Lelaki Berwajah Gelap Itu?

Ada saatnya aku berhenti mengejarmu, Hans. Yaitu disaat kamu tidak ingin menangkapku lagi. Sesungguhnya, bukan aku tidak ingin mengejarmu, hanya saja aku selalu takut berlari tanpamu, aku takut ketika aku terjatuh kamu tidak ada untuk mengulurkan tanganmu dan membantuku bangkit. Aku juga terlalu takut berjuang untukmu. Karena secara tidak langsung kamu telah memastikan bahwa aku hanya akan berjuang sendirian. Itu karena kamu menghilang.

Hans, beberapa malam yang lalu kita dipertemukan di sini, di sebuah halte dekat persimpangan jalan yang tidak pernah sepi kendaraan. Halte yang mengantarkan kita pada sebuah kisah sederhana yang siapapun pasti merasakannya. Jatuh cinta. Sebuah halte yang membuat kita mengtasbihkan sebuah janji untuk selalu bersama. Sebuah ikatan. Aku tahu cinta kita terlalu cepat, namun bukan berarti kamu bisa pergi dengan cepat pula.

Siang ini, aku duduk di sini untuk mengingat beberapa hal. Namun ada satu hal yang selalu ingin kuingat, yaitu ketika aku membaca sebuah cerita dan lelah. Aku sangat rindu membaca hingga lelah. Karena disaat itulah akan selalu ada kamu dan pundakmu yang kokoh untuk aku bersandar, akan selalu ada mulutmu yang jujur yang akan membacakan ceritanya hingga selesai, juga ada tangan hangatmu yang menggenggam jemariku hingga terlelap. Aku rindu itu, Hans, aku rindu kamu.

Secara sadar itulah yang kita lakukan beberapa malam belakangan ini, Hans.

Tetapi aku selalu sedih ketika mengingat kejadian di suatu malam. Saat itu kita sedang merencanakan masa depan dan tiba-tiba saja aku tertidur di pelukanmu. Beberapa menit aku terpejam kemudian aku terjaga, dan kamu sudah menghilang tanpa jejak. Setelah malam itu, malam-malam berikutnya kamu tak pernah datang lagi menemuiku.

Hans, aku masih duduk di halte ini. Duduk di bawahnya mungkin saja dapat membuat beberapa rinduku hilang. Tentunya tidak benar-benar hilang, hanya tersalurkan saja.

Angin membelai rambutku yang kugerai lepas. Bersamaan dengan itu gumpalan awan berwarna kelabu datang menyelimuti teriknya matahari. Kuangkat pandangan tinggi-tinggi. Kemudian, satu-persatu, secara beraturan jatuhlah butiran-butiran air dari langit, semakin lama butir itupun menjadi tidak beraturan. Hujanpun turun dengan deras.

Kututup mataku dan aku mulai menikmati percikan air-air halus yang menerpa pori-pori wajah. Kurasakan sejuk dan dinginnya angin yang membawa rambutku naik turun. Lalu aku berjalan menuruni tangga halte dengan perlahan dan hati-hati.

Sekali lagi aku memejamkan mata. Sekarang aku berdiri di tengah hujan. Kutengadahkan tangan ke atas membiarkan rambut dan pakaianku basah. Andai saja kamu ada di sini, Hans. Kamu pasti tidak akan membiarkanku melakukan hal ini.

“Kenapa kamu melakukan hal ini?” terdengar suara dari arah halte. Tetapi aku tidak memperdulikannya. Aku terus saja berdiri dan menghadapkan wajah ke atas, ke arah langit yang sedang memberikan berkahnya.

KAMU TIDAK BOLEH MELAKUKAN HAL INI!!!” sekarang, suara itu terdengar bagai petir yang menyambar telingaku, terasa panas dan perih. Yang membuatku terkejut tak lain karena suara itu terdengar seperti suaramu, Hans.

Aku tersenyum lalu menoleh ke belakang, kupikir aku akan melihat wajahmu, tetapi yang kudapati hanyalah sosok lelaki tua yang sedang duduk membungkuk dengan rambut putih panjang sebahu.

“Kamu nanti akan sakit! suaranya kini lebih pelan dan terdengar memang seperti suaramu. Perlahan aku memutar badan dan berjalan ke arahnya. Kuperhatikan wajah lelaki tua yang sekarang tertunduk itu, wajah itu terlihat sangat gelap dan dalam. Melihatnya seperti sedang melihat malam tanpa bulan dan bintang.

Rasa penasaranpun menuntun kakiku bergerak menuju tempat di mana lelaki tua itu berdiri. Aku berjalan menaiki tangga halte secara perlahan karena kaki-kakiku mulai terasa kesemutan dan sebentar lagi akan kram.

“Anda siapa?” tanyaku pelan.

“…”

“Paman, anda bisa mendengar saya?” perlahan kuarahkan tangan ke pundak lelaki tua itu, tetapi tiba-tiba gerakanku terhenti. Seketika kurasakan aura di sekitar kami berubah. Angin dan hujan yang sedari tadi sangat deras tiba-tiba saja lenyap dan aku seperti terlempar ke dimensi yang berbeda, namun dalam situasi yang sama.

Aku panik! Aku ingin teriak! Aku ingin melarikan diri dari tempat ini, tetapi semua usahaku percuma. Pada kenyataannya tubuhku hanya bisa mematung dan hanya pikiran dan kelopak mataku saja yang bekerja.

Dengan sangat pelan sekali lelaki tua itu berkata, “Aku dengar…” lalu dia membenamkan wajahnya pada kedua telapak tagannya yang gemetar, “Elle…”

Aku sangat takut mendengar dia mengetahui namaku, “A-anda tahu siapa saya?” tanyaku terbata.

“…”

“Anda siapa?!” suaraku gemetar.

“…”

“SIAPA!!!” aku berteriak! Anehnya yang kurasakan mulutku tetap terkatup tetapi suara teriakanku menggaung saling bersahutan, seperti sedang berteriak di dalam goa. Perlahan suara gaungankupun mulai menghilang dan dengan segera keheningan menyelimuti kami berdua.

“Tentu aku tahu siapa kamu,” lelaki tua itu memecah sunyi, “Ini aku…” kemudian ia menegakan punggungnya, “HANS!!!”

Hatiku serasa mencelos mendengar nama yang baru saja ia sebutkan. Dia menyebutkan namamu, Hans! Sebenarnya, apa yang sedang terjadi? Ada apa denganmu?! Apakah ini benar dirimu? Atau aku sedang berada di dunia yang tak nyata?

“Apa maksud anda?!”

“Elle, aku Hansmu,” lelaki tua yang mengaku kamu ini menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya ke atas. Tapi aku tidak mengenali wajah itu. Oh! Astaga! Bahkan lelaki itu tidak memiliki wajah. Hanya berbentuk permukaan gelap dan dalam. Jangan kira aku tidak takut. Kau sudah tahu aku tidak dapat bergerak pada dimensi ini, kan?

Kupenjamkan mata untuk menutupi rasa takutku, tetapi sama saja. Malah semakin gelap.

“Buka matamu.”

“Tidak! Aku tidak berani…” aku membantah.

“Kau takut apa?”

“Terjebak di tempat gelap… Wajahmu itu…”

“Tidak selamanya terjebak itu buruk. Gelap adalah warna yang sempurna. Cahaya tidak akan bercahaya tanpa gelap. Bukalah matamu!”

Aku membuka mata. Aku dibuat bingung dengan secara tiba-tiba kamu telah berada di hadapanku, Hans. Bukan lelaki tua dengan wajah gelap itu lagi. dan saat ini juga aku ingin beranjak dari tempatku untuk segera memelukmu. Tetapi tidak ada yang bisa bergerak, aku masih mematung.

“Maksudmu?” tanyaku sedikit gemetar.

“Kamu tidak akan tahu seberapa terang cahaya tanpa adanya gelap. Kamu tidak akan melihat bintang dan bulan bila langit di atas kepalamu tidak pernah gelap. Kamu mengerti maksudku? Gelap tidak selalu buruk.”

“Tetapi, saat itu kamu pergi dan membiarkanku dimakan gelap dan aku tidak dapat mencarimu di tengah kegelapan, apakah itu tidak buruk?” Air mata menitik di sudut mataku dan haya tinggal menunggu melelehnya saja, “Yang tidak kumengerti adalah kamu ke mana malam itu?!”

“Aku tidak pernah satu centimeterpun pergi darimu, Elle” katamu.

“Lalu kamu di mana?!”

“Aku, di kakimu. Membayangimu.”

“Aku semakin tidak mengerti, Hans.”

“Kita tidak sama, Elle,” suaramu pelan, “Aku adalah bayangan. Saat siang, aku akan selalu berada di bawahmu. Tapi ketika malam aku terpenjara dalam dimensi kegelapan. Hingga pada saat itu, aku berhasil berontak keluar dan bertemu denganmu di halte ini.”

“Jelaskan lebih detail, Hans?!”

“Di duniaku, alam gelap. Aku medapat bagian untuk mengarahkan dan mengawal langkahmu melalui sebuah bayangan. Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai merasakan ada sesuatu yang aneh menyentuh bagian dalam dadaku. Aku mulai mengagumimu, perlahan akupun jatuh cinta kepadamu.” Paparmu kepadaku.

“Jadi kau adalah mahluk yang menyamar menjadi Hans?”

“Tidak! Aku benar Hans yang kamu kenal! Aku keluar dan menyalahi kodratku sebagai sebuah bayangan.”

“Aku mengerti. Kalau begitu, mulai sekarang aku sudah tidak takut gelap lagi!”

“Alasannya?” tanyamu.

“Seperti yang kau bilang. Gelap tidak selalu buruk. Hanya dengan gelap aku bisa berbicara denganmu, hanya dengan gelap kamu bisa hadir di sisiku! Seperti saat ini, ketika awan gelap menyelimuti matahari, dan kamu ada di sini!”

“Kamu benar,” katamu, “Sekarang pejamkan lagi matamu!”

“Untuk apa?”

“Turuti saja!”

Aku menuruti perintahmu, kupejamkan kedua mataku. Aku menunggu perintah selanjutnya untuk membuka mata. Tetapi tidak ada lagi suaramu, yang kudengar hanya kesunyian. Apakah kamu pergi lagi, Hans? Tidak! Jangan pergi lagi. Aku sudah tidak bisa menangis lagi jika kamu pergi. Sudah terlalu banyak air mata yang keluar hanya untuk mewakili perasanku yang teramat dalam padamu. Hans, jangan pergi lagi. Kumohon.

Tubuhku sudah bisa digerakan. Pertama, kugerakan kedua tangan ke wajahku untuk menutupi kesedihanku. Setelah sekian menit aku menangis (ternyata air mataku masih ada, masih tersisa untuk menangisi kepergianmu yang kedua). Lalu kubuka kedua mataku secara perlahan, bahkan perlahan sekali. Hal pertama yang kulihat adalah seseorang yag benar-benar ingin kulihat. Kamu, wajahmu, senyummu dan matamu yang sipit. Aku merasa lega sekali, tentu saja karena kamu tidak menghilang lagi.

“Aku pikir kamu akan menghilang, Hans!” kataku sambil mengusap air mata di atas pipiku.

“Aku di sini, Elle.” Jawabmu.

“Paman itu, ke…”

“Lenyap!” Katamu.

“Aku tidak mengerti?” tanyaku kepadamu.

“Tidak semua hal perlu kau mengerti, Elle.”

“Baiklah. Setidaknya, kita bersama untuk saat ini, Hans.”

“Hanya saat ini?” tanyamu.

“Maksudmu??” aku balik bertanya.

“Kamu lihat? Sudah tidak gelap lagi di sini. Dan aku masih di depanmu.”

“Kau bilang akan menghilang?”

“Aku sedang mencoba melawan, dan berjuang untukmu.”

“Kamu tidak akan ke maa-mana lagi kan?” tanyaku ragu.

“Tidak akan pergi ke mana-mana lagi!” Jawabmu dengan yakin.

“Sampai kapan kamu bisa seperti ini, Hans?”

“Mungkin selamanya,” katamu, “Asal bersamamu.”

Aku tersenyum, dan kamu tertawa. Kamu sangat lucu ketika tertawa karena bila tertawa matamu hanya seperti garis saja.

Di atasku, langit masih belum terang sempurna, masih ada beberapa gumpalan mendung dan sedikit gerimis. Lalu pelan-pelan matahari mulai menampakan wajahnya, cahayanya perlahan mengusir mendung yang sedari tadi menggelayut dan menjadi parasit baginya.

Aku segera berdiri untuk memelukmu, Hans. “Aku ingin mencium pipimu kali ini.” Batinku. Kamupun berdiri. Kini sudah tidak ada lagi lelaki tua berambut putih dan berwajah gelap itu, yang ada di hadapanku hanyalah kamu, Hans, kekasihku. Jangan pergi lagi. Jangan menjadi bayagan lagi. Tetaplah nyata untukku. Karna itu janjimu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s