Cappucino Cinta

Cerita Gue, Fiksi

Di CafeNista.

Saya masuk dan berjalan menuju meja yang sebelumnya sudah saya pesan. Malam ini Cafe tidak terlalu ramai, lumayan lah untuk acara nge-date pertama saya dengan Disha. Ya, ini pertama kalinya saya dan Disha bertemu. Sebelumnya, Disha adalah teman curhat yang saya kenal di Yahoo Messenger.

Disha anaknya cantik, baik, perhatian dan yang bikin saya berani untuk mengajaknya bertemu adalah karena dia sudah bisa membuat saya Move On dari Riri.

“Piyo, kan?” tanya Disha.

Seketika saya kaget, karena dari tadi saya bengong dan pikiran saya berkeliaran ke mana-mana.

Untuk kedua kalinya saya kembali bengong karena alasan yang lain, “Gile! Ternyata Disha suaranya empuk banget!” batin saya.

Iklan

Seharusnya Cinta Mampu Mengalahkan Jarak

Cerita Gue, Fiksi

1

Aku sering memainkan gitar dan bernyanyi di tempat ini, ruang dengan luas 4×6 meter persegi yang aku sulap menjadi panggung super megah hanya dalam hitungan detik. Dari sini, dari atas panggung, aku menyalami para gadis-gadis yang meneriakkan namaku. Tapi sekali lagi, semua itu hanya bisa aku lakukan di sini, di dalam kamarku. Sebenarnya, aku tidak bisa bermain gitar, suaraku juga tidak terlalu bagus, atau lebih tepatnya memang tidak bagus. Tidak jarang Ibuku sering protes ketika aku mulai bernyanyi.

Aku juga sangat menyukai Fotografi, hobi yang menurutku paling menguras energi, betapa tidak, karena dalam memotret aku harus bertaruh dengan momment ataupun komposisi yang ada. Aku lebih suka memotret landscape atau journal. Aku tidak suka memotret model setengah bugil yang mematung menuruti apa perintahku. Aku juga sangat mahir menggoreskan kuas di atas kanvas, melukis apapun yang terekam oleh memori otakku. Tapi aku lebih senang melukis wajah. Sebagian dinding kamarku penuh dengan lukisan wajah orang-orang dengan bermacam-macam ekspresi, mereka terabadikan disini. Disebagian sisi lainnya kutempelkan beberapa hasil fotoku yang menurutku, tentu tidak terlalu buruk.

Sesaat kemudian aku memandang Sang Dinding. Dan aku kaget setengah mati mendengar gema dinding yang menghasilkan suara semacam, berondongan pertanyaan.

“Lukisan sebanyak ini, mau diapakan?” tanya Sang Dinding yang membuat bulu tengkukku merinding.

“Tentu saja, untuk dinikmati!” dengan lantang aku bersuara.

“Siapa yang menikmati?” ia kembali bertanya.

“Aku!”

“Lalu?”

“Apa?!”

“Foto-foto itu?”

“Untuk diabadikan, tentu saja!” sahutku.

“Saya tersakiti dengan paku-paku ini!”

“Lalu mau bagaimana?”

“Lepaskan mereka, Tuan!” pinta Sang Dinding.

“Tidak! lalu apa gunamu?!” aku memaki dan memukul Dinding kamar, Arrghh! Sakit, batinku. Lagipula bagaimana bisa kau tersakiti? Kau begitu tebal, kau begitu dingin, kau begitu tinggi dan kokoh. Mustahil bisa menembus dan melukaimu.

WPAP Colongan

Artwork, Cerita Gue, True Story

Cuy! gue punya tebak-tebakan nih!

Ehem…

Kulit, kulit apa yang enak?

…?

Kulit bi loph, kulit bi loph, kulit bi, kulit bi, kulit bi loph…

…?

Eaaaa… Garing ya? Ya gitu deh, temen-temen gue juga pada bilang gitu. Katanya kadar kegaringan gue dalam melucu itu sudah melampaui batas. Tapi, yasudahlah 😦