Mau Ke Lantai Empat

Cerita Gue, Fiksi

SEWAKTU pertama masuk kuliah, gue dan Frans datang terlambat, kita berlarian mencari kelas. Karena masih baru,kita agak kebingungan dimana letak kelas kita. Teman gue, si Frans, dia lebih pintar dari gue, saking pintarnya dia mampu ngomong secara terbalik kalau sedang dalam keadaan genting. Seperti malam ini, Contohnya: “Jar! Dikit ngebut dong nya motor bawa!” Nahh, ini yang membuat Gue selalu berpikir keras kalau dia sedang kumat. ‘SELAMAT KITA!’ jerit Frans ketika dia melihat sosok yang penuh wibawa berdiri gagah di bawah guyuran lampu yang menggelantung dilangit-langit pos Satpam.‘Kita selamat maksud Lo?’ kata Gue. Frans hanya mengangguk mantap.

Kita berlari menghampiri Pak Satpam yang berdiri dengan wibawanya, dia terlihat membelai-belai rambut yang tumbuh di dagunya lalu menepuk-nepuk jidatnya yang terdapat bintik-bintik hitam persis seperti Biksu Shaolin, anehnya seakan tahu apa yang ingin kami tanyakan, sambil menunjuk-nujuk ke atas lalu dia menjerit ‘Lab komputer di Lantai tiga! Lantai tiga!!’. Tanpa berhenti lagi bahkan lupa mengucapkan terima kasih kita terus memacu langkah. Nurani gue terasa sedikit mengganjal, kenapa si Bapak Satpam itu bisa tahu tujuan kita? Belakangan gue tahu kalau sedang tidak bertugas dia berprofesi sebagai Orang Pintar. Berarti cocok kalau ngobrol sama Frans.

Langkah kita terhenti didepan pintu lift, kampus Gue keren kan ada liftnya hehehe. ‘Frans, naek Lift aja,’ kata Gue sambil memegang dengkul yang mulai otek. Frans mengangguk yakin. Kami saling pandang, semakin lama pandangannya semakin aneh dan menjurus nafsu. ‘Cukup!’ kata Gue. Frans kaget dan menundukkan kepalanya. Gue menepuk pundaknya, Gue bilang dengan penuh kasih putih utuk segera menekan tombol lift itu.

‘Pencet yang mana, Jar?’
‘Buset, Lo gak tau?!’
‘Kagak!, Gue belom pernah naek lift’
‘Ya udah kita naek tangga aja!’

Akhirnya, acara naik lift batal karena dua orang bodoh yang tidak pernah nonton tutorial naik lift yang baik dan benar. Gue berjalan ke arah tangga sementara Frans masih terpaku di depan pintu lift, entah apa yang ia harapkan. Gue tersenyum kasihan.

‘Jaaarrrrr!!! Selamat kita!’ jeritan frans menghentikan langkah kaki gue yang baru sampai anak tangga ke tiga, gue melengos kebelakang dan apa yang terjadi… Dia menari-nari dan menunjuk-nunjuk kearah cewek cantik yang berpakaian serba putih. Buset! Jangan-jangan ini mitos yang ada di kampus ini. Suster Ngesot! Tapi cewek ini gak ngesot. Malah, cantik.

Kemudian gue turun dan bertanya kepada cewek itu, ‘Ke lantai berapa, Kak?’ tangan gue menutup mulut Frans. ‘Lantai empat,’ katanya sambil menekan tombol bergambar panah keatas. ‘Kita sekalian ya, mau ke lantai tiga,’ dia hanya menganggukan kepalanya.

***

SESAMPAINYA di kelas gue merasa ada yang aneh dengan cewek yang baru gue temui tadi, setahu gue kelas di gedung ini kan hanya sampai lantai tiga, lantai empat itu kan atap gedung. Merasa ragu, gue bertanya kepada Frans, ‘Cuy, kelas Cuma ada sampe lantai tiga kan ya?’ kata gue, dengan pose tangan kanan di dagu ala Detective dan tangan yang satu lagi sibuk menggali harta karun (baca: Ngupil).

‘Iya! Gue merasa ada yang janggal nih!’ jerit Frans, saat itu dosen kita belum datang. ‘Gue merinding nih,’ kata Frans sambil menunjukan bulu kakinya ke gue.

‘Merinding kenapa? Pengen berak lo?’ kata gue, gak perduli.
‘Jangan-jangan… Hiiii….!!!’ Frans bergidik, ketakutan.

Sementara Frans ketakutan, gue juga ketakutan. Pikiran gue makin ngawur ketika mengingat disini ada mitos Suster Keramas, eh SusterNgesot, ehh… Yaudah Suster Ngesot lagi keramas. Terserah! Mungkin Suster Ngesot disini sudah melakukan terapi, jadi mereka bisa berdiri kayak cewek yang gue jumpai di depan pintu lift tadi. Segera gue buang pikirian tolol itu.

Tiba-tiba dari luar terdengar banyak langkah kaki berlari, suaranya membuat jantung bergetar. Dengan penasaran ala Detective Conon, gue keluar secara diam-diam, ketika gue nengok kebelakang… si Frans sedang orasi, ‘Ayo kita keluar, AYOOO!! SEGERAAA!!!’

Goblok!

Kemudian gue berlari menuruni tangga, terus berlari kearah orang-orang berkumpul yang membentuk sebuah lingkaran. Gue terus merangsek menembus kerumunan orang-orang itu. Begitu sulit hinga pada akhirnya gue mampu keluar dengan bagian kepala duluan. ASTAGA! Itu kan cewek yang tadi ketemu di lift. Wajah cantiknya kini hancur karena menghantam kerasnya aspal, kepalanya pecah berlumuran darah. Gue merasa sangat mual.

Malam itu kampus berduka, cewek yang namanya gue belum tahu itu tewas terjun dari atap gedung. Gue pikir kejadian kayak gini hanya ada di acara-acara TV yang gak jelas. Tapi sekarang benar-benar terjadi, persis di depan mata gue sendiri.

Untuk mengenang dan menghormati cewek yang belakangan gue tahu namanya adalah Rita, kegiatan kampuspun diliburkan selama tiga hari.

***

SEMINGGU setelah kematian Rita kegitan kampus mulai kembali normal, namun suasana terasa sedikit lebih menyeramkan, mungkin karena mitos Suster Ngesot dan ditambah lagi kasus kematian Rita yang tragis.
Setiap malam ketika ingin menaiki tangga gue selalu melewati lift dimana terakhir kali gue bertemu dengan Rita, saat itu pula bulu kuduk gue selalu merinding dan gue langsung lari ngibrit kalang kabut sambil menjerit-jerit seperti wanita.

‘Cemen! Hahaha,’ jerit Frans dari arah belakang. Gue langsung pura-pura jalan santai, bersiul, mainin Hand Phone seolah tidak terjadi apa-apa. Frans berlari mendekati, gue berjalan makin cepat berusa untuk menjauhinya karena orang ini termasuk deretan orang-orang teraneh versi on the road.

Kelas selesai, gue bergegas keluar lalu berjalan kearah tangga. Disana, disebelah tangga itu terdapat lift yang membawa gue dan Frans bertemu dengan Rita satu minggu lalu. Susana yang sebelumnya ramai seketika menjadi sepi, sayup-sayup gue mendengar jeritan Frans yang bilang kalau dia mau pulang duluan, suaranya begitu aneh dan terdengar seperti suara kentut yang keluar dari pantat yang sumbing.

Bulu kuduk gue kembali berdiri, bahkan hampir melompat ketika angin yang entah dari mana datangnya tiba-tiba menyeruak menghantam muka gue. Gue ingin menjerit, tapi tidak bisa, rasanya mulut gue seperti disumpal dengan kain yang amat banyak. Kengerian gue belum selesai, kaki gue terasa dingin, hidung gue mencium bau amis yang bercampur wangi-wangian kembang tujuh rupa.

‘Mau ke lantai empat?’ suara yang sangat parau terdengar begitu menakutkan. Kali ini badan gue sudah bisa di gerakkan, tanpa membuang waktu gue langsung ngibrit ke arah tangga dan menjerit tanpa suara.

Dua lantai sudah gue turuni, di lantai dasar mata gue menangkap sosok berpakaian putih, persis seperti yang digunakan Rita. Badan gue gak bisa bohong menutupi ketakutan gue. Gue langsung gak bisa gerak. Gue melihat secara langsung sosok itu melayang menerobos masuk kedalam lift tanpa membuka pintunya terlebih dahulu. Saat itu pula gue mampu menggerakan dengkul gue, secepat kilat gue lari dan langsung pulang.

Setelah kejadian kemarin malam sekarang lift ditempel kertas dengan tulisan “RUSAK!” Semua orang menaiki tangga, ketika gue berjalan dan menginjakkan kaki gue ke anak tangga ke empat, gue mendengar suara bisikan, ‘Mau ke lantai empat.’ Perasaan gue tidak enak, gue seperti sedang di perhatikan. Ketika gue nengok kebawah, kearah lift. BUSET! Disana berdiri sosok Rita yang memandang lurus ke gue dengan senyum pucat dan rambut yang menutupi sebagian wajahnya lalu dia melambai dan berbisik, ‘Lantai empat ya.’ Gue terus berjalan menaiki tangga. Sesekali gue sempatkan untuk melirik ke bawah, Rita masih berdiri disana, dan entah sampai kapan.

“Mau ke lantai empat?”

Masih sering gue dengar sampai saat ini.

Iklan

6 pemikiran pada “Mau Ke Lantai Empat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s