Cappucino Cinta

Cerita Gue, Fiksi

Di CafeNista.

Saya masuk dan berjalan menuju meja yang sebelumnya sudah saya pesan. Malam ini Cafe tidak terlalu ramai, lumayan lah untuk acara nge-date pertama saya dengan Disha. Ya, ini pertama kalinya saya dan Disha bertemu. Sebelumnya, Disha adalah teman curhat yang saya kenal di Yahoo Messenger.

Disha anaknya cantik, baik, perhatian dan yang bikin saya berani untuk mengajaknya bertemu adalah karena dia sudah bisa membuat saya Move On dari Riri.

“Piyo, kan?” tanya Disha.

Seketika saya kaget, karena dari tadi saya bengong dan pikiran saya berkeliaran ke mana-mana.

Untuk kedua kalinya saya kembali bengong karena alasan yang lain, “Gile! Ternyata Disha suaranya empuk banget!” batin saya.

”I-iya… Disha?” lalu saya berdiri. “Ayo, silahkan duduk, Dis.” Entah kenapa saya jadi salah tingkah.

“Iya.” Disha tersenyum.

Kemudian pramusaji datang membawa menu makanan.

“Piyo, kamu pesan apa?” tanya Disha.

“Haah? …” sahut saya dongo.

“Iya pesan apa?”

Aahh! kenapa saya jadi mendadak bego begini di depan Disha. Sambil menggaruk-garuk kepala untuk menghilangkan grogi saya bilang ke pramusaji itu “Saya, pesan Cappucino aja, Mas.” kemudian Pramusaji itu  mencatatnya dengan cekatan. Sementara Disha masih bingung mencari-cari menu makanan atau minuman apa yang akan dia pesan.

“Kamu mau pesan apa, Dis?”

“Ummm… apa ya? Ini deh, Jus Stroberi aja ya, Mas.”

Cappucino satu, sama Jus Stroberi satu ya, Mas,” kata saya mantap.

“Baik, Grak!” kata Pramusaji itu sambil mepraktikan gerakan ala Paskibra.

Tidak berapa lama minuman yang kita pesan tersaji di atas meja. Saya tidak pernah menyangka malam ini terasa manis sekali, setelah beberapa bulan yang lalu perasaan saya dibuat hancur dengan sebuah kisah yang menurut saya “Klasik”.

Dan akan lebih manis lagi kalau malam ini saya bisa mendapatkan hatinya Disha.

~oOo~

Semakin hari Disha semakin perhatian, begitu juga saya. Mulai dari hal yang penting seperti menanyakan saya untuk Sholat, sampai ke hal yang menurut saya tidak begitu penting, semisal “Kamu lagi ngapain? Jangan Lupa (titik-titik) ya!”

Ada pepatah yang mengatakan kalau cinta dapat merubah segalanya.

Yap! Saya setuju.

Disha dari yang awalnya cuek sekarang jadi perhatian dan saya dari yang kemarin jelek, sekarang jadi mendingan.

Setelah saya amati. Saya pikir Disha sudah jatuh di sisi saya. Atau lebih tepatnya saya yang ingin Disha jatuh di sisi saya.

Sekarang, hampir setiap detik saya dan Disha BBM-an, kalau sudah bosan BBM-an lalu kami berganti teleponan (padahal yang dibahas sama saja), kemudian chatting-an di Facebook, mention-an di Twitter.

Pokoknya persis seperti yang pernah saya lakukan dengan Riri.

Ahh! Riri lagi kan!

~oOo~

Malam ini Disha ingin bertemu di CafeNista. Dia bilang mau menjelaskan sesuatu kepada saya setelah sebelumnya tidak pernah menghubungi saya selama satu minggu belakangan.

Seperti biasa saya sampai lebih dulu, kali ini Cafe sangat ramai. Saya juga sudah memesan minuman kesukaan Disha, Jus Stoberi! Dan saya, tentu Cappucino, keduanya sudah tersaji di atas meja. Namun, diluar sedang turun hujan, hal ini bisa saja membuat Disha datang lebih terlambat lagi.

Saya memilih tempat duduk yang berdekatan dengan kaca jendela. Alasannya, agar bisa melihat Disha turun dari mobil dan saya akan segera membawakan dia payung. Romantis. He he he.

Butir-butir air yang jatuh di atas kaca menjadikan kaca sedikit berembun dan membuat saya tidak bisa melihat ke luar. Saya mengusap kaca tersebut dan mata saya mulai berhalusinasi. Di kaca itu, samar-samar memantulkan wajah Riri yang perlahan mendekat dari belakang.

Dan… ternyata itu bukan halusinasi.

“Piyo…?”

Perlahan saya menoleh ke belakang.

“Tuh kan! Bener ini kamu,” Kemudian Dia duduk di depan saya.

Saya hanya diam.

“Kok kamu diem sih? Kamu apa kabar? Lagi nunggu siapa?” Riri memberondong pertanyaan. Sementara saya masih diam. Entah karena pertanyaannya yang sangat sulit atau karena saya memang malas menjawab.

“Yo, kok diem aja sih? Jus-nya aku minum nih!”

“Ehh!, Jangan… jangan…!” Saya menggeser gelas-gelas lebih dekat ke badan.

Keheningan bertengger di atas meja kami.

Saya masih duduk diam dengan sikap sempurna memperhatikan secangkir Cappucino dan Jus Stroberi. Sekuat mungkin saya menahan pandangan untuk tidak melihat ke arah Riri yang sekarang tertunduk.

“Yo, kita balikan ya. Kita nikah!”

“Gak bisa, Ri!”

Sebentar, biar saya jelaskan sedikit.

Jadi, Riri adalah perempuan yang pernah menjalin hubungan dengan saya selama hampir lima tahun dan saya berjanji untuk meminangnya. Tapi ketika niat mulia itu saya utarakan, hubungan kami malah tidak dapat restu dari Orangtua Riri dan memaksa Riri untuk mengakhiri hubungan kami.

Sudah hampir enam bulan kami tidak saling menghubungi dan selama enam bulan pula saya masih belum sepenuhnya ngelupain Riri. Belakangan saya mengetahui Riri sudah mempunyai kekasih baru dan ini yang membuat saya berpikir untuk segera Move On darinya.

“Segampang itu?” suara saya tegas.

“Aku tahu bukan segampang ini.” suara Riri pelan.

“Jadi, selama enam bulan ini kamu kemana aja?” Saya menatap Riri, “Setelah kejadian itu, kamu gak pernah hubungin aku, bahkan kamu hapus semua tentang kita. Aku juga gak bisa nelepon kamu!”

“Piyo, dengerin aku dulu, aku gak bisa ngelawan Orangtua, Yo! Coba ngertiin posisi aku!”

“Ngertiin kamu?! kamu anggap apa hubungan yang sudah kita bangun selama hampir lima tahun?” Saya hampir lepas kontrol, “Malah aku denger kamu punya pacar baru! Kamu udah ngecewain aku!”

Seperti terbakar Riri menggebrak meja, “YA UDAH TERSERAH!!!” Riri bangun dan pergi keluar Cafe.

Setelah kejadian itu orang-orang yang berada didalam Cafe memandang saya dengan sinis. Pasti mereka pikir saya sudah menghamili Riri tetapi enggan bertanggung jawab.

Sudahlah…

Tiga jam sudah saya menunggu, berkali-kali saya memeriksa telepon genggam barang kali Disha memberi kabar. Tetapi tidak ada satu pesanpun dari Disha. Hingga Cafe hampir tutup Disha masih belum memberi kabar.

Saya terus memandangi gelas-gelas yang berdiri di atas meja, dan sejenak saya berpikir kalau Riri adalah secangkir Cappucino ini yang rasanya pahit tetapi setelah habis rasa manisnya terasa nikmat, tak tertandingi, dan lengket di lidah.

Sedangkan Disha adalah Jus Stroberinya, manis, asem, berwarna merah muda, menarik dan dingin, siapapun yang meminumnya akan merasa bahagia, tapi bila terlalu lama didiamkan seperti ini pasti rasa manisnya akan berubah menjadi hambar.

Saya meminum Cappucino yang sudah dingin.

~oOo~

Satu bulan berlalu tanpa kabar dari Disha. Saya kembali ke CafeNista sendirian untuk sekedar minum kopi. Saya memesan dua gelas minuman. Sambil menunggu pesanan datang, saya memperhatikan meja ini.

Minuman sudah datang, kini di meja tersaji segelas Jus Stroberi dan secangkir Cappucino yang cantik dengan motif love di atasya. Seketika saya teringat Riri yang malam itu kehujanan dan sebelumnya menggebrak meja di sini. Saya mengusap meja bekas gebrakan Riri. “Apa kabarnya Dia ya?” lalu saya langsung menenggak habis Cappucino itu.

Oh ya, saya pernah mengibaratkan mereka seperti minuman ini. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, bukan mereka yang seperti Cappucino atau Jus Stroberi, tapi saya. Saya yang tidak mengerti cara menikmati secangkir Cappucino, dan saya yang terlalu lama mendiamkan Jus Stroberi sehingga rasanya menjadi hambar.

Tapi..

“Drrttt…Drrtt…” Handphone saya bergetar, ada telefon dari nomor yang belum terdaftar dikontak.

Saya terima, “Hallo?”

Kemudian saya segera bergegas pergi meninggalkan Cafe yang Nista itu. Tapi, tunggu dulu! Saya lupa sesuatu. Apa ya? Ahh… Jus Stroberi. Biarlah, lagi pula saya lebih suka Cappucino.

Iklan

2 pemikiran pada “Cappucino Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s