Untuk Aprilia

Cerita Gue

“Jangan sampai tengah, nanti hanyut!” suaramu memekik dari bibir pantai yang kala itu langit sedang dilukis Tuhan dengan warna jingga. Kamu mencoba memperingatiku, namun aku sama sekali tidak mendengarmu, lebih tepatnya tidak memperdulikan peringatanmu. Aku terus saja berjalan, tidak, tidak benar-benar berjalan tapi setengah berenang menuju senja matahari, entah apa yang aku tuju saat itu, aku terlalu terpesona akan senja dan aku meninggalkamu jauh di belakang dengan wajah yang cemas.

“Kamu jangan cemas!” sahutku dari tengah-tengah air dengan tubuh yang terombang-ambing dan terguncang ombak yang menggulung ganas, “Aku bisa berenang!”.

Iklan

Di Atas Meja Berwarna Merah Darah

Cerita Gue

“Maaf sudah terlalu lama mengulur waktu untuk berpisah.” adalah sejumlah kata-kata yang dengan sukses membuat otakku berhenti mencerna sebuah makna. Kata-kata yang kalau boleh kubilang adalah kata-kata tertajam yang pernah diucapkan seorang wanita. Terlebih kata-kata itu diucapkan oleh kekasihku sendiri, ya masih kekasih, tentunya pada saat sebelum dia mengirimkan kalimat-kalimat pengantar kepergiannya itu kepadaku.

Aku masih belum mengerti, tidak—aku mengerti kalau dia ingin putus denganku, yang belum atau tidak aku mengerti adalah mengapa? Mengapa dia ingin mengakhirinya. Mengapa dia ingin mengakhiri hubungan yang nanti tanggal 19 baru akan genap satu tahun? Mengapa dia mengakhiri disaat aku baru memulai suatu hubungan yang serius?

Lelaki Berwajah Gelap Itu?

Cerita Gue

Ada saatnya aku berhenti mengejarmu, Hans. Yaitu disaat kamu tidak ingin menangkapku lagi. Sesungguhnya, bukan aku tidak ingin mengejarmu, hanya saja aku selalu takut berlari tanpamu, aku takut ketika aku terjatuh kamu tidak ada untuk mengulurkan tanganmu dan membantuku bangkit. Aku juga terlalu takut berjuang untukmu. Karena secara tidak langsung kamu telah memastikan bahwa aku hanya akan berjuang sendirian. Itu karena kamu menghilang.