Sehati, Selamanya

Kamu menggenggam jemariku, kita melangkah beriringan. Lucunya, kamu mengikuti ayunan langkahku. Jalanan malam itu begitu tenang dan dingin. Aku sangat menikmati waktu ini, waktu berdua denganmu, dan tak ingin terpisah.

“Kenapa kamu melangkah seperti itu?” aku memecah dingin.

“Biar kita selalu sehati, Louis.” Katamu.

“Lalu senyuman itu?”

“Untukmu, Lou.” Lalu kamu menyandarkan kepala di bahuku.

Sungguh perjalanan malam yang tidak ingin kulupa. Bergandengan di bawah lampu jalan dengan udara dingin yang mengitari leher kita sehingga membuatmu memeluk erat lengan sebelah kiriku. Aku mengusap rambutmu yang bergelombang dan kuletakan tanganku pada bahumu yang ramping.

Kita terus berjalan hingga sampai pada tepi jalan raya. Lampu lalu lintas berwarna merah. Mobil-mobil menghentikan lajunya, lampu-lampu menyoroti langkah kita, seolah kita sedang menari di atas panggung. Lalu kita menyebrang untuk menuju rumahmu dan sekaligus aku mengantar kamu pulang.

Kupandangi wajahmu, kamu sangat cantik dengan senyum seperti itu, senyum yang boleh kubilang senyuman Malaikat. Karena setiap kamu tersenyum selalu ada rasa tenang dan damai pada jiwaku, bukan sedang gombal, aku hanya mencoba untuk jujur padamu.

Langkahmu anggun seperti sedang menari-menari di atas aspal hitam bergaris putih selang-seling. Aku sudah tak ingat berapa kali kamu menyebrang dengan senyum dan langkah seceria itu. Kamu selalu melakukannya.

Tapi aku hanya dapat menikmati senyum itu tak berapa lama. Dan saat ini berbeda. Senyummu telah lenyap dirampas kenyataan. Kenyataan yang memaksa kita untuk tidak bisa melangkah beriringan lagi, sebuah kenyataan di mana kamu harus pergi selamanya.

Malam ini genap dua bulan setelah kamu pergi dan aku mengalami kecelakaan. Untung saja aku masih bisa ditolong karena ada orang baik hati yang mendonorkan hatinya untukku. Begitu yang ku dengar dari dokter yang merawatku.

~oOo~

Malam itu aku berdiri di pinggir jalan untuk sekedar mengingat momment yang pernah kita lakukan sepanjang menjalani hubungan denganmu. Aku terus berdiri hingga sendi-sendi kakiku rasanya mau copot.

Aku mengingat bagaimana setiap kali kita pulang latihan teater kamu selalu meminta kita untuk melewati penyebrangan ini, jalan memutar dan penyebrangan yang sama, padahal ada jalan yang lebih dekat untuk mengantarmu pulang. Pernah satu kali aku menolak, dan wajahmu seperti ingin membunuhku. Sejak saat itu aku tidak berani menolak ajakanmu lagi.

“Irene, bukankah akan lebih jauh?”

“Supaya bisa lebih lama bersamamu, Lou.” Ucapmu.

Sekarang aku mengerti apa tujuanmu memutar jalan. Aku semakin mencintaimu. Sungguh.

~oOo~

Ini adalah malam yang kelam untuk kisahku, Aku dan Irene harus berpisah. Ayah dan ibunya yang memaksa. Katanya aku dari kasta yang lebih rendah. Aku sungguh tak dapat menerimanya. Aku marah dan ingin memukul, terutama lelaki congkak yang berkumis putih itu, Ayahmu. Tapi kuurungkan, aku tidak ingin membuatmu bertambah sedih sedih.

Hujan mengguyur jalan yang sudah mulai sepi. Pukul dua dini hari aku menjerit di sini, meneriaki namamu di bawah lampu lalu lintas yang semakin merona, aku terus berteriak hingga lunglai, aku benci aku, lebih tepatnya keadaanku.

Saat ini aku merasa seolah tempat itu telah merekam  jejak demi jejak yang telah kita lalui. Seperti menyaksikan reka adegan sebuah film, kali ini aku melihat kita yang berjalan lelah dan wajahmu yang mulai lesu namun memaksa untuk tersenyum. Aku tidak mengerti pertanda apakah ini.

Tiba-tiba aku teringat celotehmu yang mengatakan kita akan selalu sehati dan aku ingin lebih lama bersamamu.

Ketika itu aku tak kuat membendung air mata, aku menangis dan menjerit sekali lagi. Namun, jeritanku tergerus derasnya suara hujan.

Dengan posisi bersimpuh aku melihat bayangmu di zebra cross. Kamu tersenyum, melangkah dan menari-nari. Kamu terlihat lebih bersemangat dari biasanya. Wajahmu ceria sekali. Tubuhmu bercahaya. Apakah kamu lebih bahagia seperti ini, Irene?

Aku terhenyak!

Bodohnya aku bila terus menangisimu. Bukankah hatiku ini juga milikmu? Tanganku memegang dada. Setiap langkahku, senyumku, tangisku, gelisahku, bukankah kita lakukan bersama? Inikah yang kamu maksud sehati? Aku bangkit dan dan kau mulai memudar.

“Tidak, jangan menghilang lagi!” jeritku.

Aku berlari ke arahmu, aku tak memperdulikan keadaan sekitar, aku terus berlari sekuat tenaga dan… “BLAMMM!!!” tubuhku dihantam mini bus yang melaju membabi buta.

Aku terkapar di tengah jalan, setengah sadar aku masih sempat melihat wajah orang yang menabraku itu panik sebelum kemudian meninggalkanku di trotoar jalan.

Kini kesadaranku semakin tipis. Irene, lihatlah aku. Tak berdaya tanpamu. Aku terluka. Mungkin aku tak akan selamat.

~oOo~

Aku merasakan hal yang tak biasa, dadaku semakin terasa sesak. Sangat tidak nyaman untuk bernapas. Irene, aku melihat cahaya putih silau, aku ingin melangkah kesana namun, Irene, aku melihatmu, kamu berada di sana, di ujung cahaya itu.

Sekali lagi aku berlari mengejarmu berharap mampu untuk mengapaimu, aku terus mengayunkan langkah yang payah ini demi meraihmu. Ketika aku sampai di ujung cahaya perlahan cahaya itu membias, kamupun menghilang, entah ke mana? Kemudian aku tebangun dan mendapati kerumunan orang yang mengenakan pakaian serba hitam. Sebagian dari mereka ada yang  menangis. Di situ aku melihat Ibu dan Ayahmu, ada Ibuku juga.

Aku berusaha berlari mendekati. Namun, tubuhku seperti orang sakit. Tak kuat melangkah. Ketika aku sadar, aku memang benar2 sakit, aku berada di atas kursi roda. Aku tak berdaya.

Dari kursi ini aku dapat melihat apa yang tak ingin kulihat. Kenyataan di mana namamu yang tertera di nisan itu.

“Seharusnya aku! Aku!!!!” aku memaki diriku sendiri, kemudian menangis sekali lagi.

Ibumu datang mendekatiku, memelukku dan kemudian menangis.

Ibumu bilang kamu akan selalu bersamaku lebih lama lagi. Setiap nafasku, tawaku, tangisku dan kemanapun aku melangkah, kamu akan selalu bersamaku, detak jantungmu akan selaras dengan denyut nadiku.

Irene, aku mengerti, ini yang kamu maksud dengan ‘biar kita selalu sehati,’ kan?

Terimakasih, Irene, telah memberiku kesempatan yang kedua untuk hidup, kali ini aku yang akan selalu memelukmu, menggenggamu, menjagamu hingga suatu saat nanti kita bercerita di ruang yang sama.

Iklan

4 pemikiran pada “Sehati, Selamanya

  1. salam kenal yaa. mampir balik donk..
    — katamiqhnur.com —
    nggak bakalan rugi deh kalo kamu berkunjung ke situ. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s