Seharusnya Cinta Mampu Mengalahkan Jarak

1

Aku sering memainkan gitar dan bernyanyi di tempat ini, ruang dengan luas 4×6 meter persegi yang aku sulap menjadi panggung super megah hanya dalam hitungan detik. Dari sini, dari atas panggung, aku menyalami para gadis-gadis yang meneriakkan namaku. Tapi sekali lagi, semua itu hanya bisa aku lakukan di sini, di dalam kamarku. Sebenarnya, aku tidak bisa bermain gitar, suaraku juga tidak terlalu bagus, atau lebih tepatnya memang tidak bagus. Tidak jarang Ibuku sering protes ketika aku mulai bernyanyi.

Aku juga sangat menyukai Fotografi, hobi yang menurutku paling menguras energi, betapa tidak, karena dalam memotret aku harus bertaruh dengan momment ataupun komposisi yang ada. Aku lebih suka memotret landscape atau journal. Aku tidak suka memotret model setengah bugil yang mematung menuruti apa perintahku. Aku juga sangat mahir menggoreskan kuas di atas kanvas, melukis apapun yang terekam oleh memori otakku. Tapi aku lebih senang melukis wajah. Sebagian dinding kamarku penuh dengan lukisan wajah orang-orang dengan bermacam-macam ekspresi, mereka terabadikan disini. Disebagian sisi lainnya kutempelkan beberapa hasil fotoku yang menurutku, tentu tidak terlalu buruk.

Sesaat kemudian aku memandang Sang Dinding. Dan aku kaget setengah mati mendengar gema dinding yang menghasilkan suara semacam, berondongan pertanyaan.

“Lukisan sebanyak ini, mau diapakan?” tanya Sang Dinding yang membuat bulu tengkukku merinding.

“Tentu saja, untuk dinikmati!” dengan lantang aku bersuara.

“Siapa yang menikmati?” ia kembali bertanya.

“Aku!”

“Lalu?”

“Apa?!”

“Foto-foto itu?”

“Untuk diabadikan, tentu saja!” sahutku.

“Saya tersakiti dengan paku-paku ini!”

“Lalu mau bagaimana?”

“Lepaskan mereka, Tuan!” pinta Sang Dinding.

“Tidak! lalu apa gunamu?!” aku memaki dan memukul Dinding kamar, Arrghh! Sakit, batinku. Lagipula bagaimana bisa kau tersakiti? Kau begitu tebal, kau begitu dingin, kau begitu tinggi dan kokoh. Mustahil bisa menembus dan melukaimu.

Aku termenung di tengah kasur. Menatap dingin Dinding kamar, namun ia membalas dengan aura yang tidak kalah dingin. Aku mulai terhanyut, perlahan aku merasakan sakitnya tertusuk paku, namun bukan paku yang sesungguhnya, tapi, patah hati yang sakitnya melebihi dihujam paku.

Pelakunya, Maryus, kekasihku yang baru saja aku lepas, atau mantan kekasih. Adalah gadis menawan yang memiliki hati seperti dinding, kuat, tak mudah goyah, dan keras, masalahnya dia keras kepala. Maryus tidak menyukai caraku mencintainya, aku sudah mencoba untuk merubah caraku, namun sepertinya Maryus tetap pada tinggi hatinya. Hingga akhirnya, Maryus memintaku untuk melepaskan segala yang berkaitan dengannya, termasuk hubungan kami.

Malam hampir habis, Dinding kamar mulai merintih dan mengancam akan merobohkan diri kalau paku-paku ini tidak lekas dicopot. Merobohkan diri? Batinku, Aku pernah roboh, tepat setelah Maryus memutuskan untuk tidak lagi memperpanjang perasaannya terhadapku. Yang berbeda, adalah dinding yang perlahan kubangun kemudian roboh lalu menimpa diriku sendiri. Rasanya? Tentu saja sakit. Memangnya apa lagi?!

Aku masih belum beranjak. Aku menikmati dialog dengan Dinding kamar pada malam yang kian menipis ini.

~oOo~

Praaannnkk!!!! Sebuah foto dengan ukuran 30×40 centimeter lengkap dengan pigura terjatuh dan kacanya hancur berantakan.

Aku berteriak, aku memaki Sang Dinding “Oh! Kau berani menggertak!”

“Begitulah kau jadinya kalau tidak melepaskan!” suara itu menggaung.

“Bagaimana?!” aku mengepalkan tangan.

“Lihat saja!”

“Berantakan?”

“HAHAHA…” Dinding tertawa puas, merasa menang dan yakin kalau aku akan goyah dan melepaskan paku-paku itu.

Tidak!

Aku pernah pernah berantakan. Tentu saja, Maryus yang melakukannya, dan sepeninggal Maryus aku tetap membiarkan hati ini berantakan, bahkan berserakan.

Apakah kamu tahu, Maryus? Berserakan tanpa ada yang merapikannya kembali itu sama saja terbuang tanpa ada yang mengakui. Coba kamu lihat puing-puing itu! Aku tidak ingin seperti itu. Mereka bersama, namun sesungguhnya saling sendirian.

Mataku mulai terasa panas. Bukan karena ingin menangis. Lagipula aku tidak mungkin menangis, ini karena cahaya matahari mulai menembus kabut kegamangan di dalam kamarku.

Dinding kamarpun sudah tidak bersuara lagi, aku yakin dia sudah putus asa membujukku. Aku menghempaskan badan kekasur busa yang nyaman. Satu hal yang tidak benar-benar aku lepaskan mengenaimu, Maryus, yaitu perasaan nyaman, seperti saat kasur ini menyambutku. Meskipun satu hal… kita belum pernah sekalipun bertemu.

 

2

“Sekarang tuh era digital, Sist! Apa-apa dijual di internet!” celetuk gadis berbibir mungil, kira-kira semungil kacang polong. Tapi entahlah, aku tidak dapat memastikannya, karena aku tidak pernah mengukurnya.

“Iya, sepakat!” sambut gadis berambut blonde, kali ini aku yakin rambutnya buatan bujang salon yang minta dipanggil dengan sebutan mami.

“Kalau gue sih biasa belanja online, nih! baju sama celana gue nyarinya di Instagram!” ujar gadis berkacamata sembari menunjukkan foto di layar handphone kepada temannya.

“Jangan-jangan nanti pemilihan Presiden votenya lewat media sosial, Sist!” sergap gadis berbibir mungil kembali membuat statement dan diikuti dengan sahutan kedua temannya, “Embeeeerrr!!!”

Begitulah sepenggal percakapan tiga gadis manis yang dapat kurekam dari meja makan kantin kampus pagi ini. Dari percakapan mereka aku tidak mengerti tentang pemilihan Presiden melalui media sosial, tapi menarik juga, seperti apa ya jadinya? Huss~ sudahlah, lagipula bukan urusanku.

Ketiga mahasiswi itu terus berbicara mengenai berjualan di Instagram. Ya, aku menguping. Aku dengar ketika mereka bilang kalau fungsi Instagram sudah beralih menjadi lapak berdagang.

Karena penasaran aku segera memasang aplikasi untuk berjualan itu, aku berniat untuk menjual lukisan dan foto-foto yang telah kuhasilkan. Aku memberi nama akunku dengan @ABIMANYUARAYA , itu nama lengkapku, tentu tidak eyecatching untuk sebuah nama toko, ya kan? Sudahlah, aku memang kurang kreatif kalau soal branding. Lagi pula aku hanya mencoba. Tidak ada salahnya mencoba, kan?

Berikutnya aku mengunggah satu lukisanku yang sebelumnya sudah kufoto, lukisan wajah seorang lelaki berusia sekitar 40 tahunan dengan giginya yang kuning sedang tersenyum sumringah dan matanya yang mengecil saat tersenyum mengguratkan garis kelelahan disekitar wajahnya. Tampaklah kalau beliau adalah lelaki yang sangat periang dan tentu saja pekerja yang ulet. Itu lukisan pertama yang kubuat sekitar tujuh tahun silam, Ayahku.

Lukisanku berhasil terpublikasikan, kemudian satu komentar masuk.

_____________________________________________

PutriMariaYusril: I Love (art) You!

ABIMANYUARAYA: Terima kasih, Maria :))

_____________________________________________

Itu adalah sepotong percakapan aku dan Putri Maria Yusril, namun aku lebih senang memanggilnya Maryus.

Akibat sepenggal percakapan yang sangat singkat itu, sekarang aku jadi lebih sering memposting lukisanku di Instagram ketimbang memberitahu Ibu atau temanku, kenapa? Karena ada Maryus.

Saat ini aku memutuskan untuk menjual hatiku, tentunya kepada dia yang selalu membuatku merasa hadir.

~oOo~

Aku semakin rajin berselancar di Instagram. Seperti terbudaki oleh media yang satu ini aku tiada henti mengunggah gambar demi gambar.

Dan di lukisanku yang lain;

______________________________________________________

PutriMariaYustrin: Awesome, I love (art) You!

ABIMANYUARAYA: Haha, harus selalu sama ya?

PutriMariaYustrin: Menjual lukisan ya, Abi?

ABIMANYUARAYA: Oh, ya, tapi sekarang tidak lagi, Panggil aku Raya.

PutriMariaYustrin: Baiklah, Jagad Raya.

ABIMANYUARAYA: Kalau begitu, berikan saja alamatmu!

PutriMariaYustrin: Tidak mau, ah!

_____________________________________________________

 

Aku tidak membalas.

Maaf Maryus, bukannya aku tidak ingin membalasmu, tapi aku sedang menjalankan kewajiban sebagai seorang mahasiswa. Aku berharap kau ada di sini, di sebelahku dan membuatkanku secangkir kopi, tanpa gula.

Setelah 120 menit yang menguras energi selesai, aku segera membuka kolom komentar, dan… ah, kamu membuatku senyum-senyum sendiri.

 

_____________________________________________________

PutriMariaYustrin: Tidak mau, ah!

PutriMariaYustrin: Hey, pemarah!

PutriMariaYustrin: Hubungi aku saja dinomor ini, 08123456xxx

            ____________________________________________________

Sesaat kemudian aku tenggelam dalam samudera Whatsapp.

Banyak yang kau ceritakan, mulai dari hobimu berpose di depan lensa kamera, melantunkan nada-nada yang indah, oh ya, kamu lebih suka musik klasik, kamu bilang musik klasik memiliki nada yang lebih kaya, namun sepertinya aku tidak mengerti, aku tidak begitu mengerti menegenai harmonisasi nada.

Kamu juga menceritakan tentang pertama kali kamu bernyanyi di sebuah cafe di Yogya. Aaahh.. aku agak sedikit kecewa ketika mengetahui kamu berdomisili di Yogyakarta. Jarak kita begitu jauh. Walau sebenarnya tidak terlalu jauh, namun kalau benar kamu berada di sana, itu artinya aku harus siap berhubungan jarak jauh denganmu, Maryus.

Aku tidak tahu apakah kamu siap?

 

 

3

“Hai pemalas! cepat bangun! Lihat matahari sudah tinggi! Kau tidak malu!”

Sekian pesan singkat yang masuk ke telepon genggam milikku, isinya selalu sama. Pesan yang selalu membuatku tersenyum, yang selalu membuatku ingin mengalahkan matahari, yang selalu membuatku ingin lebih banyak menenggak kopi super pahit, yang selalu membuatku ingin lebih erat memeluk Maryus setiap malam, yah.. meskipun hanya melalui emoticon Whatsapp.

Kemudian aku melempar pandangan ke arah jendela. Pagi hingga malam ini Jakarta diguyur hujan lebat. Aku melirik pesan Maryus.

Kalian tahu? Sudah lima bulan kami saling mengirim kode dan berbalas pesan, menurutku, sekarang saatnya aku mengiriminya perasaan yang tentunya harus dia balas dengan jawaban.

Aku segera membalas pesan darinya. Namun aku malah bertanya:

“Maryus, apakah di Yogya sedang hujan?”

“Memangnya kenapa?”

“Apakah arti keberadaanku saat ini?”

“Kamu?”

“Bukan, Raya?”

“Kenapa tiba-tiba melankolis?”

“Aku tak pandai berdialog.”

“Ummm… kamu itu…”

“Baiklah. Bagaimana perasaanmu?”

“Baik-baik saja.”

“Tidak. Maksudku… ah sudahlah, aku menyerah!”

“Kalau begitu temui aku!”

“Dengan begitu kau akan memberi jawaban?”

“Belum tentu! Kecuali saat ini juga!”

 

Pertemuan pertama kami adalah pada malam ini, di kamar ini, aku di kamarku, Maryus di kamarnya. Melalui Skype kami saling bertatap wajah, bertukar pandang, saling melirik mesra, membelai jarak. Ya, tentu saja ‘jarak’.

Percayalah, saat ini aku begitu lirih mendapati kenyataan hanya bisa memilikinya dari jarak yang sejauh ini. Tidak, tidak terlalu jauh, hanya saja Maryus terlalu tinggi. Terlalu tinggi untuk kudaki dan kurengkuh, terlalu kuat untuk kujejakkan bendera perdamaian. Dalam kata lain komitmen untuk saling menjaga.

Aku sangat senang melihat Maryus yang begitu ekspresif, aku seperti menonton drama TV. Tapi Maryus tidak sedang bermain drama. Malam ini Maryus banyak bercerita tentang hobinya yang lain. Maryus berkata kalau dia sangat suka membaca novel-novel Romantic, Maryus juga senang menulis cerpen ataupun puisi, namun Maryus begitu tertutup, sekalipun dia tidak pernah membacakanku sebait puisi ataupun membagi secuil ceritanya padaku.

~oOo~

Sudah setengah malam kuhabiskan berbicara dengan Maryus. Sedari tadi Maryus sibuk bercerita tentang dirinya. Bodohnya, aku malah tak bisa membantahnya, tidakkah aku terlalu baik? Astaga! Sekarang aku gelisah. Bukan apa-apa, tapi sebagai seorang lelaki aku butuh sebuah kepastian. Entahlah, Maryus tidak pernah berbicara tentang perasaannya, kalian tahu sendiri tentang itu kan?!

“Kau mengantuk?” tegur Maryus dari layar monitor.

“Tidak.” Jawabku sambil mengerjapkan mata.

“Kau benar ingin jawaban itu sekarang?” ujar Maryus dengan nada suara yang agak meninggi. Mendengar pertanyaan Maryus yang seperti itu seketika saja aku menjadi lebih bersemangat. Kalian tahu seperti apa tampangku? Seperti anak kecil yang kegirangan mendapatkan mainan baru, seperti itulah.

“Ya, tentu saja, Maryus.” Aku duduk dengan tegap.

“Seperti ini saja. Kau bermasalah dengan jarak?” ia bertanya lagi.

“Tidak.”

“Aku bermasalah! aku tidak bisa menjalani seperti ini. Kita ini memang sangat klise. Aku di sini dan kamu… entahlah! Aku mencintaimu yang berada di balik layar laptopku. Aku tidak bisa menyentuhmu!” suara Maryus sedikit bergetar.

“Bukankah kita hanya perlu komitmen, Maryus?”

“Itu tidak cukup!”

“Lalu utuk apa penantianku selama ini? Aku pikir kita cukup mengerti, kita hanya perlu menjalaninya. Masalah jarak tidak masalah, kita masih bisa saling berkomunikasi. Aku mencintaimu! Maryus!” aku berbicara dengan nada yang amat tinggi. Akibatnya, Maryus lansung memutus sambungan Skype dan aku, hanya memandang pekatnya layar monitor.

 

4

Di Yogya, memang sedang tidak hujan, sedang kemarau. Namun sepertinya tidak bagi hatiku sekarang. Sepertinya aku sudah tenggelam. Ah, aku terlalu biru.

Tapi, secara sengaja, atau kebetulan yang disengaja tiba-tiba aku menemuimu, orang aneh yang entah di mana asalnya. Kemudian perlahan merenggut keperawanan rasaku. Jangan diartikan negatif, aku hanya jatuh cinta. Dia seolah tak mengerti tentang cinta, dia hanya orang idiot yang egois dan suka memaksa.

Seperti malam ini. Dia memaksaku untuk mengartikan dirinya, padahal kami sudah lima bulan menjalani hal yang tidak biasa. Aku sudah menganggapnya seperti sahabat, kakak, adik, ayah sekaligus ibuku, bahkan yang lebih parah lagi, aku sudah menganggapnya sebagai, kekasih. Meskipun kita berada di kota yang tak sama.

Jadi, kupikir, selama ini kami sudah menjalin sebuah ikatan. Namun, aku sadar akan kenyataan, aku tidak bisa egois seperti dia. Aku tidak bisa menjalani hubungan dengan jarak yang begitu jauh. Mungkin bintang selalu mendampingi rembulan, tapi dia? Mengerti kan?

Aku selalu merasa pilu setiap kali membuka layar laptop, selalu terbayang senyum dengan gigi yang agak renggang menyapaku riang, walaupun saat itu aku tahu dia sedang kelelahan.

Maaf, apakah kamu mempunyai tissue?

Kembali lagi ketopik ceritaku. Sebenarnya aku benci, namun tak sepenuhnya. Aku rasa, aku hanya sedang rindu. Terakhir kali aku melihat sosok itu adalah sesaat sebelum aku membanting layar laptop ketika dia meninggikan suaranya yang membuat hatiku semakin tidak krasan, dan aku merasa harus meninggalkannya.

Kalau kau kenal dengannya, tolong jangan ceritakan apa yang telah kuceritakan padamu, okey?

Mungkin ini adalah pesan terakhir yang akan aku sampaikan kepada orang itu. Tapi, maaf ya, aku tidak ingin menyebut namanya. Nanti, kau bisa lihat dari alamat dan nama yang tertera diamplop saja.

 

Untuk, Araya Abimanyu:

Hay cowok sok kuat, ini surat dariku. Aku harap kau menerimanya.

Aku masih ingat bagaimana kita bertemu, tidak, tidak, tapi bagaimana perasaan kita dipertemukan. Kau masih ingat? Aku tahu kau masih mengingatnya.

Oh ya.

Akhir-akhir ini aku sering memikirkanmu, jangan ge-er dulu.

Beberapa malam kemarin kita sempat bersitegang, kan? Aku yakin kamu masih ingat.

Tapi, percayalah padaku, maksudku, aku tidak ingin menyakitimu lebih dari ini, karena aku tidak ingin menjadi paku, paku yang menusuk hatimu.

Aku juga tidak ingin menjadi dinding yang setiap malam menghantuimu dan menjadi teman berdialogmu, sehingga ketika kita berbicara, kamu jadi begitu kaku.

Aku juga tidak ingin membuatmu roboh dan berantakan, ataupun berserakan. Sebaliknya, aku ingin menyatukan hatimu yang telah hancur saat silam, namun kenyataanya, sekarang aku malah menghancurkannya lagi. Maaf.

Cinta memang kuat, terutama cintamu. Seharusnya cinta bisa mengalahkan jarak. Tapi, bagaimana denganku? Aku lemah, terlalu lemah, bahkan aku menangis ketika kau bilang bahwa kau sedang menahan rindu dan benar-benar ingin jumpa denganku. Namun, pada kenyataannya kita tidak mampu bertemu, tidak bisa berpelukan, berciuman, atau hanya sekedar saling genggam.Maaf.

Apa kamu sudah mengerti tentang jarak?

Kalau sudah, tolong beritahu aku.

Tapi, jangan berusaha menemuiku, melalui doa saja. Aku pasti mendoakanmu.

Maaf sekali lagi, saat itu aku pernah berkomentar dan menciptakan cinta yang semu untukmu.

Tapi, percayalah, perasaan kita… tentu saja sama.

                                                           Yogya, Oktober’14

                                                         Putri Maria Yustrin

 

 

5

“Seharusnya pagi ini hujan,” aku berkata kepada Ibu.

“Memangnya kamu Tuhan!” jawab Ibu dengan ketus.

Aku berjalan kearah ruang tamu karena ibu biasanya sudah membuatkan secangkir kopi pahit kesukaanku dan meletakkannya diatas meja ruang tamu. Aku melihat ada selembar amplop putih bersanding dengan cangkir kopi milikku. Aku mengangkat dan membaliknya. Tertera namaku yang ditulis dengan tinta warna biru. Tidak ada nama pengirim. Namun di bagian pojok bawah tertulis bahwa aku harus membaca surat ini dengan ditemani secangkir kopi.

Ini sungguh aneh.

Aku segera berlari ke kamar, tidak lupa aku mengangkat secangkir kopi yang harumnya melekat di rongga hidung. Aku gugup sekaligus penasaran. Kubuka secara perlahan. Aku tidak mau merusak amplopnya. Barangkali ini surat dari penggemarku. Setelah berhasil mengeluarkan surat dari amplopnya, aku tertegun. Aku tidak mengira ini surat dari Maryus. Dia mengirimiku surat perpisahan. Dan dengan terpaksa aku membaca isi suratnya.

Dengan perasaan yang berantakan kuletakan surat itu di atas meja komputer. Lalu kugeser pandangannku kearah jendela. Tidak terasa hujan sudah sangat deras sehingga membuat kaca menjadi berembun dan terlihat lebih tebal dari biasanya. Aku tidak begitu menyadarinya. Mungkin karena pagi ini aku terlalu sendu. Seharusnya aku tak terlalu ragu untuk melepas Maryus. Kita sama-sama cinta, tinggal masalah siapa yang lebih kuat memahaminya. Dan satu hal yang perlu kuyakini sekarang, saat ini! Seharusnya cinta mampu mengalahkan jarak.

 

Iklan

4 pemikiran pada “Seharusnya Cinta Mampu Mengalahkan Jarak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s