemudian kamu membingkainya dengan subuah love yang besar. Aku melihat senyuman bidadari di wajahmu, April. Aku berkata dalam hati untuk bersumpah menjaga dan melindungi senyuman itu dari siapapun, jikalau ada yang berani merebutnya, maka akan kurenggut pula nyawanya.

Hari semakin sore dan matahari bersiap untuk beristirahat. Kita duduk berdua di bibir pantai untuk menyaksikan detik-detik matahari tenggelam. Kepalamu bersandar pada dadaku, dan tangan sebelah kananku merangkul bahumu yang mungil.

“Senja begitu indah, sayang.” Katamu.

“Iya, April.” Kataku.

“Terutama saat mataharinya tenggelam.” Katamu lagi.

Aku tak membalas perkataanmu, aku hanya mengecup keningmu, matamu, hidungmu, lalu bibirmu sesaat sebelum kembali ke penginapan untuk menuntaskan hasrat dan kewajiban bersama.

 

~oOo~

 

Pada senjakala yang menawan di Pantai Biru berpuluh-puluh tahun berikutnya. Aku berdiri di bibir pantai (tentunya dengan kaki yang tidak sekuat ketika pertama kali berdiri disini bersamamu, April) untuk mengirimimu surat yang kutulis dan kumasukan ke dalam sebuah botol, setiap tanggal 18 April aku akan menulis sebuah surat yang berisikan permintaan maafku padamu, dan itu tidak pernah lupa kulakukan.

Aku mencoba mengingat kejadian beberapa puluh tahun silam, aku tahu ingatanku sudah tidak sebagus saat muda dulu. Tapi kejadian ini tidak mampu aku lupakan, bahkan kejadian ini sudah menjadi hantu dalam diriku sendiri.

Kejadian di mana kamu yang saat itu mencemaskanku tiba-tiba berlari ke tengah pantai untuk menyelamatkanku, dan bodohnya aku tidak tahu kalau kamu berlari ke tengah pantai, padahal aku tahu kamu sama sekali tidak bisa berenang. Yang aku tahu saat aku kembali, aku tidak melihatmu di tempat kamu berdiri dan berteriak saat itu, yang aku lihat saat itu hanyalah kerumunan orang yang berteriak meneriaki seorang perempuan yang kemudian aku tahu itu adalah kamu.

Kemudian, aku segera berlari untuk mengejar dan menyelamatkanmu, namun aku ditahan oleh orang-orang itu, mereka bilang kamu sudah tenggelam, dan terbawa arus yang membawamu jauh, dan tidak mungkin diselamatkan. Itu salah mereka yang tidak membiarkanku menyelamatkanmu, setidaknya biarkan aku tenggelam bersamamu.

Selama bertahun, bahkan berpuluh tahun aku terjebak dalam penyesalan karena telah kehilanganmu, tapi menurutku, akulah yang telah membunuhmu. Selama itu pula aku terus mengirimkan surat tak berbalas ini ke bibir pantai. Di tempat kamu menuliskan nama kita di pasir yang keemasan saat senja. Setiap surat yang kumasukkan ke dalam botol, tersempil secuil harapan untuk segera sampai kepadamu. Kemudian ku hanyutkan, perlahan botol itu menjauh dari bibir pantai, semakin jauh kemudian tersapu ombak dan menghilang. Persis seperti caramu pergi waktu itu.

Pada senja ini, kutulis untukmu, sebuah surat yang yang kembali kumasukan ke dalam botol, dan akan menjadi surat yang terakhir.

Aku berlari dengan tergopoh dari bibir pantai menuju ke garis tenggelam matahari. Aku, lelaki tua berumur delapan puluh tiga tahun mencoba berlari menembus gelombang pantai yag kuat dengan susah payah, terdengar suara tulang-tulangku beradu satu sama lainnya, rasanya sakit sekali.

Air Pantai Biru yang airnya kini tak lagi biru terasa perih ketika cipratannya mengenai bola mataku yang mulai rabun, namun lebih perih lagi jika aku terus dihantui rasa kehilanganmu, atau rasa membunuhmu.

 

April… Aku telah sampai di tempat terakhir kali orang-orang itu melihatmu.

April… Aku tidak dapat berlari lagi.

April… Aku memandang surat di dalam botol yang ku genggam.

April… Aku tertunduk.

April… Aku menangis.

April… Aku tidak berdiri lagi.

April… Aku mengambang.

Menunggu tersapu ombak.

 

“April, Istriku, apa kabar kau di sana? Aku berharap kau baik-baik saja bersama Tuhan.

Oh ya, kali ini aku yang secara langsung mengantarkan surat ini. Bukan ombak, angin, senja, ikan, atau apapun. Tapi kali ini aku.

Aku tak berharap kau kembali. Karena di sini. Aku akan abadi bersamamu.”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s