Di Atas Meja Berwarna Merah Darah

“Maaf sudah terlalu lama mengulur waktu untuk berpisah.” adalah sejumlah kata-kata yang dengan sukses membuat otakku berhenti mencerna sebuah makna. Kata-kata yang kalau boleh kubilang adalah kata-kata tertajam yang pernah diucapkan seorang wanita. Terlebih kata-kata itu diucapkan oleh kekasihku sendiri, ya masih kekasih, tentunya pada saat sebelum dia mengirimkan kalimat-kalimat pengantar kepergiannya itu kepadaku.

Aku masih belum mengerti, tidak—aku mengerti kalau dia ingin putus denganku, yang belum atau tidak aku mengerti adalah mengapa? Mengapa dia ingin mengakhirinya. Mengapa dia ingin mengakhiri hubungan yang nanti tanggal 19 baru akan genap satu tahun? Mengapa dia mengakhiri disaat aku baru memulai suatu hubungan yang serius?

Maaf, aku tahu. Sejuta pertanyaanpun tidak akan terjawab kalau tidak kutanyakan langsung padanya. Namun sayangnya, dia, kekasihku, maksudku, mantan kekasihku ini sudah tidak dapat aku hubungi. Dan sepertinya dia sangat rela kehilanganku. Ya, buktinya saja dia yang memutuskan hubungan kami.

~oOo~

Aku berada di sebuah restoran sederhana, sambil menunggu pesanan matang aku duduk dan memilih meja yang berdekatan dengan kaca jendela. Kulemparkan pandangan kesegala penjuru restoran. Kupilih tempat duduk yang berada dekat kaca jendela adalah agar aku dapat melihat ke luar. Kalau hanya menunggu tentu akan sangat membosankan bukan?

“Boleh duduk di sebelahnya?” Tanya seorang wanita dengan nada lembut.

“Ya…” jawabku.

Wanita itu menarik kursi dan duduk dengan perlahan. Diletakannya tas berbahan kulit di atas meja. Dia menyisir rambut hitamnya yang panjang dan hitam. Semerbak harumnya menyergap lubang penciumanku. Kulihat wajahnya yang sangat elok, matanya sedang menatap jalan. Aku mengagumi caranya menatap sesuatu, begitu dalam. Diam-diam kuperhatikan cara dia menatap. Sangat anggun, sangat dalam, tentunya juga sangat mempesona. Lalu pandanganku turun sedikit ke hidungnya. Sangat pas, tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil pula. Aku memuji betapa Tuhan terlalu sempurna menciptakan makhlukya yang satu ini.

Celaka! Aku langsung tidak bisa bergerak ketika tertangkap basah saat sedang memperhatikannya.

“Kenapa ya?” Tanya wanita yang mengenakan sweater warna merah marun.

“Ngg… tidak apa-apa, kok.”

“Hooo…”

Aku berusaha keras untuk membuang wajah ke depan laptop. Namun, yang terjadi adalah aku hanya diam. Memandang lurus ke dalam matanya. Mata yang indah, kali ini benar-benar indah. Aku seperti terperosok ke jurang yang gelap. Matanya begitu bulat dan hitam. Aku menyukainya. Ahh… aku tidak pernah tidak menyukainya, bahkan sejak pertama berjumpa. Pada saat ini, benar. Aku jatuh hati. Kepada dia. Wanita bersweater merah marun.

Seolah di wajahnya terdapat sinar yang terpancar warna-warni, seperti terlintas cahaya lampu yang biasa kubuat blur menggunakan kamera digital milikku, seperti lengkungan pelangi yang ceria dikala hujan telah berhenti, kemudian dia tersenyum. Senyum yang selalu membuat sebuah lubang di pipinya, lesung. Aku menyukainya. Seperti kolam, segera aku ingin melompat kedalam lesung itu dan berenang sepanjang hari, seperti cangkir, segera ingin kutuangi kopi dan kusesap hingga tandas. Aku tidak bisa melupakan senyuman itu, senyum mengembang beserta lesung pipi itu.

Kami terus berdialog hingga tidak kami sadari bahwa makanan yang ada di meja kami sudah habis. Setelah kubayar makanan kami berdua, aku memutuskan untuk segera kembali ke kantor. Dan dia, kembali ke tempatnya bekerja. Sebelumnya aku sempat meminta nomor ponselnya, namun dia memberikan alamatnya kepadaku.

Akhir pekan nanti aku akan menemuinya.

~oOo~

Sudah enam akhir pekan kami lalui bersama. Mengawali akhir pekan dengan senyuman dan tawa, dan mengakhirinya dengan lelah dan perpisahan, tentunya pekan depan akan bertemu lagi. Kuhentikan laju mobil di depan pagar rumahnya yang rapat. Kupelankan volume musik dari mp3 di dashboard mobil. Kugeser pandangan ke arah dia yang sedang bersiap-siap untuk keluar mobil. Perlahan, kuberanikan diri untuk meraih tangannya. Aku dapat merasakan hangat dan lembut tangannya. Aku menatap matanya yang jeli, binar matanya memancarkan aura bagaikan Malaikat.

“Aku ingin bicara.” Aku berkata kepadanya.

“Apa?”

“…”

“Bilang saja!”

“Aku tidak kuasa.”

“Lho?”

“Kamu, sudah seperti Malaikat bagiku.” Kataku.

“Berlebihan sekali kamu.”

“Tidak! Aku serius.”

“Ooh…”

“…”

Lantunan lagu Hanya Untukmu ~ Ten 2 Five mengalun lembut mengalir keluar dari mp3 di dashboard mobilku. Namun, di antara kami berdua seperti terbangun sebuah sekat yang sunyi. Kami terjebak dalam diam, dalam keheningan. Aku menundukan wajah. Kemudian tangan halusnya mengelus lembut pipiku, darahku berdesir, dadaku berdegup cepat tak seperti biasanya, entah Malaikat mana yang merasuki jiwaku. Sesaat saja, bibir kami saling terpaut. Akan tetapi hanya kecupan ringan saja dan dengan segera kami menghentikan aktifitas itu. Dia menatapku, dan menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Kamu… Seperti lagu itu… ” Kataku.

“…” Dia diam, sepertinya masih belum menemukan kata-kata yang pas.

Lalu kami saling tatap kembali. Tangannya mengusap rambutku dan kini tatapannya semakin dalam, aku dapat merasakan ragaku tersedot ke dalamnya. Perlahan, dengan penuh perasaan kubelai lembut bibirnya dengan ujung jariku, aku meminta dia. Dan terjadilah sebuah ciuman lagi, kali ini sebuah ciuman yang panjang.

~oOo~

Sudah 49 minggu setelah ciuman panjang itu, kami berjanji dan bersepakat untuk menjadi sepasang kekasih.


 

-27 Januari-

Kita bisa bertemu akhir pekan nanti?”

2 Februari-

“Kalau ada waktu kita pergi ke Bogor, di sana ada wisata baru. Akhir pekan kita pergi!”

9 Februari-

“Hai! Nona… Aku ingin bertemu, harus dengan persetujuanmu.”

16 Februari-

“Balas dong… Aku rindu!”

-18 Februari-

“Apa kamu sakit?Aku akan langsung datang ke rumahmu!”

 


 

Ada banyak pesan yang kukirimkan kepadanya belakangan ini. Aku tidak tahu dia ke mana, tiba-tiba menghilang begitu saja. Aku mendatangi rumahnya. Tapi petugas yang menjaga rumahnya berkata kalau si pemilik rumah sedang keluar untuk jangka waktu yang lama. Aku meminta nomor yang bisa dihubungi, tapi petugas itu tidak bisa memberikan apa-apa.

Aku bergegas untuk segera pergi dari tempat itu. Aku menuju tempat di mana pertama kali kami bertemu. Aku datang bukan untuk makan, aku hanya sekedar duduk mengenang ketika tempo hari kupandangi wajah beserta bola mata, hidung, bibir dan lesung pipi seorang gadis yang seperti Sang Dewi.

Kupandangi seberang jalan. Kulihat pantulan bayangan diriku di kaca restoran. Aku tersenyum berusaha menyembunyikan kesedihanku. Sebenarnya, hati ini terlalu rapuh jikalau berhadapan dengan hal-hal semacam ini, aku, selalu rapuh. Ponselku berbunyi, ada sebuah pesan yang masuk. Aku membukanya dengan tergesa-gesa. Seketika saja jantungku seperti berhenti berdegup, hatiku seperti terjatuh dan hancur. Aku mati, aku kaku, pikiranku tidak jalan mungkin nafasku juga sesaat lagi akan berhenti.

Kekasihku, tidak, bukan. Wanita itu mengirimkan sebuah kata pengantar perpisahan. Perpisahan hubungan kami yang satu hari lagi akan genap satu tahun. Rencanaku mengajaknya berwisata untuk merayakan Anniversarypun gagal. Tidaklah terlalu penting soal berwisata itu. Namun hubungan kami. Satu tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menjalin hubungan. Hanya dengan sebaris kata-kata dia mengakhirinya begitu saja. Persetan dengan semua cinta yang pernah kuucapkan, tentang semua sanjung yang kulantunkan, tentang satu tahun merajut hubungan, persetan! Aku memang tidak mengerti, mungkin sama sekali tidak pernah. Tapi ada yang lebih tidak aku mengerti lagi, yaitu dia, ada apa dengannya, Malaikat dan Sang Dewi pencabut nyawaku?

-Pesan Masuk; 0812345678910; Pukul; 13:19 WIB-

Maaf, aku sudah mengabaikanmu beberapa minggu ini. Bukan maksudku berbuat begitu, namun keadaanlah yang menuntutku seperti ini. Aku tidak bisa denganmu, waktuku tidak egois hanya untuk bermain bersamamu, kamu tahu, aku bukan Malaikat atau Sang Dewi yang sering kau ucapkan untukku. Kau tahu, satu tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk main-main, aku merasa kamu tidak akan serius denganku. Jadi, aku pergi. Maaf sudah terlalu lama mengulur waktu untuk berpisah.

Terimakasih untuk segalanya.

~oOo~

Pada malam hari di sebuah restoran, ada kejadian yang menggegerkan. Membuat takut pengunjung, pemilik bahkan yang hanya sekedar lewat saja. Bisa disebut juga sebagai sebuah tragedi, di mana sebuah restoran beraroma lezat seketika berubah aroma menjadi bau amis dan anyir, lalu di satu meja dekat jendela ada seorang pengunjung yang awalnya hanya duduk selama enam jam tanpa memesan makan atau minuman kemudian tewas mengenaskan dengan garpu makan yang tertancap pada tenggorokannya. Di tangan kirinya terlihat urat nadi yang terputus disayat pisau oleh dirinya sendiri dan di tangan yang sama juga terdapat sepasang cincin yang sudah tercampur dengan gumpalan darah.

Di atas mejanya ada sebuah kotak cincin berwarna merah, lebih merah daripada darah yang mengalir dari tenggorokan dan tangannya. Di atas meja ada gumpalan darah yang begitu banyak. Di atas meja ada seorang, bukan, semayat manusia yang terbutakan oleh cintanya. Di atas meja ada segumpal perasaan yang tidak tersampaikan. Di atas meja ada hati yang tersakiti. Di atas meja lelaki itu meregang nyawa.

Iklan

4 pemikiran pada “Di Atas Meja Berwarna Merah Darah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s